Monday, March 20, 2017

Yuusha-sama no Oshishou-sama Chapter 33 Bahasa Indonesia



Chapter 33

Mendekati Bayangan ③




Dua desa yang ada di dekatnya musnah oleh segerombolan monster.

Kabar itu disebarkan oleh pedagang keliling yang kebetulan melihatnya dan melarikan diri dari daerah yang diserang. Kepala desa segera menyampaikan keputusan untuk meninggalkan desa dan melarikan diri.

Tempat mereka melarikan diri adalah ke Benteng Nest.

Kepala desa menilai bahwa itu adalah tempat teraman semenjak Ordo Kesatria ditempatkan di sana.
Namun, monster berkaki empat bisa bergerak dengan cepat.

Untungnya, mereka dikawal oleh kesatria yang sebelumnya telah diberitahu, sehingga penduduk desa Torc bisa mencapai benteng.

Namun, penduduk desa melarikan diri dari tempat yang jauh di luar Desa Torc datang menopang luka yang serius.

Orang-orang yang berada di belakang yang putus asa menuju ke benteng di lukai oleh cakar dan gigitan besar dari rahang monster.

Bahkan banyak kesatria yang telah diberangkatkan untuk menyelamatkan penduduk desa tewas, satu demi satu.

Melawan sekerumunan monster yang mendekat yang terbukur di tanah, mereka harus sedikit membuka gerbang yang mereka perjuangkan sehingga para pengungsi bisa masuk.

Tapi pintu itu tidak berguna melawan monster yang bisa terbang, dan bahkan dinding batu yang besar tidak bisa diandalkan untuk menahan monster yang lebih besar.

Pertahanan kesatria mulai sangat berkurang, tapi bahkan anak seperti dia bisa melihat bahwa itu sudah tidak ada harapan.

Monster tak henti-hentinya merauung di luar benteng.

Di luar benteng terkadang bergetar.

Jika monster terbang menyerang, maka benteng akan hancur oleh monster.

Itu jika mereka berusaha untuk memperpanjang keputusasaan dan ketakutan mereka.

Beberapa orang, setengah gila karena putus asa, menyalahkan mereka yang ada disekitarnya.

Hanya untuk menghindari agar tidak dibunuh oleh monster, beberapa orang telah melompat dari menara utama, melakukan bunuh diri.

Di dalam benteng, ada salah seorang yang hanya bisa meringkuk dalam keputusasaan.

Gadis itu hanya bisa bergemetar.

Dia tidak menangis berteriak, tapi hanya menangis pelan, saat tubuhnya bergemetar dalam pelukan ibunya.

Terbang di atas, monster burung mengeluarkan teriakan yang mengerikan.

Setiap kali mereka mendengar teriakan yang aneh, orang-orang menundukkan kepala mereka dan merangkak di bawah.

Kemudian, ketika monster terbang, tanpa gagal, tatapan orang-orang tertuju pada menara utama.

Mereka mendengar dari kesatria bahwa orang yang telah dinyatakan sebagai Brave ada di sana.

Apa yang Brave lakukan?

Mengapa dia tidak segera mengusir para monster?

Dalam ketakutan, orang-orang mulai mengeluh terhadap Brave.

Semua orang, termasuk gadis itu, merasakan kemarahan terhadap keberadaan yang disebut Brave hanya berdiam diri di menara utama dan bersembunyi.

—Sampai mereka melihat gadis itu

Gadis itu berjalan melalui orang-orang, yang dikejutkan oleh pintu menara utama yang terbuka; punggungnya lurus, dan ekspresinya dingin.

Gadis itu umurnya sepertinya sama dengan dirinya, atau mungkin bahkan lebih muda.

Meskipun dia masih kecil, wajahnya yang cantik menunjukkan ketidak takutan, bahkan dalam menghadapi keadaan yang gawat tersebut, karena ia tersenyum untuk mendorong semangat orang-orang yang ketakutan.

Dia sendiri tidak tahu hanya dengan melihat penampilannya, tapi dari bisikan di sekitarnya, ia tahu bahwa gadis yang berjalan keluar dari menara itu adalah Brave.

Meskipun hanya melihat sekilas, penampilan gadis itu dengan jelas terbakar dalam pikirannya.
Dia berjalan menjuju gerbang benteng, dan dengan segera...

Monster meraung dan menjerit.

Dilanjutkan dengan sebuah ledakan.

Teriakan kematian monster terdengar.

Tidak ingin mendengar suara mereka yang diluar, mereka menutup mata mereka dan menutup telinga mereka; mereka terus menjaganya untuk waktu yang lama.

Akhirnya, suara di luar benteng berhenti—gadis yang dipanggil Brave membuka pintu gerbang dan kembali.

Tubuh gadis itu tertutupi dengan luka.

Dari rambut emasnya yang berkilau, yang seperti sinar matahari yang terkumpul, kulit putih mulusnya, seluruh tubuhnya ternoda oleh darah dari monster.

Seluruh tubuh gadis itu masih terus memancarkan semangat juang yang kuat, yang bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya tanpa sadar dan pergi tanpa berkata apapun, dan dia menyeret kakinya ke arah mereka.

Mengasihani penampilan itu, gadis itu ingin memanggilnya ketika—

            “Jangan!”

Ayahnya menarik lengannya.

Dia menatap wajah ayahnya, dan melihatnya penuh dengan rasa takut.

Dia menuruti kata-kata ayahnya, dan sekali lagi menatapnya.

Dia bahkan tidak bisa membayangkan betapa sulitnya pertempuran itu, dan luka-luka di tubuhnya pasti sangat menyakitkan.

Betapa mengerikannya untuk menghadapi maksud membunuh dari semua monster-monster.

Dia tidak bisa membayangkan itu.

Brave kembali setelah menghancurkan semua monster dan melindungi benteng, tapi bahkan tidak menerima kata terima kasih. Sebaliknya, tatapan semua orang dipenuhi dengan ketakutan yang sama dan ketakutan itu ditujukan oleh ayahnya...

Untuk siapa dia bertarung...?

Hanya satu orang, wanita elf temannya, pergi untuk memeluknya.

Kebetulan tatapan kedua gadis saling bertemu.

Pada saat itu, dia menyadari.

Mata gadis itu merah dan bengkak.

Meskipun begitu, gadis itu tersenyum ke arahnya, seakan menyemangatinya.

Air matanya sendiri tumpah keluar.

Pasti karena lega setelah semua ketakutan itu, dia mulai menangis.

Meskipun terluka sampai air mata keluar, gadis itu masih bisa tersnyum padanya.

Melihat sosok menyedihkan, air mata tumpah keluar.

Kelembutannya juga disampaikan pada pengasingan dan kesepian yang dia rasakan...

***

Sudah sekitar empat tahun sejak saa itu.

            “Kita selamat. Mereka dari Nest...”

Pada kata-kata itu, rasa takut dan putus asa dari waktu itu datang kembali.

Kemudian, dia memikirkan sang Brave, gadis yang seumuran dengan dia.

Apakah dia mampu mencapai kebahagiaan setelah mengalahkan Raja Iblis?

Gadis yang dikenal sebagai Brave mungkin tidak ingat saat mata mereka saling bertemu.

Tapi jika dia punya kesempatan untuk bertemu dengannya suatu hari nanti, dia akan menyampaikan rasa terima kasihnya.

‘Terima kasih banyak’

Hanya satu kalimat.

Dia teringat, berkat bantuannnya telah membuat dia bisa ke Nest.

Mungkin penduduk desa yang lainnya juga merasakan hal yang sama.

Itu tak terelakkan bahwa mereka telah tenang dari ketegangan.

Namun—

Dia merasakan perasaan tidak enak.

Orang tuanya gembira seperti penduduk desa yang lainnya..

Mereka entah bagaimana tertipu.

Tiba-tiba, dia memikirkan seorang anak laki-laki petualang yang usianya sama seperti dirinya yang telah berkuda ke arah yang berbeda.

Menurut percakapan antara ayahnya dan salah seorang warga, ada juga beberapa petualang yang pergi untuk memberitahu Kota Nest.

Mereka petualang yang masih muda, dan juga telah naik kuda untuk pergi ke Kota Nest.

Namun, seharusnya bukan prajurit kekaisaran yang ditempatkan di Nest yang menunggang kuda di sana?

Ketika ia mencapai kesimpulan itu, ia merasakan ketakutan.

‘Mereka mungkin adalah sekutu bandit!’

Pada saat ia tiba pada kesimpulan itu, para kesatria yang menunggang kuda telah mencapai kelompok mereka.

            “M-Mereka bukan dari Nest!”

            “Uwaaaaaaaaaaaa! Mereka dari Petersiaaaaaaaaaaaa!!!”

Penduduk desa mencoba untuk melarikan diri, tapi terinjak-injak sampai mati atau ditusuk oleh tombak.

            “GAAAAAH!!”

            “Ayah! Ki—“

Ayah gadis itu terhempas oleh kuda dan gerobak yang tersentak, sehingga tubuh yang lemahnya itu juga teguling ke samping.

Dengan tabrakan itu, semua barang-barang berserakan di udara, saat gerobak terbalik.

Dia secara samar-samar menyadari gerobak jatuh padanya—kemudian, semuanya berubah menjadi gelap.

Ketika gadis itu kembali sadar, di sekelilingnya gelap.

Tidak, ada sedikit cahaya.

Dia segera menyadari bahwa cahaya itu berasal dari celah kecil di antara gerobak dan tanah.

‘Apa yang sedang terjadi?’

Melihat ke sekitar saat ia mengangkat bagian atas tubuhnya, ia teringat apa yang telah terjadi.

Mereka diserang oleh orang-orang yang sepertinya merupakan sekutu bandit.

Dia ingat ayahnya yang telah terhempas dengan kejam oleh kuda.

            “...!!!”

‘Ayah!’ Dia hendak memanggilnya, lalu dengan cepat menutup mulutnya.

Dia bisa mendengar suara langkah kaki logam di sekitarnya.

Para penyerang itu masih ada.

Ketika ia mendengarnya dengan teliti, dia juga bisa mendengar isak tangis dari gadis-gadis muda.

Selain itu, ada beberapa orang dari mereka.

Dia mengenali beberapa suara. Dengan menggigil, dia meringkuk seperti menjadi bola.

‘Aku takut’

‘Aku tidak ingin mati’

‘Selamatkan aku’

‘Menakutkan... menakutkan’

‘Di mana ayah dan ibu?’

‘Jangan datang ke sini’

‘Itu menyakiktkan’

Pikirannya teringat pada pengalamannya.

Tidak seperti di Benteng Nest, dia tidak memiliki orang tua untuk dipeluk.

Sepertinya ia bersembunyi di ruang gerobak yang terbalik.

Ada sedikit bagian yang rendah di samping jalan.

Ketika gerobak dibalikan, ia kebetulan terlempar ke bagian yang rendah, dan gerobak akhirnya menutupinya.

Berkat posisi sempurna dari gerobak pada tanah, dia pergi tanpa diketahui oleh orang-orang yang menyebabkan bencana ini.

Jika dia telah ditemukan...

Meskipun dia tidak pernah mengalami itu sebelumnya, dia bisa memahami apa yang terjadi di luar.

Dia pasti akan menderita jika tertangkap.

            “Itu karena kami takut, Komandan. Mereka menuju ke Kota Nest”

            “Sebelum kita membungkusnya, kita harus memastikan tidak ada yang tahu siapa yang melakukannya. Itu bagus bahwa mereka adalah petualang perempuan, tapi lebih baik kita biarkan para bandit yang menangani sisanya”

            “Baik!”

Mereka berbicara di suatu tempat di dekatnya.

Dia menahan napas, gemetar.

Isak tangis dia tidak diketahui petualang yang telah pergi sebelum mereka.

Dengan kata lain, peringatan tidak mencapai Nest.

Harapan para petualang yang berada di desa tanpa mengharapkan bala bantuan, bertempur tanpa harapan, yang tak terpenuhi.

Dia menangis dengan tenang.

Itu memalukan.

Bahkan, dia tidak bisa melakukan apa-apa.

Dia hanya bisa terus menunggu di parit, bahwa ia telah beruntung jatuh ke sana, sampai orang-orang yang menyerang penduduk desa pergi.

Kali ini, tidak ada gadis itu, Brave, untuk menyelamatkannya.

Dia hanya bisa menahan napas dan tetap bersembunyi.

Sementara menutupi telinganya, untuk tidak mendengar teriakan para gadis dari desa, dan para petualang perempuan.



⟵Back         Main          Next⟶

Related Posts

Yuusha-sama no Oshishou-sama Chapter 33 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh

1 komentar:

March 20, 2017 at 8:27 PM delete

mantap nih langsung 3 chapter :v

Reply
avatar