Tuesday, October 23, 2018

Hajimari no Mahoutsukai - Volume 01 - Selingan Bahasa Indonesia


Selingan – Rembulan yang Tersembunyi di Balik Mega


Malam bulan purnama tak berawan.

Akan bagus bila ada anak angin musim gugurnya.

Nasib baiknya, kondisi terbaik untuk menenun bulan didapati sepuluh hari sebelum perhelatan dimulai.

Cahaya bulan hinggap di ujung jari tanganku, lalu mengitari gelendong yang kubuat dari cabang pohon.

Hoshizora ni Shita, Kimi no Koe dake wo Dakishimeru Chapter 4 Bahasa Indonesia





Chapter 4 – Pintu Menuju Eina

            "Lima tahun yang lalu terjadi topan besar di bulan Oktober, dan di hari itu ada bencana longsor sewaktu Eina pergi dari rumah malamnya. Kau ingat bencana longsor itu, ‘kan?"
            "… Ya, aku ingat."
            "Bencana tersebut diberitakan juga di koran, dan seorang gadis telah dinyatakan hilang. Dinilai dari situasinya, kemungkinan besar dia tertimbun longsor tersebut."
            "Jadi, begitu.."
            "Maafkan aku, Shuu."
            "Makasih atas semuanya. Aku… senang bisa mengenalnya. Senpai juga, makasih."
            "Shuu-kun…"
            Dia kelihatan enggak bisa mencari kata-kata yang tepat. Itu bisa dimaklumi.
            Aku juga sudah bersemangat, mengatakan sesuatu seperti ‘Dia itu gadis seperti apa, ya.’ atau ‘Aku ingin membicarakan soal buku-buku kesukaan kita sebertemu dengannya nanti’.
            Aku merasa enggak enak karena mengabaikan perasaan mereka.
            Sepulang dari rumahnya, kami pergi ke perpustakaan dan memeriksa koran-koran lama untuk memastikan apakah yang dikatakan sepupunya Eina itu memang benar adanya.
            Sekalipun kejadian itu memang benar karena sepupunya sendirilah yang memberitahukannya, aku belum menyerah.
            Tanpa berkata apa pun, Sakai dan Ruka-senpai membantuku.
            "Aku mau pulang."
            "Aku antar," tawar Ruka-senpai.
            "Makasih, aku baik-baik saja, kok."
            "Tapi…"
            "Untuk sementara ini aku ingin sendirian. Maaf sudah melibatkanmu seperti ini," ucapku, dan dia enggak menimpalinya.
            Sendirian, aku berjalan pulang. Air mata memenuhi mataku sewaktu kami berpisah.
            Eina sudah meninggal?
            Aku enggak bisa memercayainya, aku enggak mau memercayainya.
            Tapi memang itulah kenyataannya.
            Manusia hidupnya sangat singkat. Itu adalah kenyataan mengejutkan yang kejam.
Enggak ada yang namanya keajaiban.
            Enggak ada yang namanya sih—
            "Enggak, itu ada."
            Kukeluarkan ponselku. Ada sihir dalam genggamanku.
            Ponselku ini terhubung ke lima tahun lalu.
            Aku tinggal memberitahu Eina.
            Kuyakin pasti berhasil.
            Kubuka aplikasi dan meneleponnya, tapi…
            Enggak ada nama Eina di daftar temanku. Meski dicari nama akunnya juga sama. Riwayat pesanku juga hilang.
            "Ini aneh."
            Kuotak-atik ponselnya dengan kekalutan.
            Lewat aplikasi, dan lewat berkas-berkasku juga.
            Namun, aku enggak bisa menemukan cara untuk menghubunginya.
            Mantranya akan patah seberbunyi lonceng tengah malam.
            Perginya ke rumah Eina seakan merupakan suatu pertanda, kini ponselku hanyalah sekedar ponsel biasa.

Hoshizora ni Shita, Kimi no Koe dake wo Dakishimeru Selingan 3 Bahasa Indonesia




Selingan 3 – Mantra yang Patah

            "Kau mengambil hotspot-ku!!"
            Teteh bergegas masuk ke kamarku. Aku ketahuan. Aku sudah mengembalikannya, sih…!
            Pikiranku kosong karena rasa takut. Apa yang akan terjadi sekarang?
            "Apa yang kaulakukan, dasar penumpang?! Papa dan Mama akan marah. Aku tahu kausudah berbuat sembunyi-sembunyi dengan smartphone," ucapnya, merenggut ponsel yang kugenggam.
            Kumencoba sekuat tenaga untuk melawan, tapi anak SD jauh lebih lemah ketimbang anak SMP.
            Dia pun dengan mudah mengambilnya.
            "Kembalikan, kembalikan!"
            "Ehh, memangnya ini sangat penting? Oh, apa ini? Chattingan sama laki-laki? Dasar bocah SD kurang ajar."
            Dia melihat ke layar ponselnya dan mengejek.
            "Pengin kukembalikan? Hmph, kalau begitu, mungkin dengan kehilangan ini akan memberimu pelajaran."
            Udara dingin menjalar ke tulang punggungku.
            Apa yang akan dilakukannya?
            Hanya ponsel itulah penghubung antara Shuu-san dan aku.
            Apa dia akan merusaknya?
           "Tolong… kumohon… akan kuturuti apa pun yang kaukatakan, jadi hentikanlah," kumemohon padanya.
            Tapi dia menatapku dengan dingin dan lari keluar kamar.
            Aku mengejarnya.
            Tapi aku tak bisa menangkapnya.

Hoshizora ni Shita, Kimi no Koe dake wo Dakishimeru Chapter 3 Bahasa Indonesia





Chapter 3 – Lonceng Tengah Malam

Maaf menelepon malam-malam begini,ada telepon dari Eina saat malam Sabtu, malam sebelum ulang tahunku, Ada yang mau kubicarakan soal besok.

            "Boleh."

Pertama-tama, barang yang perlu kamu bawa…

            "Lah, bukannya ponsel saja cukup?"

Sekop juga sama pentingnya.

            "Kenapa?"

Fufufu, ini rahasia. Untuk ketemuannya, sore saja, ya?

            "Boleh, berangkatnya sesudah makan saja."

Makan sambil teleponan akan terasa kurang sopan,kami berdua tertawa, Tempatnya… di Stasiun C saja, ya? Tidak terlalu jauh darimu, ‘kan?

            "Iya, tapi sekopnya buat apaan?"

Sudah kubilang, itu rahasia.

            "Malah jadi tambah penasaran."

Kamu juga akan paham bes… Ah, selamat ulang tahun!

            "Eh?" Saat kutengok, jarum jamnya sudah melewati tengah malam, "Terima kasih."
            Baru kali ini aku bicara dengan seseorang saat ulang tahunku tiba. Biasanya, aku berbaring terlelap di kamarku sewaktu tanggal berganti.
            Dadaku terasa hangat.
            Dengan begitu, aku pun berumur tujuh belas tahun.

Wednesday, September 19, 2018

Hoshizora ni Shita, Kimi no Koe dake wo Dakishimeru Selingan 2 Bahasa Indonesia




Selingan 2 – Persiapan Menuju Pesta Dansa

            Bisa menjadi bagian dari drama saja rasanya sudah seperti mimpi.
            Dan aku bisa berakting bersama Shuu…
            Memang sih bukan aku sendiri yang berakting, tapi bisa menembus jarak lima tahun di antara kami kurasa merupakan hal yang penting. Untungnya, di hari Sabtu semuanya sedang keluar. Mereka baru pulang besoknya, tapi saat itu Ketua kelihatannya sudah sembuh.