Tuesday, October 23, 2018

Hajimari no Mahoutsukai - Volume 01 - Selingan Bahasa Indonesia


Selingan – Rembulan yang Tersembunyi di Balik Mega


Malam bulan purnama tak berawan.

Akan bagus bila ada anak angin musim gugurnya.

Nasib baiknya, kondisi terbaik untuk menenun bulan didapati sepuluh hari sebelum perhelatan dimulai.

Cahaya bulan hinggap di ujung jari tanganku, lalu mengitari gelendong yang kubuat dari cabang pohon.

Aku benci dengan seberapa formal dan kakunya etiket yang kupelajari di kampung halamanku, tapi hanya bagian inilah yang kusukai.

Cahaya bulan yang menjadi benang semakin kuat tiap kali kumelilitkannya mengitari gelendong, dan cahayanya bersinar bak bintang dalam kegelapan.

Lambat laun pikiranku yang kabur ini semakin jelas saat terus memusatkan perhatianku pada kilauannya.

Saat ini aku tak boleh kehilangan fokus.

Namun biarpun begitu…

            "Mau sampai kapan kau di sana?"

Sewaktu kumenoleh pada penyebab kekaburan tersebut, dia keluar dari balik pohon yang dia coba jadikan tempat bersembunyi.

            "Maaf, aku tak bermaksud mengganggumu…"

Sulit untuk tak menyadarinya.

Dibalut dengan sisik merah, dia cukup besar hingga terlihat bisa memakanku dalam satu gigitan. Mana mungkin penampilannya yang mencolok tersebut akan bisa sembunyi di balik pohon seperti itu.

            "Wah, itu… kau merubah cahaya bulan menjadi benang?"

            "Eng, beigtulah."

Menjawabnya dengan rada cuek, aku terus memutar-mutarkan tanganku.

            "Pematerialisasian… jadi bisa juga dilakukan? Aku ada dengar soal tradisi di mana menyingkapkan benang ke cahaya bulan akan memberinya kekuatan mistis, tapi tak disangka cahaya bulan itu sendiri bisa menjadi benang…"

Seperti biasa, dia menggumamkan sesuatu yang tak bisa dipahami dan merasa terkesan oleh sesuatu yang juga tak bisa kupahami sama sekali.

            "Nina, jangan-jangan kaumembuat pakaianmu dari benang itu juga?"

            "Bukanlah. Pakaianku kurajut dari angin."

            "Angin…"

Mana mungkin benang bulan bisa digunakan untuk pakaian sehari-hari. Dia menunjukkan tampang aneh sewaktu kumenjawab pertanyaannya dengan logis.

            "Boleh kuamati kau menenun itu?"

            "Tidak boleh."

Aku tak terlalu keberatan kalau hanya saat melakukan pemintalannya saja, tapi menenun memerlukan banyak konsentrasi.

Hanya membayangkan dia menatapku selagi menenun saja sudah membuatku merasa lelah.

            "Mungkinkah kau harus sendirian saat menenun?"

            "Kebiasaan apaan itu? Aku hanya tak suka terganggu saja."

Naga ini kebanyakan berkata hal-hal aneh.

Apa semua naga itu memang seperti dirinya? Tapi aku tak bisa memutuskannya begitu saja karena aku belum pernah bertemu dengan naga lainnya…

            "Benarkah? Baguslah. Aku akan sangat malu kalau kaubilang harusnya aku tak ada di sini…"

Tidak, dia pasti yang paling aneh, bahkan di antara naga lainnya sekali pun.

Yah, maksudku… Ini naga banyak berkata hal-hal aneh.

            "Benangnya koyak, nih…"

            "Eh, ap-apa itu salahku?"

Tentu sajalah. Aku merengut padanya.

Benang bulan tipis dan repih, jadi itu akan langsung hancur kalau konsentrasimu terhenti.

            "Terus bagaimana, nih?"

            "Yah enggak gimana-gimana, lagian itu terlalu pendek untuk dibuat pakaian."

Helaian-helaian benang bulan yang tercerai tak bisa saling diuntaikan lagi, jadi aku harus mulai dari awal lagi. Sewaktu kumelepas separuh gelondong benang, si naga itu menatapnya dengan saksama.

            "Sayang sekali, padahal itu sangat indah."

Dia berkata begitu seolah tak peduli seperti biasanya. Bahkan, dia mungkin tak tahu makna di balik perkataannya itu sendiri.

Dia mungkin tahu banyak kata-kata, tapi kurasa dia tak begitu memahami perbedaan kecilnya.

            "Akan kuberi kalau kau mau."

            "Biar diberi juga mana bisa cakarku… oh, benar juga."

Si naga itu tiba-tiba menyadari sesuatu saat melihat benangnya.

            "Boleh aku minta bantuan?"

***

            "Mau di saat engkau sehat, sakit, senang, ataupun sedih, apakah engkau bersumpah untuk menyayangi, mengasihi, menghargai, dan mendukungnya dengan segenap kekuatanmu?"

Kuberpaling pada Ai dan mengatakan kata-kata yang sudah ia ajarkan padaku.

Mau dilihat bagaimanapun juga, aku tak bisa memercayai bahwa ungkapan yang beradab seperti itu bisa terpikirkan olehnya.

            "Aku bersumpah."

Jawab Ai dengan suaranya yang syahdu. Wajahnya tak nampak karena tertutup oleh kain bulan.

Dia memintaku untuk menenunkan benang pendek itu menjadi kain yang bisa menutupi wajahnya.

            "Kalau begitu—tutup sumpahmu dengan ciuman."

Dia meminta bantuan, tapi akhirnya akulah orang yang melakukan ritusnya.

Menuruti apa yang kukatakan, dia dengan hati-hati mengangkat cadarnya Ai.


Pada saat itu, aku paham makna di balik kain itu.

Tersembunyi di balik kain itu adalah, wajahnya Ai yang sangat cantik hingga membuatku terkejut.

Sekalipun yang menyembunyikan wajahnya adalah kain yang terbuat dari cahaya bulan, yang muncul dari balik cadar itu adalah, wajahnya yang teramat sangat cantik ketimbang rembulan yang muncul dari balik mega.

Dengan pipinya yang merona merah mudah, matanya berkaca-kaca. Senyumannya lembut, benar-benar bagaikan di bawa ke atas awan oleh kegembiraannya.

Kecantikannya cukup membuatku berpikir, bahwa dia pasti yang paling cantik di dunia.

Dan tatapan dia padanya, adalah yang paling lemah lembut sejauh ini.

Sudah kupikir bahwa akan sangat bagus kalau mereka cepat-cepat melakukan ini, memercayainya kalau itu harusnya terjadi… tapi kini, mengapa hatiku tak kunjung berhenti berkecamuk.

Ai mengulurkan tangan pada wajah dia, mendekatkan wajah dia padanya hingga hidung mereka saling bersentuhan.

            "Di sini, kunyatakan bahwa pasangan baru telah terlahir."

Entah bagaimana, aku berhasil mengucapkannya. Sorakan dan tepuk tangan dari semua orang memberkahi keduanya.

Aku turut merasa senang sekaligus bahagia juga. Tapi mengapa… mengapa aku sulit bernapas? Mengapa serasa ada lubang di dadaku?

Apakah perasaan ini juga ada namanya?

Dia mungkin mengetahuinya.

Tapi melihat senyuman Ai bak bunga yang bermekaran di musim semi, membuatku merasa harus menunggu lama sebelum menanyakan soal itu pada kamus berjalan seekor naga.


⟵Back         Main          Next⟶


Related Posts

Hajimari no Mahoutsukai - Volume 01 - Selingan Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh