Tuesday, April 14, 2020

We Should Have Slept While Only Holding Hands, And Yet?! Jilid 2 Bab 1 - Bahasa Indonesia


〈 1. Perubahan

UTS seminggu lagi.

Musim semi semakin dalam saat mencapai penghujung april. Bahkan bunga sakura yang mekar dengan indahnya sekarang jadi mengotori jalanan layaknya sampah, dan saat waktu terus berlalu, cuaca yang dulunya dingin sekarang menjadi tipe panas yang tidak bisa disebut cukup hangat untuk dikatakan panas. Dengan kata lain, ini adalah kondisi optimal untuk bermain diluar.

Dan mana mungkin dunia akan mengalir dengan indahnya. Karena sekolah bahkan tidak dikecualikan ketika tidak ingin melihat orang-orang bersenang-senang di waktu-waktu seperti ini sehingga konsep ‘tes pencapaian murid di pertengahan semester’ dibuat untuk menyiksa para murid.

Yah, karena para guru akan mengakhiri kelas lebih awal saat periode ujian agar kami lebih bisa berkonsentrasi dalam belaja, aku senang karena itu artinya aku punya lebih banyak waktu luang. Aku punya lebih banyak waktu untuk fokus dalam penelitianku. Oleh karena itu rasanya seperti mereka menaruh kereta di depan kuda karena sekolah-sekolah, yang merupakan fasilitas belajar mengajar, merendahkan waktu belajar-mengajar mereka agar para muridnya bisa belajar sendiri untuk ujian.

Bagaimanapun juga, berbeda dariku yang dilimpahi waktu luang, kemungkinan besar ini adalah waktu yang memberatkan bagi kebanyakan murid lainnya. Keseluruhan waktu yang telah mereka habiskan untuk mengantuk dan tidur di kelas akan kembali menggigit mereka saat periode ujian. Dan Saeyeon yang merupakan murid unggulan dalam hal tidur dan main-main······.

“Uu······. Uuuuu······!”

······Yah, dia seperti ini.

Tengah malam. Duduk di hadapanku di sisi lain meja kecil yang kusiapkan di tengah kamarku, Saeyeon membeku di tempat sambil memegang pensil mekanik dan menatap pertanyaan yang kuberikan padanya. Wajahnya hampir berjarak 5cm dari pertanyaan itu sendiri.

Di postur itu, rambut panjang dan lurusnya yang terdapat pin bunga mengalir lembut seperti sutera dan menutupi leher langsingnya dan wajah dengan mata besar dan bibir lembut. Karena fakta dia merendahakan tubuh bagian atasnya, payudara berukuran sempurnanya yang tersembunyi di dalam piyamanya, berubah bentuk saat menekan meja. Memang, ini pemandangan mantap. Tapi······.

“Uuuu······! Uuuuuuuuuuuuuuuuuuu!”

Haruskah kubilang saat ini lucu? Atau harus kubilang menyedihkan?

Bagaimanapun aku melihatnya, aku hanya bisa khawatir bahwa uap akan mulai menyembul dari kepalanya karena kelebihan beban. Karena ini Saeyeon, maka mungkin itu bisa saja mulai terjadi. Walaupun begitu aku bisa langsung tahu seberapa keras dia berpikir karena mata dan erangan seriusnya······.

“······Udah 10 menit kau tetap di pertanyaan yang sama lho?”

“Uu, uuk······.”

Saeyeon pasti menerima kata-kataku sebagai himbauan karena ujung pensil mekaniknya mulai berkedut dan bergerak, tapi langsung berhenti sekali lagi. Aku hanya bisa menghela napas.

Meski aku tidak berpikir ada alasan untuk tiba-tiba mengataknnya, nilai Saeyeon buruk. Lebih jujurnya lagi, sangatlah buruk. Kalau sesuatu seperti gagal masih ada, maka dia mungkin masih berada di nilai yang sama.

Alasan aku dipanggil ke ruang guru sejak SD ya karena nilai Saeyeon. Saeyeon tidak sadar, tapi ada alasan kenapa aku selalu di kelas yang sama dengannya setiap tahun. Mereka pada dasarnya menyuruhku untuk bertanggung jawab.

“······Waktu habis. Berhenti.”

Itu sebabnya segini tidaklah terlalu banyak masalah. Masih di dalam ranah prediksiku.

Saat aku mengulurkan tanganku setelah mengonfirmasi jarum panjang jam melewati waktu yang ditentukan, Saeyeon cepat-cepat mengangkat kepalanya dan berteriak.

“A-aku bisa menyelesaikan ini kalau dikasih lebih banyak waktu.”

“Fakta bahwa kau berpikir selama 10 menit aja udah jadi masalah.”

Itu pertanyaan dasa, lho.

“Uu, uu······. T-Tapi······.”

“Nggak apa-apa, berikan sini. Coba lihat······.”

Setelah mengambil lembar pertanyaan dari tangan Saeyeon, aku membetulkan kacamataku dan mengonfirmasi satu pertanyaan yang dengan sungguh-sungguh coba dia selesaikan. Dengan tenang sambil mencari tahu bagian persamaan mana yang menjadi kelemahannya.

Lalu, denhan segera, aku sekali lagi tersadar.

“······Apa kau betulan anak kelas 2 SMA?”

Tidak ada gunanya mencari tahu titik kelemahannya.

“O-Orang bisa sedikit buruk dalam belajar!”

Meskipun Saeyeon teriak dengan perccaya diri  walaupun matanya berair karena tatapan kasihanku······.

“Tidak, ini udah nggak setingkat itu.”

Aku merasa berduka saat melihat lembar pertanyaan yang dikotori dengan tanda merah. Sampai-sampai aku lupa soal ketakutanku akan kebotakan dan mulai menggaruk bagian belakang kepalaku.

Aku memukul bibirku dan karena Saeyeon tahu bahwa ini sesuai yang akan aku lakukan saat aku kesulitan, dia menurunkan bahunya.

“Apa, seburuk itu······?”

Aku orang jujur, jadi kujawab tanpa menyembunyikan apapun.

“Yah, aku bahkan nggak tahu mulai dari mana aku harus mengajarimu.”

“Auu······.”

Tidak akan ada yang berubah meskipun kau mengerang imut seperti itu. Begitu aku menghela napas kecil, Saeyeon pasti tidak puas karena dia menggembungkan pipinya.

“T-Tapi, aku bisa menyelesaikannya kalau punya lebih banyak waktu untuk berpikir!”

“Tidak, itu mustahil karena kau bahkan nggak tau konsep faktorisasi.”

“Uu, uuk······.”

Saeyeon, yang berteriak sambil melakukan yang terbaik agar terdengar kuat, karam sekali lagi. Walau aku berasa sedikit tidak enak, tapi kenapa gadis ini memasuki jurusan ilmu pengetahuan alam? Harusnya kubentikan dia saat dia bilang dia akan mengikutiku memasuki jurusan IPA. Aku harus dengan sungguh-sungguh mencoba menghentikannya.

“Uu······. Ini memalukan······. Ini sebabnya aku nggak mau belajar······.”

“Jadi kau tahu ini memalukan. Setidaknya kau punya sedikit kesadaran diri.”

“O-Oh benar! Aku nggak perlu masuk kuliah atau kerja karena aku akan menikah dengan Jjaro dan jadi istri······. Ow!”

Kutarik lagi itu. Apa kau nggak punya kesadaran diri? Setelah menjentik dahi Saeyeon karena dia masih tidak paham akan situasinya, Saeyeon mengelur dahinya.

“Uuu······. Tapi belajar, nggak menyenangkan.”

Saeyeon terus merengek. Tampaknya dia benar-benar tidak mau belajar karena dia sekarang menggembungkan mulutnya. Betul deh, gadis ini.

Bagaimana pula kau harus membuatnya diap mengahdapi UTS? Cuma ada seminggu lagi waktu tersisa. Bukankah lebih baik kalau aku mulai mengajarinya lebih cepat? Apa aku terlalu optimis ketika aku berpikir jumlah yang pas bisa tercapai kalau kami menjejalkan segalanya dalam beberapa hari?

“Ibu, jangan khawatir! Semuanya salah ayah sekarang!”

“······Aku kau mempertanyakan cara mengajarku?”

Saat aku menunjukkan gigiku dan berbalik untuk menatap suara yang ada di belakangku, Jaim sudah melompat dari tempat tidur dan mebatap balik sambil memijat bahu Saeyeon. Bocah ini.

“Ini hasil metode belajar ayah, kan?”

Sebuah wajah menggemaskan yang terlihat seperti gabungan ciri wajah Saeyeon dan wajahku. Aku tidak bilang aku menggemaskan, jadi jangan salah paham. Aku mengangkan kertas pertanyaan dengan tanda merah di segala tempat ke arah Jaim yang memiliki mata besar dan pipi lembut yang sempurna untuk ditarik, dan menyeringai lebar, sehingga membuat ekspresinya mengisut.

“Nak, bisa bilang itu setelah melihat ini?”

Jaim dengan bijaksananya mengalihkan pandangannya dari lembaran dan bicara. Dia punya bakat yang cukup hebat.

“Apa aku salah? Bagi ayah, menjaga ibu itu cuma ‘pekerjaan’mu, kan? Selain itu, bukannya tanggung jawab ayah  kemampuan akademik ibu tetap seperti ini?”

“Ack.”

Itu argumen yang cukup beralasan. Ini sedikit menusuk.

“······A, Aku pasti buruk di mata Jaim······.”

Meskipun tampaknya Saeyeon jadi semakin tertekan karena itu.

“T-Tapi, Saeyeon nggak paham berapa kalipun aku mengajarinya! Bahkan aku mampu mengajari informasi dasar semacam ini dengan baik!”

“Udah kubilang, itu artinya kau buruk dalam mengajar, ayah. Kalau kau mengajari Ibu dengan baik, maka nggak mungkin Ibu masih tetap bodoh setelah kau ajarin.”

Bocah ini munya ekspektasi aneh pada Saeyeon. Apa kau tidak melihat bahwa komentarmu barusan semakin membuat Saeyeon menurunkan bahuny? Jaim meletakkan tangannya ke dahinya dan menggeleng.

“Sungguh, kalau bakalan begini lebih baik kalau aku yang ngajarin Ibu.”

“······Hoh, baiklah kalau gitu.”

Sekarang waktunya untuk mengajari bocah ini seberapa horornya Saeyeon.

“Majulah dan ajarin dia.”

Seberapa banyakpun ekspektasi yang Jaim miliki pada Saeyeon, dia mungkin akan menurunkan ekornya begitu dia mengalaminya sendiri. Dan ketika itu terjadi, aku akan membalasnya dua kali lebih keras. Namun, Jaim menggembungkan dadanya sebagai respon dari kata-kataku dan bicara dengan bangga.

“Kalau ayah akan mengatakan kuranganya kemampuannya dan memohon seperti ini, maka tak ada lagi yang tak bisa kulakukan! Akan kuajari ibu!”

Berani sekali. Yah, kepercayaandirinya bagus tapi aku memberikannya senyum terbesarku dan berbicara dengan licik.

“Walaupun Saeyeon buruk dalam belajar, bagaimana anak SD akan mengajarinya?”

Pertama, Saeyeon itu murid SMA. Aku tahu bahwa bocah ini lebih cerdas ketimbang sebayanya, tapi mengajari Saeyeon terlalu berlebihan untuknya. Terlebih lagi, bahkan aku tak tahu bagaimana mengajarinya.

Mengabaikan kata-kataku, Jaim melambai seolah memberitahuku agar menyingkir. Baik, aku kan pindah. Begitu aku pindah ke tempat tidur Jaim berdehem dan melihan Saeyeon dengan wajah serius.

“Ehem, bu. Karena itu, aku akan mengajarimu. Diajari sama anakmu mungkin memalukan, tapi malu nggak bakalan membantu apapun. Kalau kau mengikuti instruksiku dengan baik, maka ayah pasti nggak bakalan bisa menertawaimu.”

Garis besarnya terlihat. Saeyeon mengangguk seolah menetapkan hatinya.

“Oke, ayo mulai. Aku akan mulai dasar-dasarnya, jadi dengar baik-baik ya bu.”

Aku bicara dengan dingin ke arah Jaim yang bicara sambil menyingkirkan lembar kerja, meletakkan sebuah buku di meja, dan membukanya.

“Kalau kau bermaksud mengajari Saeyeon pendidikan sex, maka lebih baik berhenti saja sekarang.”

“······Tsk.”

Jaim mendecakkan lidahnya saat dia menutup buku ekonomi rumah tangga. Aku mengeluarkan helaan napas kecil.

“Yah, bukankah seharusnya kau pura-pura nggak tahu pada awalnya dan meneriakkan sesuatu seperti ‘Oke, sudah cukup!’ setelahnya?”

“Aku mampu belajar, nak. Kau salah kau berpikir aku akan termakan trikmu selamanya.”

Aku bisa melihat proses berpikirnya sesaat setelah dia mengeluarkan buku ekonomi rumah tangga.

“Itu benar, Jaim. Juga, UTS nggak ada ngujikan ekonomi rumah tangga.”

Apa itu yang kau pedulikan? Jaim memalingkan kepalanya dengan menyesal sebagai respon bujukan menenangkan Saeyeon.

“······Tapi mengajari hal-hal yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari seseorang adalah pendidikan yang sebenarnya.”

“Pola pikirmu itu bagus.”

Oleh karenanya, karena kami tidak bermain-main lagi, tampaknya giliranku sekarang. Setelah mengatakannya pada Jaim yang mengeluh, Saeyeon melihat ke Jaim dan tersenyum saat aku akan berdiri.

“Juga, aku sudah selesai mempelajari segala yang ada di buku itu.”

······.

“······Apa?”

Apa yang baru saja Saeyon katakan······?

“Bu?”

Sebagai respon atas pertanyaan Jaim yang ditanyakannya dengan mata terbuka lebar, Saeyeon terkikik dan menggeledah tas punggungnya sebelum dengan bangganya mempersembahkan buku ekonomi rumah tangganya.

“Lihat, lihat! Aku sudah belajar keras sendiri!”

Dia sudah membuka buku ke sebuah bagian yang terdapan penanda agar bisa diakses dengan mudah. Di bagian yang dia buka, ada garis dan lingkaran merah di sana sini dengan catatan yang tertulis hampir di keseluruhan halaman yang terdapat referensi gambar menditail alat kelamin laki-laki dan perempuan.

Sambil menatapu yang mulutnya ternganga, Saeyeon bicara seolah-olah dia bangga terhadap dirinya.

“Aku belajar sambil mencar-cari di kamus! Itu sebabnya, ini seks yang Jjaro bicarakan sebelumnya, kan? Laki-laki dan perempuan melepas semua dan mulai dengan ciuman······.”

“A-Apa yang kau pelajari!? Jangan lihat! Kubilang berhenti melihat! Kya!”

B-Bagaimana seorang gadis mengatakan kata-kata semacam itu!? Apa kau nggak punya malu!? Darah mengalir deras ke wajahku dan begitu aku cepat-cepat mengambil buku darinya, Saeyeon terlihat jengkel.

“Aku belajar sendiri karena Jjaro tidak mau mengajariku. Aku hebat, kan? Sekarang kau nggak bisa mengejekku lagi, kan, Jjaro?”

“Itu hal yang salah itu disombongkan! Apa kau anak laki-laki yang mengalami tahun kedua SMPnya?! Kenapa kau bahkan menggaris bawahi banyak hal dengan pensil merah?”

“Tapi Jjaro akan belajar sendiri di depan komputer. Aku bahkan melihat video-video yang kau punya di komputermu, Jjaro.”

“Kenapai kai melihatnya!?”

Tunggu, itu artinya itu juga? Apa dia melihat itu juga?

“Tunggu dulu, ayah! Tenang! Hidup adalah sesuatu yang harus kau hargai!”

“Diam! Aku bakalan mati! Martabatku udah hancur, wajahku remuk, aku nggak bisa hidup di kenyataan semacam ini lagi!”

Sambil berusaha melawan Jaim yang kelihatannya lupa bahwa meskipun aku lompat dari jendela kecil kamarku, aku hanya akan berakhir di lorong komplek apartemen, Saeyeon bicara sambil tersenyum.

“Tapi aku lega. Seperti harapanku, Jjaro lebih suka payudara kayak puny······. Ow!”

Setelah memukul kepala Saeyeon untuk mencegahnya mengatakan apapun lagi, aku balik menghadap Jaim, yang mendesaknya berteriak panik.

“T-Tunggu, yah! A-Aku tidak tahu soal ini!”

“Jangan buat aku ketawa! Walau kau tidak menghasutnya, itu karena kau terus membuat candaan cabul sampai-sampai Saeyeon menjadi seperti ini!”

“Uu······ Jjaro pasti bilang bahwa itu bagaimana kau membuat anak······.”

“I-Itu benar! Ibu tidak berkembang cepat atau apalah! Kalaupun ada, dia berada di sisi lambat! Yeah! Ibu, sekarang kau sudah belajar dasar-dasarnya, akan kuajari kau latihan mendalam soal metoubububububu!”

“Sudah kuduga, kaulah masalah terbesar di sini, bocah! Kalau kau mencoba mengajari Saeyeon hal aneh lagi, maka akan kubuat kau mengalami latihan penyesalan.”

“T-Tapi kalian tidak akan melakukan penyatuan kalau aku terus ububububu!”

“Tidak! Jjaro! Harus aku dulu······. Ow!”

“Ayo hidup dengan lebih banyak akal sehat, oke? Lebih banyak akal sehat!”

Sungguh, apa yang harus kulakukan dengan dua anak ini? Aku ingin menangis. Malah, aku ingin mati. Kenapa aku tidak menghapus mereka? Kenapa aku berpikir akan sia-sia kalau menghapusnya? Tidak, pasti bakalan sia-sia, tapi aku adakalanya membuang hal semacam itu kapanpun aku memasuki mode orang bijak. Aku harus membuangnya. Aku harus menghapus semuanya. Aku harus punya penghancur diri.

Saat aku meringankan amarahku, yang dengan sengaja kuberikan pada diriku sendiri, dan dengan tergesa-gesa menarik pipi Jaim yang seperti kue beras, mulut Jaimterlihat ingin mengatakan sesuatu jadi kulepaskan dia.

“Ada apa? Kalau kau punya alasan, maka akan kudengar.”

Jaim menjawab sambil mengusap pipi merahnya.

“Tidak, aku penasaran kenapa kau tiba-tiba ingin melihat ibu belajra.”

“Yeah. Jjaro, kau selalu bilang padaku untuk belajar sendiri sampai sekarang.”

“Eck.”

Ini pasti juga ada dalam pikiran Saeyeon, karena dia berhenti mengusap dahinya dan berbalik melihat ke arahku dengan mata besarnya. Aku memalingkan kepala dengan terpaksa.

“A-aku cuma berpikir kalau dibiarkan begini tidak akan bagus!”

Setelah mendingingkan wajahku yang terbakar dengan menggeleng, aku berbalik ke arah Saeyeon dan bicara.

“Berapa lamau kau berniat untuk terus berada di tingkat pendidikan anak SD aku tidak bilang belajar itu segalanya dalam hidup, tapi bukankah kau setidaknya sedikit saja punya pengetahuan sebagai murid? Aku terus bilang padamu untuk belajar sendiri, tapi ujung-ujungnya begini.”

“Uu, uuh······.”

Bukannya membalas, Saeyeon malah semakin muram. Entah kenapa Jaim juga melihatku dengan tatapan menuduh.

“T-Tidak, aku nggak bilang itu salahmu······.”

Kalaupun ada, akulah yang jahat kalau kami harus mengacungkan jari.

Sebenarnya, jadi tanggung jawabku karena membiarkan dia seperti ini walalupun sudah diberi peran untuk menjaga Saeyeon dari dulu sampai sekarang. Sudah telat, tapi aku harus bertanggung jawab.

“Kalau gitu, ikuti ajaranku dengan baik. Sekarang, aku akan mulai menjelaskan masalah. Jadi bagian ini······.”

Ada ketukan pintu sesaat aku membawa masalah yang ada di lembaran dan hambir mulai menjelaskan.

“Bagaimana belajarnya?”

“Ah, ibu!”

Begitu Saeyeon melihat ibunya membuka pintu dan masuk kamar, dia segera tersenyum. Dia benar-benar bangkit dengan cepat.

“Kurasa aku harus mengecek kalian saat aku pulang kerja.”

Ibu Saeyeon bicara sambil melihat kami.

Jika wajah Saeyeon memberikan perasaan imut, maka ibunya berwajah tegas yang tidak mirip dengan Saeyeon. Rambut dan seragam pendeknya benar-benar menegaskan aura orang bisnis.

Ibu Saeyeon, yang menyeringai cerah, duduk di antara diriku dan Saeyeon. Aku nggak yakin apakah dia melupakan Jaim, yang menatapku sambil mengusap pipi merahnya, atau dia hanya tidak memperhatikannya. Orang ini sulit untuk ditangani.

“Aku penuh harap saat dalam perjalanan, tapi kalian benar-benar belajar keras ya. Atau karena ada Jaim di sini? Haruskah kubawa dia?”

“······.”

Terlebih dia bersikap seperti ini. Tampaknya dia menikmati wajah kesulitanku karena ibu Saeyeon mengangkat dagunya yang berada di atas tangan yang saling menggenggam dan bicara setelah terkikik.

“Yah, kesampingkan candaannya, apa belajarnya lancar? Walaupun aku nggak khawatir karena Jaro denganmu.”

“Kau nggak perlu terus khawatir. Selama aku yang bertugas, aku pasti akan······.”

“Ayah buruk dalam mengajar, nek!”

······Bocah ini. Jaim, yang menyerukan itu sambil nyengir lebar, kemudian berteriak.

“Aku hampir mengajarin ibu karena ayah nggak mau!”

“J-Jaim!”

“Astaga, apa Jaim mengajari ibu?”

Begitu Jaim, yang mengusap pipinya, meneriakkan itu dengan nada polos dan malu-malu serta ekspresi yang dia tunjukkan ke orang-orang kuciali diriku, Saeyeon dan ibu Saeyeon membuka mulut mereka secara bersamaan. Saeyon melakukannya seolah dia malu, dan ibu Saeyeon seolah dia bangga.

“Bukan gitu, bu! Maksudku, aku tidak diajari oleh Jaim, tapi······.”

“Nagpain malu? Kalau kau nggak tau sesuatu, maka kau bisa belajar dari putrimu. Jadi, Jaim, apa yang kau ajarin ke Saeyeon?”

Dengan hangat, pandangan ibu Saeyeon seolah berkata bahwa cucunya membanggakan. Namun, pandangan Jaim······. Ah, akutahu pola ini.

“Aku mau ngajarin ibu soal pendidikan seks!”

Dengan seringai cerah tanpa masalah dan sebuah pernyataan mengejutkan.

“Kerja bagus, Jaim!”

“Kenapa kau malah ngacungin jempol?!”

Ibu Saeyeon sedikit menggembungkan pipinya karena keluhanku dan menjadi gelisah. Tidak, itu nggak imut walaupun wanita tua melakukan itu.

“Tapi~ bukankah Jaro sedikit lemah saat mengajari Saeyeon soal hal-hal semacam ini? Pendidikan sebenarnya adalah saat kau mengajari hal-hal yang dibutuhkan untuk kehidupan nyata! Itu lebih pending dibanding persamaan matematika!”



Wanita ini, maksudku, orang ini benar-benar······. Setelah terkikik karena aku memegang kepalaku yang berdenyut lagi, ibu Saeyeon berdiri dan bicara.

“Oh ya, memang bagus belajar keras, tapi kalian harus lanjut setelah istirahat. Aku sudah ngupasin buah di luar, jadi lanjut setelah makan buahnya ya.”

“Wow! Kau yang terbaik, bu! Jjaro, ayo istirahat sembentar, ya?”

······Seriusan, gadis ini bangkit terlalu cepat. Aku menggeleng ke arah Saeyeon yang matanya bersinar cerah.

“Tidak. Kalau begini terus, bakal ada halangan direncana kita. Jangan bernah berpikir untuk istirahat saat kau melum menyelesaikan lembar kerjamu.”

“K-Kalau aku istirahat atau makan sesuatu, maka aku akan jadi bisa lebih konsentrasi!”

Gadis ini, dia beneran nggak punya niat buat belajar······. Yah, dari dulu memang dia nggak punya.

“Ayah, nenek udah ngupasin buah, jadi ayo lanjut sehabis makan, oke?”

“Itu benar, Jaro. Kau mungkin juga lelah, jadi istirahatlah sebentar.”

“Jjaro······.”

Aku hanya bisa mengeluarkan helaan napas kecil saat mereka balik melihatku dan bicara satu per satu.

“······Cuma 10 menit.”

Sangat merepotkan karena aku jadi orang baik sekarang.

Ã…  Ã…  Ã…

Sudah 2 bulan sejak Jaim tiba.

Satu bulan sejak insiden sebelumnya dan satu bulan telah berlalu setelah kepulangan orang tua Saeyeon dari perjalanan mereka. Selama dua bulan tersebut, hidupku berubah dengan cepat. Ke arah yang tidak kuingin.

Pada keesokan harinya, ada anak yang tertidur seperti kayu di antara dirku dan Saeyeon.

Walau kami harusnya cuma tidur sambil pegangan tangan.

Jin Jaim. Putriku dan Saeyeon yang datang dari masa depan.

Meskipun aku ingin menambahkan ‘ngaku-ngaku’ di depannya, sepertinya bukan begitu sehingga jadi makin menakutkan.

Walaupun perjalanan waktu adalah hasil dari sesuatu yang tidak realistik, hal yang dia inginkan terlalu sederhana. Karena Saeyeon dan aku cekcok di masa depan, yang membuat Saeyeon pergi dan memaksa Jaim untuk tumbuh di rumah tangga tanpa ibu, Jaim ke masa lalu dengan membawa ‘Perencanaan Keluarga Bahagia’, sebuah rencana yang tujuannya untuk memperbaiki hubunganku dengan Saeyeon dan, sebagai hasil, menciptakan keluarga bahagia.

Meskipun metode untuk mencapai ini hanya dengan membuatku dan Saeyeon bersatu di usia muda dan memaksa kami di antara tempat berbatu dan keras.

Meskipun begitu, di titik itu, aku sudah tidak menyukai Saeyeon. Aku tidak menyukainya. Malahan aku membencinya.

Karena aku membenci keluarga. Karena aku tidak butuh sesuatu semacam itu.

Berbeda denganku saat itu, Saeyeon memiliki keluarga bahagia.

Ibu Saeyeon yang mencintai Saeyeon telah meninggal saat dia masih kecil. Meskipun Saeyeon hanya menjadi putri pasangan nikah kedua, ibu Saeyeon masih mencintainya seolah-olah dia adalah anak kandunganya sendiri. Dan Saeyeon, yang menyukaiku dan telah menerima cinta itu saat dia tumbuh dengan polosnya.

Aku tidak menyukainya. Aku tidak membutuhkan itu. Itu sebabnya aku merusak Saeyeon. Kubuat dia hanya mendengarkanku dan membuatnya tetap seperti anak kecil yang bahkan tidak tahu apa arti kata ‘cinta’.

Setelah semuanya terbuka dan sebagai hasil dari kata-kata ‘aku tidak pernah melihatmu sebagai seorang wanita.’ dikatakan, Jaim terinfeksi ‘kontaminasi informasi’  yang merupakan penyakit akibat perjalanan waktu.

Jaim ditempatkan pada situasi di mana dia menderita dari delusi bahwa Saeyeon dan aku merajut kasih di usia muda walaupun kami tidak ingin, dan kami sering bertengkat, membencinya karena telah menciptakan hubungan kami tersebut, mengabaikannya, dan menyiksanya. Jaim akan kembali ke masa depan dengan kondisi tersebut. Aku ingin segaralanya berakhir seperti itu.

Namun, aku tidak bisa meninggakan putriku yang terlukan dengan cara yang sama sepertiku, yang akan terlukan seperti itu karenaku, sendirian.

Yah, karena alasan tersebut, kira-kira sudah sebulan semenjak aku berdiskusi dengan agen waktu yang di sini untuk mengamati Jaim dan membawanya ke masa depan jika ada masalah yang terjadi, melakukan apa yang kubisa untuk mengobati kontaminasi informasi Jaim, dan, sambil melakukannya, memperiapkan dokumen agar Jaim bisa tinggal di sini.

Dan orang tuan Saeyeon kemudian kembali dari perjalanan mereka ke Eropa.

Jujur saja, itu gunung setelah gunung, aku bahkan siap untuk mati.

Tapi······.

“Jaim, ah~.”

“Aaah~.”

“Oh, kau imut kali♡! Apa rasanya enak?”

“Yeah! Enak!”

“······.”

Meskipun sebulan telah berlalu, aku masih tidak tahu mau berkata apa kapanpun aku menyaksikan ini. Pertama, kepalaku terus berdenyut. Migrainku jadi makin parah akhir-akhir ini.

Pikirkanlah.

Kau puya putri menggemaskan. Kau membesarkan putrimu yang baik, polos, dan bak malaikat dengan cinta dan kasih sayang, dan karena kesempatan bagus muncul, kau kenahan kekhawatiranmu dan meninggalkan putrimu dengan tetangga terpercaya untuk melakukan perjalanan ke luar negeri selama sebuban, perjalanan ke Eropa tepatnya.

Dan kemudian bayangkan diperkenalkan pada cucumu sementara putrimu bergandengan tangan dengan anak laki-laki tetangga sesaat kau pulang ke rumah.

Bukannya itu jadi situasi di mana tidaklah aneh untuk mengambil kepala anak laki-laki tersebut dan meneriakkan ‘aku sudah membunuh pencuri putriku!”.

Tapi.

Ibu Saeyeon tersenyum hangat pada pemandangan Jaim yang mengisi pipi elastisnya dengan apel dan mengunyahnya dengan bahagia.

“Beneran deh, Jaro dan Saeyeon memang cakap. Bisa membuat putri sebesar itu dan menggemaskan dalam sebulan.”

······Akhir-akhir ini aku kepikiran, tapi ini mungkin edek manipulator ingatan atau teknologi masa depan lainnya. Bahkan aku menjelaskannya padanya terakhir kali.

“Udah kubilangin, dia bukan putri kami tapi saudara tiri yang dimiliki orang tua gilaku. Alasan dia memanggil Saeyeon dan aku ibu dan ayah itu karena aku memutuskan untuk membesarkannya seperti orang tua karena aku tidak ingin dia mengalami hal yang sama seperti aku dengan orangtuaku.”

“Oh yah.”

Apa ini masalah yang bisa diselesaikan cuma dengan ‘Oh yah’?

Ibu Saeyeon menjawab dingin pada kata-kataku dengan sebuah helaan napas. Jujur saja, mungkin bukan cuma salahku Saeyeon tumbuh menjadi sepolos ini.

Ibu Saeyeon tersenyum saat dai melihat Saeyeon memberi makan Jaim pir dengan garpunya.

“Kalau begitu, syukurlah Jaro juga punya perasaan pada Saeyeon. Jujur saja, nona tua ini bersorak untuk Saeyeon yang akur dengan Jaro yang sangat dia sukai, tapi aku juga ragu.”

Dia masih tajam pada hal-hal aneh semacam ini. Tapi,

“Udah kubilang bukan bagitu. Pertama, aku······.”

Aku membeku dan berpaling sesaat kata-kata itu keluar dari mulutku, seperti dugaanku, Saeyeon terlihat takut sementara Jaim melihatku seolah dia tidak akan membiarkanku kalau aku tidak hati-hati dengan kata-kataku. Ehem, mm.

“······Yah, memang benar aku bilang aku butuh Saeyeon······.”

“Yeah. Itu sebabnya akan kuberikan putriku pernikahan tanpa rasa khawatir.”

“Sungguh, bu······.”

“Dia kesini bykan untuk menikah, tahu? Dia cuma tinggal samaku, tahu?”

“Apalagi yang bisa diperbuat kalau nggak dinikahkan? Atau haruskah kusebut ini sebagai salah satu adat tradisional kita, minmyeonuri?”

(Catatan : Minmyeonuri — Seorang gadis yang dibawa oleh keluarga calon suami)


“Kaulah yang mengirimnya dengan sewenang-wenang! Aku juga dipecat karena itu!”

Begitu aku meneriakkannya sebagai respon pada ibu Saeyeon yang tersenyum bahagia, ibu Saeyeon bicara seolah dia tidak tahu pada apa yang kubicarakan.

“Kau bahkan melamar Saeyeon dengan berkata bahwa kau membutuhkannya, Jaro. Kau punya putri yang imut juga, jadi keluarga harus tinggal sebagai keluarga, kan? Tapi kau tidak mungkin menganggap tindakan tinggal dengan keluargamu sebagai pekerjaan, kan? Kesimpulanya sudah bulat. Yah, walaupun kami mungkin akan menunggu sampai kalian dua jadi dewasa untuk upacara pernikahannya.”

“Udah kubilang······.”

“Atau, apa? Kau nggak mau tinggal sama Saeyeon, Jaro?”

Karena wajah tersenyum ibu Saeyeon berubah menjadi dingin.

“Jangan bilang kau meletakkan tanganmu ke Saeyeon kami dan membuat putri seperti ini tanpa ada niat bertanggung jawab?”

“Uu, i-itu······.”

Sementara aku ragu karena tekanan sorot matanya, ibu Saeyeon bicara dengan suara dingin yang tak ada bandingannya dengan sebelumnya.

“Karena aku mempercayai Jaro yang Saeyeon sukai, aku ingin kau tidak bilang bahwa kau sudah meletakkan tanganmu pada Saeyeon kami tanpa berpikir ketetapan hati······. Jadi, Jaro?”

Aku benar-benar akan mati kalau memberikan jawaban yang salah.

“U-Udah kubilang, terlalu cepat buat tinggal sama, yah······.”

“Astagaa, apa itu maksudmu? Wanita tua ini masti sudah salah paham.”

Pasti jawabnnya tepat karena ibu Saeyeon tersenyum cerah sekali lagi. Itu menakutku sampai mati······.

“Tapi, seperti yang kupikirkan, kalian harus tinggal bersama mulai saat ini agar kalian bia mengalami rintangan hidup bersama-sama, kan? Terlebih, tidak ada banyak perbedaan, ya kan? Kita tinggal sebelahan, dan kalian berdua sudah sering makan dan tidur bersama. Ah, kurasa akan sedikit berbeda sekarang karena kalian punya putri.”

“Aku suka tinggal sama ibu dan ayah, nek!”

“Lihat? Jaim juga setuju.”

Tentu saja si bocah itu akan setuju······. Aku hampir menggeretakkan gigiku, tapi aku malah menghela napas.

Yeah. Sudah sebulan. Sudah sebulan sejak Saeyeon dan Jaim mulai tinggal di rumahku.

Orang tua Saeyeon, yang mengakui keberadaan Jaim dengan sangat mudahnya, menyarakan bahwa keluarga harus dengan alami tinggal bersama, jadi setelah mengakhiri bahwa Saeyeon akan tinggal denganku mulai dari sekarang, mereka benar-benar mengirimnya kerumahku setelah mengemas pakaian sederhana.

Karena ini. Aku di penghujung kebangkrutan. Tidak hanya setengah pendapatanku terporong, tapi juga setengah pendapatanku yang lain berkurang karena royaltiku tidak akan terjual, dan jumlah yang dikonsumsi dalam rumah tanggaku meningkat kerena jumlah mulut yang harus kunafkahi bertambah dua.

“Sekarang, karena aku tahu bahwa Saeyeon dan Jaim akan baik-baik saja, kurasa aku akan ke rumah sekarang. Saeyeon, Jaim, ayo ngobrol antar cewek aja lain kali juga. Kalau gitu, aku pergi~.”

Saat aku memikirkan itu, ibu Saeyeon mengucapkan selamat tinggal pada semuanya kecuali aku dan menghilang melalui pintu depan. Kalau orang lain ada di sini, maka mereka mengira bahwa dia akan pergi ke tempat jauh. Padahal cuma butuh lima langkah melewati gang apartermen untuk sampai ke rumahnya.

Oh ya, istirahat kami selesai.

“Sekarang, waktunya belajar lago. Ayo balik ke kamarku.”

“Aku ngantuk······.”

“Jangan buat aku ketawa! Katamu kau bakalan bisa makin berkonsentrasi kalau kau makan sesuatu!”

“Tapi······. Udah larut malam······.”

Dengan mata yang sudah setengah tertutup, Saeyeon bicara sambil melihat jam yang menggantung di dinding dekat meja makan. Sekarang jam 9:13 malam. Pasti, dalam standar Saeyeon, ini sudah larut malam karena dia biasanya udah siap untuk tidur jam 9.

“Selama aku bertugas terhadap belajarmu, aku tidak akan melakukannya setengah hati atau membiarkanmu berhenti dengan mudah! Sekarang, pergi dan cuci mukamu!”

Meskipun aku sengaja bicara dengan suara keras dan menepuk tanganku untuk membangunkannya, Saeyeon hanya menggosok matanya dan melihatku dengan kasihan. Gadis ini, dia masih bersikap seperti anak bandel.

“Ayah, jangan gitu dan lanjut besok aja ya? Bagaimana kalau membetulkan Multi samaku malam ini? Aku nggak lelah. Kau lebih memilih itu juga kan?”

“Tidak. Kau melihatnya juga, kan? Fakta bahwa Saeyeon berada dalam kondisi berbahaya. Aku mengucapkan selamat tinggal pada Multi sampai ujian. Kalau kau punya cukup waktu untuk mengkhawatirkan itu, maka kau harus kerjasama juga.”

“Seperti yang kupikir, kau serius kahwatir soal ibu, yah······. Uub!”

Setelah menutup mulut yang mengatakan omong kosong, aku menarik Saeyeon saat dia menggosok matanya dan menyeretnya dan Jaim ke kamarku.

Tidak ada yang belum berubah. Tidak apa. Itu fakta yang jelas.

Masalanya adalah aku harus merasa bagaimana soal ini.



Related Posts

We Should Have Slept While Only Holding Hands, And Yet?! Jilid 2 Bab 1 - Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh