Friday, June 21, 2019

Hajimari no Mahoutsukai Volume 02 Chapter 01 Bahasa Indonesia



Chapter 01 – Dibayangi Kebinasaan


Ia menimpa kita bak bayangan,

membekuk kita tanpa disadari.





            "Aku menyerah…"

            Aku yang kehabisan akal pun berhenti menggerakkan pena di papan tulis. Mau diperhitungkan berapa kali pun, hasilnya tetap sama.

            "Bagaimana, nih?"

            Di luar mendadak ribut pas aku mulai memeras otak dengan menahan kepala di tanganku. Mengalihkan pandanganku ke jendela, aku pun menghela napas begitu sadar hari sudah senja.

            "Mentooor, sampai jumpa!"

            "Ya, sampai jumpa."

            Aku tersenyum sambil melambaikan tangan pada anak-anak desa, yang tengah berlarian di luar jendela dengan senyum di wajahnya.

            Mereka adalah harta berharga desa, yang kelak nanti akan mewarisi desa. Makanya, aku takbisa mengabaikan masalah ini.

            "Haah, capenya. Akhirnya, hari ini beres juga."

            "Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini, Nina."

            Kusambut Nina pas dia masuk ke ruang pengajar. Biar begitu, hanya aku dan Nina sajalah pengajarnya.

            "Ada masalah apa? Kau kelihatan susah hati dari biasanya."

            Tuturnya saat memandangku. Sudah sekitar lima ratus tahun semenjak aku bertemu dengannya. Kalau dipikir-pikir, kita ini sudah cukup kenal lama. Setidaknya, kita sudah rada bisa memahami perasaan satu sama lain hanya dengan memandang saja.

            Memang tidak ada banyak perubahan pada ekspresinya, tetapi saat ini dia terlihat cemas.

            "Eng, begini…"

            Itu terjadi pas aku hendak bicara.

            "Kakaaaak~!"

            Aku melihat sosok mungil yang melompat padaku sambil berteriak dengan penuh semangat.

            "Belajarku sudah beres."

            Dengan rambut merah berkuncir dua, senyuman cerah menerangi wajahnya. Biarpun mata merah besarnya yang bersinar menjamin akan kecantikannya kelak nanti, tingkahnya sendiri agak tomboi dengan membawa pedang di pinggangnya.

            "Oh? Hebat, Yuuki."

            Gadis muda penuh semangat yang melekat padaku ini adalah salah satu anak yang bersekolah, dan amat menyukaiku.

            "Maaf, tadi aku melihat Yuuki ke arah sini… oh. Jadi, di kemari."

            Tak lama setelah Yuuki tiba-tiba masuk ke dalam ruangan, muncul anak muda yang wajahnya mirip dengannya. Dia anak muda cantik yang sering di salah kira sebagai seorang gadis. Selain sikap tenang dan potongan rambut pendeknya, selebihnya dia mirip Yuuki.

            "Kau pasti kesulitan, ya, Amata."

            "Tidak, maaf karena adikku selalu merepotkan."

            Perilakunya saat menundukkan kepalanya sekali pun usianya hanya terpaut satu atau dua tahun dari Yuuki yang kekanak-kanakan sangat menenangkan. Padahal, dia bisa bertingkah sesuai usianya; lagian, dia masih anak-anak.

            "Mari pulang, Yuuki!"

            "Enggak mau—!"

            Misalnya, dia bisa seperti Yuuki yang sekarang ini tengah memeluk erat diriku karena tak mau pulang.

            "… Jadi."

            Terlepas dari apa yang terjadi, Nina tiba-tiba angkat bicara.

            "Apa yang kau cemaskan?"

Eh? Kau tanyakan itu sekarang?

"Ini bukan hal yang bisa dibicarakan di depan anak-anak…."

"Tak apalah, lagian mereka ini ahli pedang!"

            "Ya! Aku ini ahli pedang!"

            Mendengar perkataan Nina, mata Yuuki seketika berseri saat mulai melambai-lambaikan tangannya. Mengambil napas dalam-dalam, aku pun angkat tangan. Yah, membicarakannya di depan mereka berdua juga sama saja.

            "Sebenarnya… kalau keadaannya begini terus, desa ini akan binasa."

            "Eeh?!"

            Mata Nina terbelalak, Amata termengap-mengap, dan Yuuki berteriak kaget.

            "Masih seratus tahunan lagi, itu juga kalau sekarang kita tidak berbuat apa pun."

            "Ooh."

            "Aku sedikit terkejut!"

            Yuuki dan Amata merasa lega usai mendengar perkataanku berikutnya. Benar, hanya memerlukan satu abad lagi.

            "Maksudmu, kaubisa melihat masa depan?"

            Bicara dengan nada serius, hanya Nina seorang lah yang seperasaan denganku. Yuuki dan Amata takkan begitu memedulikan apa yang takkan terjadi selama satu abad lagi, dan kemungkinan besar mereka akan meninggal duluan. Akan tetapi, lain halnya bagiku dan Nina. Waktu selama itu hanya akan berlalu sekejap saja.

            "Ini bukan ramalan, tetapi prediksi. Hanya perhitungan sederhana saja."

            Aku, Nina… dan Ai. Akademi sihir yang awalnya hanya dimulai bertiga saja sudah berkembang beserta desa ini, yang dikenal sebagai Scarlet. Jumlah orang yang tinggal di sini telah meningkat sejauh perkembangan penelitian sihir hingga bisa membuat kehidupan yang nyaman di desa. Usai mengikuti perkembangan dan pertumbuhan desa dengan saksama, akademi sihir pun ikut meningkat juga. Keduanya saling memberikan pertumbuhan positif.

            Baik desa maupun akademi tidak mempunyai permasalahan besar yang perlu dicemas—

            Malahan, berjalan terlalu mulus.

            "Masalahnya, kalau begini terus kita akan kekurangan makanan."

            Makanan desa masih bergantung pada perburuan dan pengumpulan. Biarpun sudah lama kita bisa mengatasi kelebihan populasi dengan mempertahankan pemburu-pengumpul biasa, kita bahkan mampu menyimpan persediaan untuk musim dingin dan keadaan genting. Ini semua berkat sihir.

            Rumah es yang diciptakan menggunakan sihir dingin mampu mengawatkan daging dalam waktu yang lama, dan berburu daging pun menjadi lebih mudah dengan menggunakan sihir untuk membuat tombak dan anak panah mengenai sasaran, sekali pun biasanya meleset. Bahkan, anak-anak sekali pun mampu mengumpulkan buah-buahan dari pepohonan tinggi di hutan dengan memanipulasi dan mendengarkan suara rerumputan.

            Nina dan aku melindungi semuanya dari ancaman luar, dan sejauh ini belum ada epidemi besar, sehingga saat ini kami tidak ada masalah.

            Lalu, satu masalah pun akhirnya muncul.

            "Jumlah tanaman dan hewan yang bisa dimakan berangsur menurun dari tahun ke tahunnya. Sementara, populasi kita terus meningkat. Padahal, semua orang butuh makan… tetapi, itu baru akan terjadi dalam 128 tahunan lagi."

            Tak sepenuhnya memahami penjelasanku, Yuuki dan Amata menatapku dengan wajah bingung. Hanya Nina seorang yang mengangguk paham.

            "Tetapi, kakak pasti akan mengatasinya ‘kan?"

            "Ya, tentu saja."

            Mana mungkin desa ini kubiarkan binasa. Aku harus mengembangkan sekolah ini, hingga bisa dikenal di seluruh dunia.

            "Anda sudah tahu apa yang mesti dilakukan?"

            Aku mengangguk atas pertanyaan serius Amata.

            "Sudah waktunya mengolah lahan."



⟵Back         Main          Next⟶


Related Posts

Hajimari no Mahoutsukai Volume 02 Chapter 01 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh

1 komentar:

June 27, 2019 at 4:21 PM delete

Whohh... akhirnya update. Next min

Reply
avatar