Saturday, February 10, 2018

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 02 Bahasa Indonesia


Chapter 02 – Dipanggil Dewa ke Dunia Lain ②



Sudah seminggu semenjak kami tiba di istana.

Dipimpin oleh Samejima, semuanya mendiskusikan mengenai bantuan dari istana.

Informasi yang kami dapatkan adalah sebagai berikut :

Istana ini berada di negeri yang disebut Wrystonia. Ini adalah negeri yang paling maju di antara semua negeri di Rostalgia.

Baginda Ginger kelihatannya mendukung penuh Samejima dan yang lainnya, bahkan tanpa menanyai mereka.

Kebanyakan pengajar yang terkemuka dan ahli dalam kemampuan berpedang, sihir, dan bela diri berada di istana ini.

Setiap masing-masing orang diberi kamar dan pelayan sendiri untuk memenuhi kebutuhan mereka. Aku iri.

Dan kini untuk bagian yang terpentingnya.

Itu tak termasuk diriku.

Alasannya karena pemeriksaan kemampuan kami lima hari yang lalu.

Aku mengingat kejadiannya dengan jelas.

Pertama, kami dikumpulkan di ruangan istana yang luas.

Mereka mengidentifikasi status semuanya, sesuatu yang penting dalam pertempuran.

Karena semuanya bingung saat mereka mengatakan status, Heige Strauss, Jenderal militer Wrystonia, menjelaskannya dengan detail.

Di Rostalgia, sebuah jendela dengan status-mu akan muncul di atasmu saat kau mengatakan kata open.

Stamina tepat seperti namanya. Walaupun kau takkan mati saat stamina-nya menyentuh angka nol, kau hanya akan pingsan dan tak bisa bergerak. Saat pingsan di dungeon sama dengan mati, kami disarankan agar tak membiarkannya sampai nol.

Mana mengacu pada jumlah jiwa yang habis saat kau mengaktifkan sihir. Kami diberitahu untuk berhati-hati supaya tak terlalu sering menggunakannya karena akan membuat pikiran kami melemah.

Strength sederhana, yakni kekuatan fisik setiap harinya. Dalam pertarungan langsung, seseorang yang mempunyai strength lebih tinggi akan unggul.

Resistance adalah jumlah nilai yang diberikan untuk berapa banyak damage yang kita terima berkurang. Semakin kau terbiasa dengan rasa sakit, maka semakin tinggi pula jumlahnya.

Dexterity berkaitan dengan seberapa cepat kau bisa bergerak. Semakin tinggi jumlahnya, maka semakin mudah pula menghindari serangan.

Merasa bahwa keselurahan sistem-nya serupa dengan gim, aku pun membuka status-ku sendiri untuk melihatnya.

            “Open

Katsuragi Daichi

Job : Hero Lv.1
Stamina : 75
Mana : 20
Strength : 50
Resistance : 300
Dexterity : 10
Special Abilities :
              ·         Tidak ada

.... Huh?

Angka-angkanya tak sekalipun terlihat tinggi.....?

Bukannya aku mendapatkan sebagian kekuatannya Claria?

.... Tidak, mungkin ini cukup dianggap kuat?

Seperti resistance-ku yang sangat tinggi..... itu karena aku terbiasa dengan rasa sakit.

Lalu, tepat seperti yang bisa diduga, secerah harapanku itu pun musnah.

            "Hebat, Shinji!"

Samejima Shinji

Job : Hero Lv.1
Stamina : 500
Mana : 430
Strength : 480
Resistance : 300
Dexterity : 500
Special Abilities :
              ·         [Holy Guidance] Keefektifan sihir cahaya dua kali lipat
              ·         [Dangersense] Meningkatkan dexterity 10% saat musuh menyerang

Selain satu status-nya, semuanya lima kali lipat dari milikku.

Dia bahkan mempunyai kemampuan spesial.

Sedikit mengejutkan bahwa resistance-nya sama denganku. Aku sama sekali tak mempuyai satu hal pun yang kuat.

Semakin banyak orang yang memeriksa status-nya, tapi mereka semua mempunyai kekuatan spesial juga.

Tak ada satu pun dari mereka yang mempunyai status yang lebih tinggi dari Samejima, tapi setidaknya status mereka dua kali lipat dari punyaku.

Mereka pastinya menerima perlindungan suci Claria. Sudah jelas bahwa Samejima diberi perlakukan istimewa juga.

Setelah itu, aku pun sedikit mendengarnya, tapi bakan prajurit biasa pun rata-rata nilai status-nya lebih dari seratus.

Sebagai orang yang paling hebat dalam pasukan negara, statusnya Heige sudah mencapai sekitar empat ratus.

Pokoknya, aku lebih lemah dari prajurit pemalas.

Aku bisa mengambil peran pertahanan untuk memanfaatkan resistance-ku, namun stamina-ku sangat rendah sehingga aku bisa langsung roboh.

Aku tak berguna.

Mengapa cuma aku?

Karena aku lemah?

Karena aku jelek?

Aku tak tahu kenapa.

Setelah itu, status-ku pun diketahui oleh yang lainnya, yang dengan cepat membuatku dikenal sebagai Pahlawan tak Berguna di antara penghuni istana.

Baginda Ginger pun dengan cepat memutuskan dukungannya terhadapku. 29 orang lainnya adalah pahlawan berlevel tinggi, dia tak punya alasan untuk mengurusiku.

Aku pun tidur di kandang kuda. Teknik berpedang, bela diri, sihir, aku terpaksa mempelajari semua itu sendiri.

Tak mungkin aku bisa mempelajari semuanya. Tapi kalau aku mengeluh, mereka pasti mengusirku. Setidaknya, aku ingin terhindar dari hal itu.

Ini semua karena aku lemah.

Tak bisa melakukan, mengalahkan, atau memenangkan apapun.

Aku tak menginginkannya!

Aku diberitahu kalau aku akan di bawa ke ekspedisi dungeon selanjutnya karena belas kasihan, tapi kehidupanku di dunia ini akan berakhir kalau mereka menilai bahwa aku tak layak untuk melakukan apapun.

Siapapun bisa melihatnya.

Karena itulah aku akan melakukan yang terbaik sepanjang minggu ini, lebih dari sebelumnya.

Aku mengurangi jam tidurku sampai batas maksimal.

            "98..... 99.... 100!"

Setiap harinya aku mengayunkan pedang sebanyak 3 set dengan 100 kali setiap setnya dan memastikan untuk berlari selama mungkin.

            "Api, menyalalah! Fire Seed!"

Aku juga berlatih sihir. Aku akhirnya bisa membuat api sampai seperti pemantik api.

Teman-teman sekelas brengsekku kelihatannya bisa menggunakan sihir yang lebih efektif dan kuat, tapi aku kalah kalau aku mencemaskannya.

Sebaliknya, aku ingin memuji diriku yang sudah melakukannya sampai sejauh ini. Kerja bagus, diriku.

Aku mampu membodohi diriku seperti itu.

Aku bisa sedikit lebih kurus karena mereka memberiku makan sangat sedikit dan seberapa banyaknya aku berolahraga.

Akan tetapi, status-ku sama sekali hampir tak berubah.

Walau strength dan stamina-ku sedikit meningkat. Tak peduli berapa kali aku menggunakan sihir, mana-ku sedikit pun sama sekali tak meningkat.

Ini ada kaitannya dengan jiwa seseorang, jadi apa mungkin aku harus merasa senang?

Untuk mencobanya, aku menghabiskan sepanjang hari dengan tersenyum. Menghindari pikiran soal mengasihani diriku sendiri, aku pun mencoba berpikir positif.

Itu membuat orang lain yang melihatku merasa tak nyaman, tapi berhasil.

Mana-ku meningkat satu poin.

Aku bersumpah kalau aku takkan pernah melakukannya lagi.

Aku lalu memakai cara yang aku pikirkan untuk meningkatkan status-ku seefesien mungkin.

—Tak lama kemudian, hari yang penting pun tiba.

Dikawal oleh Heige dan enam prajurit lainnya, kami memulai ekspedisi kami ke dalam dungeon terbesar Wrystonia, Rigal Den.

Semuanya terlihat percaya diri walau sedang menuju pertempuran.

Atau lebih tepatnya, mereka terlihat seperti anak SD yang sedang darmawisata.

Kenapa mereka begitu menganggap remeh ini?

Aku malah ingin segera kembali sekarang juga.

.... Setidaknya, mari pastikan agar aku berada dalam posisi terbaik untuk kabur. Dexterity-ku hanya naik 3 poin.

Saat teman sekelasku yang terakhir memasuki dungeon, aku pun mengikuti di belakang mereka.

Kala itu aku tak begitu menyadarinya.

—Takdir kejam yang telah menantiku.

*Karena novel ini mempunyai sistem yang mirip dengan game, maka untuk status, skill, nama sihir dan sebagainya, aku memilih untuk tidak menerjemahkannya kecuali deskripsi dan tingkatan (rank) sihirnya.

⟵Back         Main          Next⟶



Related Posts

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 02 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh

2 komentar

April 4, 2018 at 4:59 PM delete

Wow hampir mirip dengan arifureta ....

Reply
avatar