Monday, October 3, 2016

Isekai wa Smartphone to Tomoni Chapter 14 Bahasa Indonesia


Arc 2 : Perjalanan bersama Rekan


Chapter 14 : Anak Perempuan dan Permintaan Mengawal

Kami juga membantu mengubur mayat ke tujuh prajurit yang tewas di hutan terdekat. Kami tidak bisa membawa mereka bersama kami dan kami juga tidak bisa meninggalkan mereka.

Di antara tiga prajurit yang selamat, prajurit muda membuat kuburan diam-diam. Tampaknya salah satu di antara prajurit yang meninggal adalah kakaknya, kami menundukkan kepala kami ke makam yang telah kami buat itu.

Orang tua berambut putih yang berada di samping kami juga menundukkan kepalanya.

          “Kalian telah benar-benar menolong kami. Bagaimana caranya agar kami bisa membayar rasa terima kasih ini......”

          “Sudah, jangan khawatir. Namun, anda jangan terlalu memaksakan diri meskipun anda sudah sembuh, darah anda yang hilang masih belum pulih kembali.”

Aku berkata panik kepada orang tua yang terus menundukkan kepalanya. aku lemah jika menghadapi orang tua, itu juga sama saat berhadapan dengan Kami-sama.

          “Aku berterima kasih kepada kalian... terutama kepada Touya!  Karena telah menyelamatkan Jii, tidak hanya Jii, tapi kau adalah penyelamat diriku!”

TL Note : Cara bicaranya di akhiri dengan “warawa”, seperti Boa Hancock.

Gadis muda pirang itu memberikan kata-kata terima kasihnya dengan kata-kata yang sombong. Berpikir sambil memberikan senyum kecut, anak ini mungkin adalah putri dari keluarga bangsawan.

Kereta kudanya telihat lebih bagus jika dibandingkan dengan milik Zanuck-san, banyak prajurit yang mengawal, seorang orang tua yang menjadi butler, seorang gadis muda dengan sikap yang sombong, tidak ada keraguan tentang hal itu.

          “Maaf karena kami telat memperkenalkan diri.  Saya Reim dan juga sebagai pelayan di keluarga Duke Ortlinde. Dan perempuan ini adalah salah satu putri dari Duke, Sussie Elnea Ortlinde-sama de gozai masu.”

          “Sussie Elnea Ortlinde! Senang bertemu dengan kalian!”

Duke? Jadi dia seorang putri. Pantas. Mungkin karena si kembar dan gadis samurai yang berada di sampingku baru memahaminya, mereka menjadi kaku seperti batu.

          “...... Apa ada yang salah?”

          “Apa yang kau katakan... bagaimana bisa kau tetap tenang begitu?! Dia dari keluarga Duke, Duke!”

          “... Duke, dia adalah peringkat pengadilan tertinggi... tidak seperti gelar lainnya, gelar itu pada dasarnya hanya diberikan kepada anggota keluarga kerajaan, desu...”

Kerajaan... kah?

          “Memang, ayahku adalah Duke Alfred Ernes Ortlinde adalah adik dari baginda raja.”

          “Jadi itu berarti kau keponakan raja. Itu luar biasa.”

          “... Kau tidak terlihat sangat terkejut Touya. Dia adalah orang yang penting.”

Eh? Si kembar dan gadis samurai mereka secara bersamaan berlutut ketika aku berbalik untuk melihat ke belakang, menundukkan kepala mereka. Eh. Dogeza? Bukankah itu tidak bagus, jika kita bertingkah sampai seperti itu?

          “E......tto, Sussie... sama? Apakah saya juga harus...... melakukan itu?”

          “Sue tidak apa-apa. Ini bukan tempat untuk melakukan formalitas, itu tidak diperlukan. Keigo tidak diperlukan. Seperti yang telah aku katakan sebelumnya, Touya dan semuanya telah menjadi penyelamat hidupku. Sejujurnya, kitalah yang seharusnya menundukkan kepala. semuanya, kalian sudah dapat mengangkat kepala kalian.”

Ketiga orang itu mengangkat kepala mereka ketika Sue berkata seperti itu. mereka sudah meredakan ketegangan, namun mereka masih tetap saja canggung.

          “Meski begitu, kenapa putri dari Duke bisa berada di tempat seperti itu?”

          “Aku baru kembali dari tempat nenekku, ibu dari ibuku. Ada sesuatu yang harus aku selidiki. Aku tinggal selama sekitar satu bulan, dan sekarang sedang dalam perjalanan kembali ke ibukota kerajaan.”

          “Saat itulah anda diserang... jadi itu bukan sekedar bandit.”

Diserang oleh pencuri yang bahkan menggunakan sihir pemanggil, itu agak sulit untuk membayangkannya. Selain itu, ada begitu banyak manusia kadal, namun pada kenyataanya pelakunya hanyalah seorang pria berjubah hitam. Jika kau berpikir bahwa serangan itu ditujukan kepada putri Duke maka itu benar. Tujuan mereka mungkin seperti pembunuhan atau penculikan.

          “Karena para penyerang sudah mati, siapa dia, dan siapa yang memerintahkan dia, itu semua sudah tidak bisa diketahui sekarang.”

          “Aku minta maaf......”

Yae menundukkan kepalanya dengan suara `shun’. Ah, itu Yae yang telah menebas kepalanya sampai terbang. Tentu saja, jika dia telah ditangkap dan dibuat untuk mengakui berbgai hal, kita mungkin bisa mengetahui siapa pelaku yang ada di balik semua ini.

          “Tidak usah khawatir. Aku berterima kasih kepadamu. Kau telah mengalahkan dia dengan mengagumkan.”

          “Anda tidak pantas berkata seperti itu... akulah yang seharusnya berterima kasih.”

Yae menundukkan kepalanya lagi.

          “Lalu? Apa yang akan kau lakukan mulai dari sekarang?”

          “Mengenai masalah ini... de gozaimasu ga.”

Reim yang mendekat ke depan membuka mulutnya dan meminta maaf.

          “Lebih dari setengah pejaga telah dikalahkan, jika tetap seperti ini dan kami diserang dengan cara yang sama, kami tidak bisa melindungi Ojou-sama. Oleh karena itu, saya ingin meminta Touya-san untuk mengawal kami. Bayarannya akan tergantung sampai atau tidaknya kita ke ibukota kerajaan, dapatkah kami meminta permintaan ini?”

          “Mengawal... itu....”

Nah... tujuan kami juga sama, itu akan merasa tidak enak untuk meninggalkannya seeperti ini. Aku kira tidak masalah bagiku, tapi aku ingin tahu pendapat yang lainnya.

          “Apakah tidak apa-apa?  Lagian kita juga akan pergi ke ibukota kerajaan.”

          “... aku tidak keberatan.”

          “Aku hanya ikut sepenjang perjalanan. Aku akan mempercayakannya kepada Touya-dono de gozaru yo.”

Tampaknya tidak ada yang keberetan.

          “Baiklah. Kami akan menerimanya. Mohon bantuannya sampai ibukota kerajaan.”

          “Umu! Demikian juga dengan kami, mohon bantuannya!”

Aku tersenyum sambil berkata begitu.

Kedua kereta kuda terus berjalan maju. Di bagian depan adalah keluarga Duke dan di belakang adalah kereta kuda kami serta tiga prajurit dan satu pasukan berkuda memandu kami.

Aku naik di kereta kuda Duke dan aku telah diputuskan untuk mejadi pengawal pribadi Sue. Hal ini dipilih karena aku bisa menggunakan sihir serta pedang.

Duduk di kursi kelas satu yang tidak pernah aku rasakan, Sue duduk di depanku bersama dengan Reim-san yang berada di sampingnya.

          “... Dan, itulah bagaimana sang ksatria Momotaro yang baik mengalahkan Monster Ogre, dan memperoleh harta yang banyak dan kembali ke desa.”

          “Ooh! Itu sangat bagus!”

Sue bertepuk tangan dengan gembira. Aku ingin tahu apakah ini akan baik-baik saja. Aku memutuskan untuk berbicara tentang kisah-kisah heroik yang diturunkan secara turun temurun di tempatku berasal, karena aku diminta untuk bercerita, jadi aku bercerita tentang Momotarou. Aku khawatir apakah dia akan menyukainya, tetapi tampaknya dia senang dengan itu.

          “Bisakah kau menceritakan cerita menarik lainnya?”

          “Hmmm... ini juga merupakan kisah masa lalu... di sebuah kota di negara tertentu, hidup seorang Cinderella ...”

Dalam dunia di mana sihir adalah hal yang umum, aku tidak berpikir aku akan menceritakan sebuah cerita di manah ada seorang penyihir. Tampaknya dia senang, aku rasa itu bagus.

Setelah itu, aku menceritakan semua dongeng yang aku tahu, aku akhirnya menceritakan manga dan anime yang popoler saat mengganti ceritanya.

Aku melihat sebuah kastil di langit! Jujur aku terkejut ketika aku mulai menceritakan itu tapi Reim-san menenangkannya.

Sepertinya Ojou-sama menyukai cerita tentang sebuah petualangan.

Kereta kuda yang membawa kami ternyata menuju ke ibukota kerajaan dan ke arah utara, kita terus maju ke arah utara.




Kembali ke Chapter 13                                                Menuju Chapter 15

Related Posts

Isekai wa Smartphone to Tomoni Chapter 14 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh