Saturday, February 10, 2018

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 03 Bahasa Indonesia


Chapter 03 – Rigal Den ①




Rigal Den, adalah sebuah dungeon bagi para pemula.

Walaupun ada banyak dungeon yang terletak di seluruh dunia, kelihatannya yang satu ini adalah dungeon pertama bagi siapa pun yang baru memulainya.

Alasannya ada dua. Pertama, level demon yang muncul di dungeon ini rendah. Kedua, Rigal merupakan demon yang unik di dungeon ini karena memberikan sejumlah exp (experience point) yang begitu banyak.

Kelompok terdepan kami sudah mulai bertarung.

            "Roh angin, hempaskanlah semuanya! Wind!"

Angin yang berhembus karena sihir murid perempuan pun menghentikan ketiga Rigal.

Rigal merupakan demon yang mirip dengan kalajengking besar, ukurannya sekitar lima kali dari ukuran yang normal. Mereka dilindungi oleh karapaks yang keras, jadinya serangan fisik tak terlalu mempan terhadap mereka. Akan tetapi, mereka lemah terhadap sihir tipe api.

Bahkan sihir serangan tipe api terlemah pun, Fireball, mampu mengalahkan mereka.

Meski bukan berarti aku bisa menggunakannya.

            "Roh api, bakarlah semuanya! Fireball!"

Samejima melancarkan tiga bola api ke arah Rigal.

Monster tersebut pun mengeluarkan erangan kematian dan berubah menjadi butiran-butiran cahaya saat mereka mati.

            "Aku berhasil! Aku sudah level 17!"

Seorang gadis yang menghentikan serangan Rigal menggunakan sihir Wind melakukan pose kemenangan.

Hebat. Mungkin itulah hasil karena berada di garis depan sepanjang waktu.

Ngomong-ngomong, aku mampu membunuh dua demon yang mirip dengan semut besar sebelumnya, jadi aku sudah level 2.

Bagiku mereka adalah musuh kuat karena aku tak bisa menggunakan sihir. Membutuhkan beberapa serangan untuk mengalahkannya, jadinya Heige menyuruhku untuk tetap berada di garis belakang karena aku hanya mengganggu.

Stamina-ku pun rendah.

Setidaknya akan lebih baik kalau mereka menyembuhkanku.

            "Serius? Selamat, Sajima. Bantuan yang bagus tadi"

Samejima memuji Sajima. Seperti itulah kepribadiannya, tapi bahkan para gadis pun jatuh cinta terhadapnya.

            "Eheheh, begitu, ya! Makasih!"

Gadis itu, Sajima, tersipu karena mendapatkan pujian.

            "Kalian berdua, ini bukan tempat untuk berbuat hal bodoh seperti itu. Jangan lengah, kalau tidak kau bisa terbunuh"

Kesal—atau mungkin muak—dengan perilaku mereka, Heige pun memberikan peringatan.

            "Aku tahu, aku tahu. Jadi di sana ada tangga menuju ke bawah..... bagaimana kalau kita pergi ke sana?"

Menyeringai, dia menunjuk pada tangga.

Heige pun bermuka masam saat mendengar usulannya.

            "Tidak boleh. Daerah sana masih belum dipetakan, semuanya masih belum diketahui"

Untuk kepentingan para pemula, Rigal Den sebagian besarnya sudah terpetakan ketimbang dungeon lainnya.

Setelah sampai di lantai 50, level-mu akan meningkat cukup tinggi hingga takkan ada masalah untuk pergi ke dungeon selanjutnya.

Negeri ini pun merasakan hal yang sama karena tak perlu sia-sia membahayakan orang untuk memetakannya, jadi pemetaan hanya diselesaikan sampai lantai 50.

Dan kami pun sudah berada di lantai 50.

            "Tenang saja, kita punya banyak orang. Selain itu, dengan kekuatan kita yang sekarang seharusnya kita cukup aman"

            "Akan selalu ada pengecualian. Apa rencanamu kalau ada demon yang bahkan tidak bisa dikalahkan oleh kalian semua?"

            "Tidak akan ada. Maksudku, ayolah, bukannya ini cuma dungeon pemula? Sampe sekarang tidak ada monster kuat yang muncul di lantai mana pun, iya ‘kan?"

            "Tidak, tapi......"

            "Naik level juga semakin sulit..... ‘kan? Dengan melakukan ini akan mengurangi jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mengalahkan Raja Iblis. Bukannya itu bagus?"

Samejima terus menekankan niatnya.

Semua yang dikatakannya itu memang masuk akal.

Bahkan bisa dibilang kalau kemungkinan seseorang mati saat mencapai lantai 50 hampir nol.

Akan tetapi, Heige kelihatannya merasakan adanya semacam bahaya yang sedang menanti.

Saat Samejima mendesaknya untuk mengatakan alasan kenapa tak boleh pergi, dia tak bisa mengatakannya. Kemungkinan besar itu intuisi yang dia dapatkan dari pengalamannya selama bertahun-tahun.

Karena itulah dia bingung bagaimana cara untuk menanggapinya.

Waktu yang dihabiskan karena kebingungan pun berubah menjadi kekalahannya.

            "Dia bilang tidak apa-apa! Ayo pergi, Shinji!"

Menjadi tak sabar, Kijima pun mulai berlari ke tangga seolah mendahului yang lainnya.

            "Takeshi, tunggu!"

            “Ah, Samejima!"

            "H—Hei, kalian! Sialan!"

Seolah itu merupakan lampu hijau, semua teman-teman sekelasku pun yang berada di lantai 50 saling mengikuti menuruni tangga.

            "..... Eh"

Menyisakanku sendirian, dan bingung harus melakukan apa.

Aku tak mempunyai alasan untuk mengikuti mereka. Bukan berarti segera kembali pun akan mengubah cara mereka memperlakukanku, jadi aku tak perlu mencemaskannya.

            “Open

Katsuragi Daichi

Job : Hero Lv.2
Stamina : 18
Mana : 21
Strength : 58
Resistance : 305
Dexterity : 14
Special Abilities :
              ·         Tidak ada

Melihat status-ku, sekali lagi aku menyadari kalau aku tak bisa melakukan apapun sendirian.

            "..... Ya, pergi sendirian bukan ide yang bagus....."

Aku pun terburu-buru menuruni tangga di belakang mereka.

Sialan, orang-orang brengsek itu pergi terlalu cepat!


***Sudut Pandang Samejima***


Aku, Samejima Shinji, sudah sampai di lantai 51. Tak ada seorang pun yang pernah menginjakkan kaki di lantai ini sebelumnya.

Demon seperti apa yang bersembunyi di sini? Hanya memikirkannya saja sudah membuatku bersemangat!

Membunuh monster sangatlah menyenangkan!

Semakin banyak yang kubunuh, maka semakin kuat pula aku. Aku akan menjadi lebih kuat dari siapapun.

Kepribadianku mewajibkan segalanya harus berjalan sesuai dengan keinginanku.

Kini, aku menginginkan si Claria itu. Aku tak pernah sangat menginginkan wanita seperti ini sebelumnya.

Claria mungkin seorang dewi, tapi begitu aku membunuh Raja Iblis karena sekarang aku adalah seoarang pahlawan, aku akan membuatnya menjadi milikku dengan menggunakan keinginanku.

Mungkin juga ada orang lain yang mempunyai keinginan yang sama sepertiku. Aku takkan menahan diri pada mereka begitu waktunya tiba.

Claria aka menjadi milikku.

Untuk itu, aku membutuhkan kekuatan.

            "Samejima! Ada Ariant di depanmu!"

            "Ya!"

Aku memotong cecunguk yang melontarkan dirinya sendiri ke arahku dengan pedangku.

Terbelah menjadi dua, cecunguk itu pun menabrak tembok dan lenyap.

            "Sekarang ini ada banyak monster yang menyerang sendirian, kenapa ya?"

Berdiri di garis depan bersamaku sepanjang waktu ini, Sajima terlihat bingung.

Lantai ini pastinya berbeda dengan lantai yang sebelum-sebelumnya, sudah ada banyak demon yang menyerang sendirian.

            "Mereka malah memudahkan kita, bukannya ini bagus?"

            "..... Benar. Malah menguntungkan"

            "Ya"

Kelihatannya Sajima pun setuju.

Aku bisa memanfaatkannya. Aku tahu dia pasti berguna buatku, aku akan memanfaatkannya dengan membawanya ke dalam kelompokku.

Kemampuan Sajima yang disebut Saint’s Smile membuatnya bisa menyembuhkan mana dan stamina seseorang sepenuhnya.

Mampu memulihkan keduanya sangatlah berharga.

            "Hei, Shinji! Pintu itu bukannya kelihatan aneh!?"

Pergi di depan kami, Takeshi menemukan sebuah pintu dengan pola aneh di atasnya saat aku sedang memikirkan bagaimana cara yang terbaik untuk mendapatkan Sajima.

            "Aku.... belum pernah melihat formasi sihir ini sebelumnya"

Mengikuti di belakang kami, Heige mendekati pintu itu dan melihat formasi sihir-nya dengan teliti.

Bahkan bagi seorang veteran seperti dia pun belum pernah melihatnya.... apa ini semacam formasi sihir baru?

            "Ayo kita buka!"

            "..... Ya, ayo. Semuanya, bersiaplah untuk bertarung"

            "Baik!"

Setiap dari teman-teman sekelasku mempersiapkan diri saat aku memberikan perintah.

Saat aku mengangguk untuk memberi tanda, Kijima pun dengan mudah membuka pintu yang terlihat mewah dengan kemampuannya, Overdrive.

Pintu pun mengerang dengan gemuruh pelan saat dibuka.

Apa yang kulihat di dalam...... tak ada apapun selain ruangan yang luas.

            "Tempat apa ini.....?"

            "Kayaknya tidak ada apa-apa di sini....."

Kami semua pun masuk ke dalam ruangan untuk melihat lebih jelas.

Lalu, begitu kami sampai di tengah ruangan, sesuatu yang aneh pun terjadi.

Suara yang nyaring pun bergema memenuhi ruangan itu.

Begitu bunyi mulai mereda, cahaya yang menyilaukan pun turun dari langit-langit.

            "Cahaya apaan ini!?"

Semuanya melihat ke atas untuk melihatnya.

Cahaya itu pun mereda setelah beberapa detik, dan digantikan oleh kegelapan yang mulai menjalar memenuhi langit-langit.

kegelapan itu pun mulai terjatuh.

Penghlihatanku pun perlahan mulai membaik, dan aku mulai menyadari apa itu.

            "DDemon!! Itu sekelompok demon!"

Seseorang meneriakkan gumpalan gelap itu.

Sejumlah besar Rigal berjatuhan, jumlahnya tak bisa dibandingkan dengan yang kami pernah lihat sampai sejauh ini. Kalau terus seperti ini, kami semua akan dimakannya.

            "Cepat, lari!"

            "Percuma! Kita terkepung!!"

            "Apa?!"

Terlalu bingung dengan apa yang terjadi di atas kami, Ariants dan Wulves pun mengepung kami.

Aku pun ingat perangkap yang mirip dalam gim yang pernah aku mainkan.

Kalau tak salah, ini disebut—

—Rumah Monster.

            "Roh air, berubahlah menjadi peluru dan tembaklah musuhku! Splash Gatling!"

Peluru air muncul di udara, menembaki para Rigal yang jatuh.

Yang lainnya pun meniru dan mulai menembakkan sihir yang sama secara beruntun.

Mereka menggunakan banyak mana.

Walau begitu, demon terus mengerumuni kami.

            "Siallan! Kebanyakan!"

            "Kalian semua, tenanglah!"

            "Cepat dan tembakkan lebih banyak sihir lagi! Kita akan hempaskan mereka untuk membukakan jalan menuju pintu keluar!"

Teriakkan terdengar dimana-mana.

Demon pun berhasil membuat jalan ke dalam kelompok kami.

Karena terperangkap oleh Rumah Monster, kelompok kami pun jatuh panik.

            "Siapa saja yang dekat dengan pintu masuk, kau harus membukakan jalan! Lakukan apapun yang bisa kau lakukan!"

            "Roh api! Hanguskanlah musuhku! Burning Wave!"

            "Roh angin! Bukakan jalan untukku! Sonic Wave!"

Para murid yang dekat dengan pintu masuk yang mendengar perintahku menggunakan sihir kekuatan tertinggi mereka satu demi satu.

Tembakkan api dan angin membakar dan mengiris para Rigal, mengiris mereka menjadi tipis.

Akan tetapi, Wulf melompat dan menghindari serangannya.

            "Apa!? Heige! Apa itu!?"

            "Itu High Wulf! Demon itu pintar dan kuat! Berhati-hatilah terhadap kecepatannya! Demon itu seharusnya tak berada di dungeon lemah ini!"

Mendapatkan banyak informasi dari Heige, aku memusatkan perhatianku pada High Wulf.

High Wulf menyerang dengan giginya yang tajam. Menunduk dan berguling ke samping, dengan cepat aku pun berdiri kembali.

            "Tch....!"

            "Grrrr"

Kami saling menatap satu sama lain, tak bergerak.

Aku memikirkan cara untuk mengeluarkan kita dari kekacauan ini.

            "Semuanya! Aku akan menyinarkan cahaya sebentar untuk membutakan mereka! Gunakan kesempatan ini untuk pergi ke tangga! Mengerti?!"

Aku tak tahu apa mereka bisa mendengarku melalui keributan yang sedang terjadi ini, tapi sekarang aku tak bisa mencemaskannya.

Seorang lelaki harus menyelamatkan dirinya sendiri!

            "Cahaya suci, sinarilah mereka yang tinggal dalam kegelapan! Shining!"

Mengangkat tangan kananku, aku melepaskan massa dari mana-ku yang melayang ke udara.

Mengiringi suara ledakan, cahaya yang kuat pun memenuhi ruangan. Mendengar semua demon melolong dan mengerang, aku pun langsung berlari keluar dari pintu dan menuju tangga.

Yang lainnya pun melakukan hal yang sama. Akan tetapi, seorang gadis tertangkap oleh High Wulf.

            "Tolong! Seseorang, tolong aku!"

            "Shuri!!"

            "Hei, Sajima....! Tch!"

Sajima yang berlari di sampingku pun terhenti dan berputar 1800. Dia mencoba kembali, tapi aku memukul bagian belakang lehernya dengan tanganku supaya pingsan. Membawanya dalam pelukanku, aku pun mulai berlari.

Ini yang terbaik. Orang yang tak berguna akan mati dan yang berguna akan hidup.

            "Cepat! Mereka mengejar kita!"

Cahaya yang menyilaukan pun lenyap dan para demon mengejar kami dalam sekelompok besar.

Sial, sial, sial, sial!

Aku terlalu banyak menghabiskan mana dalam pertarungan itu.

Mana terhubung langsung dengan kekuatan kehendakmu. Kalau terlalu rendah, maka takkan bisa berpikir dengan benar. Aku harus menghindarinya!

            "Apa aku.... akan mati di sini....?"

            "Tidak, aku tak ingin mati!"

Aku bisa mendengar orang yang mulai putus asa.

Tekad mereka hilang karena terlalu banyak menggunakan sihir.

Pada saat ini, yang bisa kita semua lakukan hanyalah mengandalkan serangan fisik.

Bagaimana agar kita bisa menjauh dari mereka?

Bagaimana.....!?

            ".... Hmm? Ap—!? Apa yang terjadi?"

Aku mendengar suara yang heboh. Seseorang yang belum terjerumus dalam keputusasaan.

Saat aku melihat asal dari suara itu, aku melihat Katsuragi.

            "Hei, Katsuragi! Larilah ke tangga! Larilah secepat mungkin! Demon mengejar kita!"

Aku memerintah Katsuragi. Kepribadian sampahnya takkan membuatnya menentangku.

            "Hah!? Dasar brengsek kau, aku tahu kau pasti bohong!!"

Seperti yang kuduga, dia berlari ke tangga. Si babi brengsek itu mungkin mengetahui cara untuk kabur.

Dia tahu jalan tercepat untuk kembali ke tangga.

Dia mulai naik begitu kami mencapai mereka.

Sekaranglah kesempatanku.

            "Makasih, Katsuragi!"

            "Eh?"

Dia tak percaya kalau aku benar-benar berterima kasih padanya dan menengok ke belakang.

Dia berhenti berlari.

Itulah yang aku tunggu.

            "Roh api, bakarlah dia! Fireball!"

Aku melancarkan bola api dari tanganku dan menyerang si brengsek itu.

            "Ap—..... uwaaah!!"

Pakaiannya pun terbakar, dia diselimuti oleh api.

Membungkuk di tanah, dia pun berteriak kesakitan.

            "Semuanya! Ayo pergi ke atas sebelum terlambat!"

Mengikuti teriakanku, teman-teman sekelasku pun dengan cepat mulai menaiki tangga.

Tekad mereka sudah berkurang, jadi saat ini satu-satunya hal yang bisa mereka pikirkan adalah keselamatan diri sendiri.

Tak ada satu pun dari mereka maupun para prajuit yang menyalahkanku. Hanya Heige lah satu-satunya yang berwajah masam, tapi dia juga tetap diam.

            "Apa sudah semuanya!?"

            "Tolong.... tunggu! Aku.... aku masih di sini!"

Salah seorang yang berteriak adalah Katsuragi. Bajunya hangus dan beberapa kulitnya terlihat hitam. Mungkin luka bakar.

Dia mencoba menaiki tangga dengan merangkak.

Monster berada tepat di belakangnya.

            "Berisik brengsek. Kau masih punya tugas penting. Semuanya! Bantu aku mendorong benda ini kembali ke bawah! Demon takkan datang kalau kita melakukannya! Kita akan selamat!"

            "Ap—"

            "Serius!?"

            "Kita akan hidup.... kita bisa kembali....?"

            "Akan kulakukan..... kalau tidak aku akan mati!"

Setelahnya, merupakan hal yang menggelikan.

Salah satu dari mereka membelenggu kaki Katsuragi dengan sihir tipe tanah, yang satunya lagi mengangkatnya.

Lalu, tanpa ragu sedikit pun, melemparkannya kembali pada para demon.

            "Ah—"

Suara bodoh yang pantas dengan wajah bodohnya.

Katsuragi pun jatuh ke para demon, tubuhnya pun menghilang dari pandanganku.

Dia mungkin akan dimakan oleh mereka sampai ke tulang-tulangnya.

Ini cara yang terbaik untuk bertahan hidup yang kupikirkan.

Aku membutuhkan beberapa umpan agar pergerakan para demon terhenti, tapi tak mungkin aku bisa menggunakan salah satu dari kami pahlawan sebagai makanan.

Tapi ada satu orang yang cocok. Katsuragi Daichi, barang tambahan kelas kami. Tak ada seorang pun di negeri ini yang harus mempedulikannya, lagian dia cuma Pahlawan tak Berguna.

Dia menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Para demon pun memakannya dengan tergila-gila.

            "Bukannya itu hebat, Katsuragi? Kau akhirnya bisa berguna"


Aku menutup tangga dengan menggunakan sihir, menutupnya hingga tak ada satu pun demon yang akan mengikuti kami.

⟵Back         Main          Next⟶




Related Posts

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 03 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh

1 komentar:

April 11, 2018 at 8:01 PM delete

An+@j+××g...
Bang@#+ amat teman nya....

Reply
avatar