Sunday, December 25, 2016

Isekai wa Smartphone to Tomoni Chapter 57 Bahasa Indonesia


Arc 8 : Negara Suci Ishen

Chapter 57 : Hujan Cahaya dan Pesan Rahasia




            “Ngomong-ngomong, prajurit yang bercampur dengan musuh, apakah mereka dimanipulasi oleh topeng demon?”

            “Kami tidak tahu. Tapi, tidak peduli apakah kau menusuk mereka dengan tombak atau memotong lengannya, jika topeng itu masih belum rusak maka mereka tidak akan berhenti bergerak. Seolah-olah merteka seperti mayat yang berjalan.”

Shigetaro-san meggelengkan kepalanya saat menjawab. Jadi pada akhirnya mereka itu seperti zombie. Dan Rin bersandar keluar dari benteng dan menatap para prajurit bertopeng.

            “Fuun..... Ini adalah semacam sihir non-atribut.... Atau mungkin sebuah [Artifact]”

            “[Artifact] ?”

            “Itu adalah sesuatu yang diwariskan dari peradaban kuno, itu adalah alat sihir yang kuat. Bukankah kau juga memiliki [Artifact] ?”

Dia menunjuk kepada smartphone yang ada pada tanganku, dan aku secara alami tersenyum dalam menanggapi pertanyaan itu. Bagian dari peradaban kuno, ya? Sesuatu yang dapat digunakan untuk mengendalikan mayat seperti boneka, topeng mereka mungkin berfungsi sebagai penerimanya.

            “Yah, pokoknya topeng itu benar-benar sebuah masalah. [Paralyze] tidak bekerja, jadi aku harus menghabisi mereka semua sekaligus”

            “.... Apa kau bilang?”

Shigetaro-san menatapku dengan aneh, sementara aku mencari [Pasukan bertopeng Takeda] dengan aplikasi pada peta. Pin mulai berjatuhan seperti hujan pada layar di sekitar benteng, dan setelah menyentuh salah satu dari mereka, akhirnya mereka semua telah terkunci.

            “Ap-apa itu.....?”

Seseorang bertanya sambil melihat ke arah musuh, ada banyak lingkaran sihir yang mengapung di langit. Penguncian dengan [Multiple] telah selesai. Aku mengangkat tangan ke langit, mengkonsentrasikan sihir pada tanganku dan melepaskannya sekaligus.

[Keluarlah cahaya ~ Tombak suci yang bersinar ; Shining Javelin!]

*KAA!* dan dari semua lingkaran sihir yang telah dialirkan, keluar tombak cahaya yang menyerang pada taget. Seolah-olah itu adalah hujan cahaya.

Tanah bergetar dengan seuara gemuruh *dododododdodododdododododododdododododo*  Cahaya yang cemerlang dan menyilaukan itu terlihat indah. Setelah hujan cahaya mereda, lebih dari setengah pasukan Takeda telah dimusnahkan, mereka tidak dapat bergerak lagi. Dan tanpa ragu, kemudian aku melakukan pencarian untuk [Pasukan Takeda] dan mengunci mereka.

            “OK, sekarang giliran [Paralyze] 








Para pasukan normal yang tersisa tiba-tiba menjadi mati rasa, dan jatuh tepat di mana mereka berada. Beberapa pasukan yang memiliki pelindung terhadap sihir menyaksikan pasukan yang lainnya telah terjatuh, dan mereka lari dengan kecepatan penuh.

Untuk sementara, seluruh pasukan Tokugawa terkejut di dalam benteng. Setelah memahami apa yang baru saja terkadi, semua orang meneriakan suara kemenangan bersama-sama. Ini adalah campuran dari kesenangan dan kelegaan yang bergema di seluruh benteng.

            “Barusan.... Apa yang telah kau lakukan....?”

Shigetaro-san bertanya dengan suara serak. Itu sulit dipercaya dengan menyaksikan apa yang baru saja telah terjadi di depan benteng, bahkan setelah melihat dengan mata kepala mereka sendiri.

            “Yah, seperti yang kau lihat. Aku benar-benar tidak ingin membuatnya menjadi repot, jadi tolong untuk tidak menyebarkannya.”

Aku menjawab pertanyaannya, dan Elsie menjawab dengan tangan pada pringgangnya dengan nada yang jengkel.

            “Ini akan terlihat konyol jika kau merasa terkejut lagi”

            “... Kau berkata begitu setelah semua yang terjadi......”

Lindsey dan Elsie saling setuju satu sama lain, kami telah datang sejauh ini, jadi mengapa kalian harus repot-repot untuk menegurku....? Apakah kau benar-benar harus berkata seperti itu? Aku merasakan perasaan aneh yang tak terlukiskan ketika aku melihat pasukan yang sedang merayakan kemenangan di benteng.

            “Pertama-tama, karena kalian telah membantu, aku dengan tulus ingin mengucapkan terima kasih”

Di menara benteng pada istana (meskipun itu hanya lantai yang terbuat dari kayu yang sekitar 15 tatami) ada seorang pria dengan kumis kecil yang berusia sekitar 40 tahun, ia berada di kursi kehormatan membungkuk dalam-dalam, Tokugawa Uchitake. Selama menjadi master dari benteng ini..... dia juga adalah salah satu dari pemimpin feodal. Dia memiliki pengucapan yang sama dengan Uchitake, tapi dengan karakter yang berbeda.

            “Tidak, kami baru saja datang ke sini secara kebetulan. Jadi anda tidak perlu mengkhawatirkannya.”

Salah satu yang berbicara dengan Uchitake, yang duduk di depan kami adalah Yumina. Dari sudut pandang Puteri Belfast, kami hanyalah pengawalnya, yang membuat lebih mudah bagi mereka untuk memahaminya, kehebatan bersosial Yumina ini telah menghemat setiap waktuku. Yae sendiri adalah pengawalnya, karena bantuan yang datang dibiarkan seperti itu. Karena kami sepakat dengan itu, dan membiarkannya seperti itu.

            “Meski begitu, agak mengejutkan bahwa Yae adalah pengawal dari Puteri Yumina..... sungguh”

Duduk di samping Uchitake itu adalah Kokonoe Omuhue, seorang pria yang berusia sekitar 40 tahun, ayah Yae. Dia melayani Keluarga Tokugawa sebagai instruktur teknik pedang sepertinya. Dulu juga ia pernah menjadi instruktur di Keluarga Sodderck Viscount di ibukota, jadi ia mungkin mengetahui pengetahuan tentang Belfast.

            “Lalu, siapa itu..... Orang yang telah menyelamatkan bentengku......?”

Uchitake-san menatapku yang berada di belakang Yumina. Aku harap kau akan berhenti menatapku dengan penampilan yang penuh dengan rasa ingin tahu itu.

            “Dia adalah Mochizuki Touya-san. Dia juga adalah pengawalku...... bagaimana aku harus mengatakannya, ya.... Dia adalah calon suamiku”

Kya, pipi Yumina memerah saat ia memutar tubuhnya, Ooi! Kau tidak perlu mengatakan hal itu, kau tahu!? Hoo? Aku bisa mendengar suara kekaguman dari mereka. Tunggu, tidak, tidak, ada apa dengan reaksi itu?

            “Aku mengerti. Jadi dia adalah tunangan dari Puteri Belfast, maka tidak ada masalah untuk mengakui pencapaiannya. Itu benar-benar terlihat indah.”

Pujian dari Uchitake membuat dada Yumina semakin melambung saat dia mendengarnya. Tolong hentikan.... itu adalah sesuatu yang benar-benar tidak bisa aku katakan. Rasanya aku seperti sedang disiksa.

            “Ngomong-ngomong, aku ingin bertanya, apakah anda tahu di mana [Reruntuhan Niruya] ? Kami sedang mencarinya, jadi kami datang ke Ishen.....”

            “Niruya.....?”

Yumina betanya kepada Uchitake, setelah beberapa saat, dia memukul lututnya seolah mengingatnya.
            “Aa, reruntuhan itu merupakan peninggalan dari Niraikanai, tapi aku tidak benar-benar tahu banyak tentang itu..... Bagaimana denganmu Omohue?”

            “Tentunya..... [Reruntuhan Niruya] itu ada di walayah Shimazu. Namun itu berada di dasar laut. Aku pikir itu tidak mungkin untuk memasukinya....”

            “Dibagian bawah laut!?”

Apa itu, ada sebuah kuil di dasar laut, kau bilang? Atau ada jalan yang muncul saat air pasang keluar?
Yah, karena aku belum pernah ke sana, jadi aku tidak mengetahuinya. Lagi pula jika kita tahu lokasinya, kita harus segara pergi—jika tidak

            “Pasukan Takeda, apakah anda  pikir mereka akan segera mundur?”

Aku bertanya pada Uchitake-san yang melipat tangannya.

            “Sepertinya begitu, karena mereka terlihat seperti akan berkumpul kembali, dan kemudian menyerang lagi. Mereka mungkin akan meningkatkan jumlah pasukan topeng demon dan mungkin juga akan membawa meriam......”

Bahkan jika mereka meningkatkan jumlah pasukan, mereka masih bisa dimusnahkan. Tapi meriam adalah sebuah masalah, aku tidak berpikir bahwa itu bisa dihancurkan.

            “Tapi terlepas apakah itu pasukan demon atau invasi yang mendadak, aku masih tidak bisa mengerti. Pemimpin Takeda, adalah salah satu dari 4 Jenderal terkemuka, juga disebut sebagai salah satu dari 4 raja Takeda. Tapi kali ini tidak seperti Shingen-dono yang merupakan salah satu yang bertempur. Sepertinya rumor tentang mereka itu benar......”

            “Rumor?”

Uchitake-san bergumam keras dalam menanggapi pertanyaanku. Omohue-san adalah orang yang bertanya itu.

            “Ada rumor bahwa Shingen-dono sudah mati. Dan mayat bersama dengan pasukannya sedang dimanipulasi oleh ahli strategi mereka, Yamamoto Kanjou”

            “Yamamoto Kanjou......”

            “Topeng demon yang kau lihat pada para prajurit itu, bukan suatu hal yang mustahil. Itu mungkin semacam sihir yang mengkhususkan diri dalam memanipulasi mayat atau semacam [Artifact]”

Setelah mendengarkan penjelasan Omohue-san, Rin mengungkapkan pendapatnya sendiri. Tentunya dengan banyaknya mayat, itu akan dapat dipercaya. Mengambil alih Takeda dan menyatukan Ishen? Serius, jika kita tidak melakukan sesuatu tentang pasukan Takeda, maka kita tidak akan bisa pergi dengan tenang.

            “Jadi, jika kita menangkap Yamamoto Kanjou, maka kita dapat membereskan kekacauan ini?”

            “Kemungkinan besar begitu..... tapi tentang kematian Shingen-dono, itu hanyalah sekedar rumor saja. Kanjou sendiri bersembunyi di tempat Takeda, di kediaman Tsutsujigasaki dan tidak pernah pergi. Kau tidak akan berpikir untuk menyelinap masuk dan menangkap dia........”

Muu, itulah apa yang aku rencanakan. Apakah itu benar-benar terlalu berbahaya? Aku pikir kita bisa menyelinap dengan menggunakan [Gate] dan [Long sense] saja. Tapi akan lebih baik lagi jika ada sihir yang memungkinkanmu untuk bisa menghilang, sehingga kau tidak akan ditemukan......aa.

            “Rin, kalau tidak salah, sayap mu tidak dapat dilihat karena sihir cahaya. Bisakah kau menggunakannya pada seluruh tubuh?”

            “Bisa. Cahaya dapat dibuat membelok di sekitar objek, menutupinya, tapi jika kau menyentuhnya, maka itu akan terlihat.”

Aku mengerti. Jadi mungkin untuk membuatmu menjadi tidak terlihat. Kalau begitu akan menjadi mudah untuk menyelinap? Sekarang aku sudah memikirkan rencana untuk menyelinap ke markas musuh. Terlepas jika itu adalah musuh atau sekutu, jika bisa meminimalisir kerusakan maka itu akan lebih baik.

            “Apakah kau berniat untuk menyelinap ke markas musuh?”

Lindsey bertanya kepadaku seolah-olah dia bisa membaca pikiranku. Apakah mereka sudah mengetahuinya?

            “Jika Yamamoto Kanjou adalah orang yang benar-benar berada di balik semua ini, maka itu akan menjadi mudah.”

            “Yah, tapi.......”

Aku yakin dia mengkhawatirkanku, tapi mungkin akan baik-baik saja. Karena aku bisa lari menggunakan [Gate].

            “Masalahnya adalah Tsutsujigasaki? Bagaiamana caramu agar bisa sampai ke sana. Apakah kau pernah ke sana, Yae?”

            “Tidak, aku belum pernah ke sana. Bagaimana dengan ayah?”

            “Aku juga belum pernah ke sana..... memangnya ada apa?”

            “Jika ada orang yang pernah pergi ke Tsutsujigasaki, maka Touya-dono bisa menggunakan sihirnya untuk pergi ke sana secara langsung.”

            “Apa kau bilang....!”

Omohue-san dan Uchitake-san terkejut, dan sekali lagi menatapku. Aku benar-benar tidak ingin pergi ke sana, tapi jika aku ingin segera menyelesaikan urusan kami di Ishen, maka apa boleh buat, sepertinya aku harus melakukannya.

            “Aku bisa memandumu menuju Tsutsujigasaki”

Terdengar suara dari langit-langit. Suara itu datang dari orang yang tidak dikenal. Aku mengeluarkan Remington model baruku dan mengarahkannya ke langit-langit.

            “Siapa itu!”

Oo, itu seharusnya adalah perkataanku. Itu bukan aku yang mengatakannya, tapi Omohue-san yang mengatakan itu. Seseorang muncul dari balik bayang-bayang.

Wow, seorang ninja. Hanya dengan pakaian hitamnya saja, aku sudah bisa mengatahuinya. Namun tidak ada seorang pun dari kami yang menyadari keberadaannya,  mungkinkah dia menggunakan beberapa jenis sihir? Ninja itu melepas penutup wajahnya dan menunjukkan dirinya, dibalik penutup wajah itu ternyata seorang wanita yang cantik. Apakah dia adalah salah satu dari Kunoichi (Ninja perempuan) ?

            “Saya adalah salah satu dari 4 raja Tekeda, di bawah kepemimpinan Kousaka Masanobu-sama. Saya telah membawa pesan rahasia untuk Tokugawa Uchitake-sama”

            “Apa, Kousaka-dono!?”

Sambil berlutut, dia mengeluarkan surat dari dadanya dan menempatkannya di depan, kemudian mundur satu langkah. Dia adalah salah satu musuh dari pertempuran beberapa saat yang lalu. Kita tidak bisa gegabah. Omohue-san mengambil surat itu di lantai tanpa mengalihkan pandangan dari Konoichi itu, dan menyerahkannya kepada Uchitake.

Sementara itu, aku mengarahkan moncong pistol ku kepada Kunoichi sepanjang waktu. Yah, hanya untuk berjaga-jaga. Dia membuka surat itu, dan membacanya dengan ekspresi yang serius. Hanya saja, apa yang tertulis dalam surat itu?

            “Apa isi dari surat itu?”


            “Ternyata rumor itu benar. Pasukan Takeda sekarang telah menjadi pasukan boneka”




⟵Back         Main          Next⟶




Related Posts

Isekai wa Smartphone to Tomoni Chapter 57 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh