Friday, June 1, 2018

Hajimari no Mahoutsukai - Volume 01 - Chapter 13 Bahasa Indonesia






Chapter 13 – Adikuasa


Pahami, bayangkan, lepaskan.

Itulah sihir.



Gajah, adalah hal pertama yang terlintas dalam benakku saat mencoba membandingkan makhluk itu.

Mempunyai empat kaki tebal, tubuh besar, dan gadis panjang yang mencuat dari mulutnya.

Namun hanya sejauh itulah yang serupa dengan gajah-nya. Ditopang oleh leher panjangnya, kepalanya yang besar terlihat serupa dengan badak atau kuda nil. Ada tanduk yang mencuat juga dari pelipisnya layaknya sapi. Ekor buaya yang teramat panjang melengkapi rupanya.

Namun tetap saja, yang paling mencolok ialah ukurannya.

Biarpun merangkak, makhluk itu teramat tinggi sampai-sampai membuatku harus mendongak untuk melihat kepalanya.

Jangankan Guy, ukuran makhluk itu pasti sudah cukup untuk menindasku ke tanah.

            "Lempar, tombak. Mentor, terbang. Gigit."

            "Ah, jadi ujung-ujungnya aku juga yang harus menghentikannya......."

Guy menjelaskannya dengan singkat.

Guy dan yang lainnya akan mengepungnya dalam setengah lingkaran, dan melontarkan tombak mereka selagi aku menghadapinya.

Kami sudah berburu sejumlah binatang buas dengan menggunakan strategi ini sebelumnya.

Tapi buruan terbesar yang berhasil kami buru dengan menggunakan strategi ini adalah babi hutan, yang bahkan ukurannya kurang dari sepersepuluh makhluk raksaksa ini.

            "Mentor,kuat. Menang."

Aku ngerti kalau dia sangat mengandalkanku, tapi bukannya dia terlalu melebih-lebihkanku?

            "Ya sudah, ayo kita coba saja.... ulurkan tombak kalian."

Kulantunkan suatu mantera selagi mengeluarkan cengkraman telapak tanganku di hadapan kelima tombak yang diulurkan ke arahku.

            "Wahai tombak yang panjang, tajam, dan mampu menusuk apa pun. Tajamkan telinga engkau dan simaklah seruanku, berjemurlah dalam cahaya api milikku dan besinarlah dalam cahaya kemuliaan. Jadilah tombak yang tiada taranya, bidikan engkau takkan pernah goyah, serangan engkau tak dapat dihalau. Berbuatlah layaknya bintang jatuh, yang bahkan sanggup menusuk binatang buas paling besar sekali pun."

Lalu, begitu kuhembuskan napas api pada tombak-tombak dengan hati-hati, ujung tombak pun mulai bersinar merah.

Ini terjadi karena mantera yang kuciptakan.

Keefektivitasan sihir biasanya tak bisa langsung dilihat oleh mata. Maka dari itu, kerap kali sulit untuk mengetahui sebrapa lama efek sihirnya berlangsung.

Karena itulah kuputuskan untuk menambahkan cahaya sebagai salah satu efeknya.

..... Kalau itu menyangkut soal fiksi, hal-hal yang mempunyai cahaya usai diberikan sihir pada dasarnya merupakan hal yang pasti, namun sebenarnya terdapat juga alasan berguna di baliknya.

            "Kalian harus siap maju sebelum cahayanya meredup."

Membentangkan sayapku, aku terbang ke arah yang agak berbeda dan mengambil jalan memutar agar raksaksa tersebut takkan melihatku.

Oh iya, rasanya aku mesti memberi nama binatang buas ini.

Aku berkata begitu, tapi hanya ada satu nama yang muncul dalam benakku.

Behemoth.

Behemoth, monster dari Perjanjian Lama.

Terus terang saja, kuharap tak ada makhluk yang lebih besar dari makhluk ini.

Begitu kuterbang tinggi ke langit, Guy dan yang lainnya mengepung Behemoth dalam setelah lingkaran dan melontarkan tombak mereka padanya. Ujung tombak yang memancarkan cahaya mengoyak udara tepat seperti yang kubayangkan dan menusuk tubuh Behemoth tersebut.

            "Makhluk itu keras sekali, ya."

Gumamku saat melihat hanya separuh tombaknya saja yang menusuk makhluk itu.

Sihir yang kubayngkan adalah sihir yang akan membuat tombaknya bisa langsung menembus tubuh Behemoth, dan melesat keluar dari sisi lain tubuhnya.

Kenyataan itu semua yang terjadi sekalipun aku melantunkan mantera yang panjang dan memikirkannya dengan baik-baik hanya menunjukkan seberapa keras dan kuatnya kulit Behemoth tersebut.

Terus terang saja, aku bahkan tidak yakin apa taringku ini mampu menusuknya.

Beruntungnya, Behemoth itu tak mengalihkan tatapannya ke arah Guy dan yang lainnya. Malahan sebaliknya, Behemoth itu mulai kabur dari mereka.

Padahal jikalau Behemoth mau, ia bisa menghancurkan Guy dan yang lainnya, jadi aku merasa lega semuanya berjalan dengan baik-baik saja.

Diingat dari ukurannya, tombak-tombak yang menusukknya akan terasa seperti ditusuk oleh tusuk gigi. Biarpun begitu, kelihatannya ini pertama kalinya Behemoth merasa sesakit itu.

Mengikuti Behemoth yang kabur, aku mulai turun ke arahnya dengan menukik tajam.

Sekalipun aku ini pemburu yang payah, mana mungkin aku akan melepaskan buruan besar yang tengah berlari lurus menjauh dariku. Membayangkan diriku menggigit tenggorokannya, kutusukkan taringku ke lehernya.

            "Gyuuu....."

Suara aneh terdengar dari Behemoth saat udara yang bercampur dengan darah mengalir keluar dari lehernya.

Kerasnya!

Leher Behemot tersebut teramat keras, layaknya menggigit tiang besi. Kulitnya cukup keras hingga membuatku bertanya-tanya bagaimana bisa tombak yang tadi menusuknya.

Kugunakan segenap kekuatan rahangku untuk menekankannya, mendorong lebih dalam lagi taringku yang setengah tertusuk. Rasanya mengerikan, layaknya menggigit segulungan aluminium foil saja. Tidak hancur meskipin melawan kulit yang sangat keras menunjukkan bahwa taringku ini sangat kuat, tapi kekerasan kulit miliknya bahkan jauh lebih kuat lagi.

Saat kuberhasil menggigit sebagian kecil leher Behemoth tersebut, ia pun mulai mengayunkan kepala besarnya berupaya untuk melawan. Aku tak boleh membiarkan diriku terlempar, jadi kutusukkan saja cakarku padanya dan berhasil bertahan.

Lalu aku pun mendengar suara sayatan mengerikan, yang disusul dengan leher makhluk itu yang melunglai. Di saat-saat itu, aku meroobek sebagian daging yang tengah kutusuk dengan cakarku.

Timing-ku sangat buruk.

Aku kehilangan topangan dari mulutku serta cengkraman pada cakarku, dan terjatuh dari Behemoth tersebut selagi dagingnya masih berada di mulutku.

Saat kumencoba membentangkan sayapku untuk menangkap angin, bayangan besar melintas di atasku.

            "Ooooooooo!"

Getaran gemuruh menyertai suara raungan binatang itu.

Aku melihat pertunjukkan yang tak pernah kusangka akan kulihat.

Leher tebal nan keras yang bahkan tak mampu kugigit untuk menembusnya.... terpotong dalam satu serangan.

Kehilangan kepalanya, tubuh Behemot tersebut pun terjatuh ke samping dan menghantam tanah, yang menimbulkan raungan terakhir. Mengepakkan sayapku beberapa kali, aku pun turun ke tanah sembari memandang itu.

Dibandingkan dengan Behemoth, itu jelas kecil. Tapi biar begitu, tingginya masih sepantaran denganku.

Lengan dan kakinya setebal batang kayu, dan otot-ototnya bagaikan marmer yang dipahat.

Mempunyai rambut merah yang tak biasa dan surai mirip singa.

Jangankan Behemoth, perawakannya saja lebih kecil ketimbang beruang berzirah.

Akan tetapi

Akan tetapi, makhluk ini terlihat seperti gabungan gorila, singa, dan beruang—

 [Tch, aku meluputkan seekor kadal?]

—yang tampak jadi manusia.

[Bahasa Elf.... kau bisa bicara Bahasa Elf?]

[Oh, jadi kadal itu bisa bicara?]

Kelihatannya kami berdua saling mengejutkan satu sama lain.

Aku tidak tahu berapa usianya, tapi dinilai dari suaranya, secara tak diduga dia terlihat muda. Paling-paling sekitar dua puluhan.

 [Aku tak tahu apa itu Bahasa Elf..... tapi kau belajar dari orang bertelinga panjang juga, ‘kan?]

[Ya, begitulah. Aku tidak menyerang orang sembarangan, jadi tidak usah khawatir.]

[Hmm]

Mendengar tanggapanku, pria itu menjab balik dengan setengah hati.

Kami mampu saling berkomunikasi, tapi kelihatannya dia tak mempedulikanku.

Apa yang sudah memotong leher Behemoth itu ialah senjata yang terbuat dari bongkahan batu raksaksa.

Aku kurang yakin untuk menyebutnya kapak atau pedang, tapi yang jelas itu adalah senjata yang teramat besar dan diolah secara kasar.

Dan senjata tersebut sanggup memotong leher Behemoth itu meskipun taringku nyaris tak bisa menusuknya.

Tidak, yang sangat anehnya lagi adalah dia melompat setidaknya sepuluh meter dari tanah sembari menggenggam senjata besar itu. Tak peduli seberapa berototnya dia, seharusnya itu tidak mungkin.
Dia melakukan sesuatu yang mustahil.

Dengan kata lain, dia seorang ahli sihir juga.

—Serta seseorang yang adikuasa.

Terus terang saja, aku tidak yakin bisa menang melawannya.

[Hei, para brengsek. Keluar sini dan tangani makhluk ini.]

Saat pria tersebut menangkat tangannya ke atas dan berteriak, sepuluh pria atau lebih muncul dan mulai memotong-motong tubuh Behemoth itu.

[Tunggu sebentar. Kami duluan yang menyerang buruan itu. Kami tak keberatan hanya mengambail sebagian darinya, jadi bisa kita membaginya?]

Aku akan kesusahan jikalau makhluk yang cukup banyak menghabiskan waktu berburu kami ini diambil begitu saja.

 [Apa maksudnya itu?]

Ucap pria tersebut yang merasa tak puas dan memberiku tatapan tajam.

Tekanan yang kurasakan dari tatapannya jauh lebih berbahaya ketimbang yang kurasakan dari beruang berzirah.

Terus terang saja, aku cukup dibuat takut sampai mulai gemetaran, tapi aku mengukuhkan diriku dan menatap baliknya.

..... Meski aku sudah bersiap-siap untuk segera terbang.

[Eh, boleh saja. Lagian, aku juga bisa menghabisinya dengan mudah berkat kau yang berayun-ayun.]

Berkata begitu, pria tersebut memerintahkan para bawahannya untuk meninggalkan salah satu kaki belakangnya pada kami.

Aku merasa lega meski jantungku masih berdebar-debar. Itu bagian yang cukup besar sekalipun kami membagikannya ke semua orang di desa, kami akan mempunyai cukup makanan untuk beberapa hari. Lagian, mustahil buat kami untuk membawa pulang semua Behemoth itu, jadi ini hasil yang lumayan.

[Terima kasih. Ini sangat menolong.]

Kuberikan isyarat pada Guy dan yang lainnya untuk datang ke mari dan membawa kaki Behemoth tersebut.

[Hei, kau.]

Aku mendengar pria tersebut berbicara dari belakangku saat kami mulai membawa pulang dagingnya.

Dia takkan bilang kalau dia berubah pikiran, ‘kan?

[Mau datang ke desaku?]

Secara tak terduga, apa yang kudengar saat menoleh ke arahnya adalah sebuah ajakan.

⟵Back         Main          Next⟶




Related Posts

Hajimari no Mahoutsukai - Volume 01 - Chapter 13 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh