Arc 2.5 (Selingan)
Chapter
49 – Langit
Mereka memutuskan kalau Paul akan berjaga sepanjang
malam, sementara Wynn dan Leti akan berjaga saat fajar. Sambil menahan bau
ayam, mereka bersembunyi di balik kandang ayam supaya tak terlihat dari ladang.
Paul, yang terbungkus dalam selimut, mengamati
ladang dengan saksama. Tiba-tiba, dia mengguncangkan Wynn yang sedang tidur di
sampingnya.
“Ada
seseorang yang datang.... hei, bangunlah. Bangunkan Leti juga. Kita punya
‘tamu’ yang harus disambut”
Seketika, Wynn langsung terbangun. Lalu dengan pelan
membangunkan gadis itu.
Wynn lalu meniru Paul dan mengintip dari balik
kandang ayam.
Tentunya, dia melihat bayangan seseorang di ladang.
Mereka tak membawa lampu agar tak disadari, tapi
beruntungnya, terangnya langit malam sudah cukup bagi mereka untuk melihat
kalau itu adalalah manusia.
Jadi itu
benar-benar anak dari daerah kumuh......
Dinilai dari ukuran sosoknya, orang tersebut
kelihatannya seumuran dengan Leti.
Apa dia mencuri sayuran dari ladang karena tak bisa
mendapatkan cukup makanan untuk di makan?
Sembari merangkak, Leti mengintip dari bawahnya
Wynn. Secara spontan, Wynn pun melihat Leti sepintas.
Kalau memang
begitu, maka aku tak mengerti kenapa jejak kakinya terhenti.....
***
Kemarin malam, Wynn dan Paul meninggalkan Leti yang
sedang tertidur di gubuk. Wynn membawa Paul ke tempat di mana ia menemukan
jejak kaki itu.
“Kerja
bagus, Wynn”
Paul memang bisa di andalakan, ia melihat ada satu
jejak kaki kecil di tanah.
“Jejak
kakinya mengarah ke sungai. Kupikir lebih baik untuk mengikutinya lebih jauh lagi,
tapi pergi sendirian bukanlah pilihan yang terbaik”
“Yeah,
penilaianmu memang benar”
Mereka berdua kembali menelusuri jejak kaki yang
mengarah ke sungai.
Melewati dataran, mereka sampai di sebuah bukit
kecil.
Jejak kakinya terus belanjut ke atas bukit.
“Ini
mengarah jauh dari Simurgh”
“Benar.....
dia mungkin berputar mengelilingi bukit dan mengikuti sungai ke daerah kumuh
supaya tidak ditemukan. Atau mungkin ada desa terdekat, dan beberapa anak nakal
adalah pencuri itu”
“Apa
di sekitaran sini ada desa?”
“Ada
desa-desa yang tersebar di sekitar kota”
Mereka bisa melihat air sungai yang mengalir dengan
lembut dari puncak bukit yang disebut ‘bukit’. Sungai itu terlalu lebar untuk dilewati
tanpa jembatan.
“Jejak
kakinya semakin menjauh. Mereka pasti mulai berlari”
Jejak kaki kecil itu mengarah langsung ke sungai.
Wynn pun dengan cepat mengikuti jejak kaki itu.
Saat Paul mengikutinya, dia berpikir, ‘setidaknya
sebagian dari dirinya masihlah seperti anak kecil’.
“Ah”
Dengan bingung, Wynn berteriak.
“Ada
apa?”
“Jejak
kakinya terhenti........”
Saat Paul berhasil menyusul Wynn, ia melihat kalau
jejak kakinya benar-benar terhenti beberapa meter dari tepi sungai.
“Bisakah
kau melihat jejak kaki lainnya di tempat lain?”
“Apa
maksudmu?”
Dengan obor, keduanya menyisir area sekitar dengan
hati-hati, namun tak bisa menemukan petunjuk lain.
Kalau kita
mengejarnya sekarang, kita mungkin bisa menangkapnya, tapi......
Jika dari awal mereka tak tahu bagaimana jejak kaki
itu lenyap, akan berbahaya bila bergerak sembarangan. Bisa saja itu monster yang mempunyai
kemampuan semacam itu, bahkan jika Paul belum pernah mendengar mengenai monster
semacam itu.
Monster yang hanya mampu mencuri sayuran dan telur
tidak akan terlalu kuat. Tapi tetap saja, jika ia membiarkannya lolos, ia tak
akan bia memberikan laporan yang tepat pada petualang yang akan menaklukkan
monster itu.
Informasi adalah uang.
Ia akan mendapatkan upah tambahan bila bisa
memberikan informasi yang berguna bagi penaklukan.
“Ayo
kejar pencuri itu!”
Wynn dan Leti pun mengangguk setuju.
Sosok kecil itu mungkin bermaksud untuk mencuri
hasil panen kemarin dengan berjalan sempoyongan menjauh dari ladang.
Seperti yang diduga, kelihatannya mengarah ke bukit.
Saat pencuri itu berada di tengah ladang, mereka
bertiga keluar dari tempat bersembunyi mereka. Supaya tak disadari, mereka berjalan
jongkok dan mengejar sosok bayangan itu.
Saat sampai di ladang, mereka bisa melihat apa yang
dicuri pencuri itu adalah kepala kubis. Kubis bisa dimakan dengan dibuat sup
atau diawetkan dengan garam dan rempah-rempah.
Di atas daun besar di tempat di mana kubis di tanam,
mereka menemukan beberapa lumut yang bagus untuk dibuat salep.
“Dia
hampir sampai di atas bukit. Cepatlah!”
Cara berjalan si pencuri yang sempoyongan taklah
cepat, tapi hampir sampai di puncak bukit.
Akhirnya, sosok kecil itu sampai di puncak.
Lalu, ia berhenti sesaat sebelum berlari menuruni
sisi lain bukit, menuju ke sungai.
“Lari!”
Teriak Paul.
Merika bertiga pun mulai berlari.
Berkat latihan pagi mereka, Wynn dan Leti dengan
mudah mengejar Paul.
Mereka pun sampai di puncak bukit.
Tiba-tiba—
“Ap—?”
Pada punggung si pencuri, mereka melihat sepasang
sayap putih yang berkilau di bawah sinar rembulan. Dengan beberapa kekuatan
kepakan sayapnya, tubuh si pencuri itu pun melayang ke langit.
“Itu
Avian..... aku hanya membaca tentang mereka di buku”
*Di kanjinya tertulis, tusbasa-hito, manusia
bersayap.
Gumam Wynn.
Avian merupakan ras yang tinggal di dekat pegunungan
dan hutan. Ciri khusus mereka adalah sepayang sayap yang tumbuh dari
punggungnya. Selain itu, mereka tak berbeda jauh dari manusia.
“Kenapa
salah satu dari mereka ada di sini?”
Avian mempunyai kekuatan sihir yang sangat besar,
sampai-sampai mereka adalah salah satu ras yang dipuja oleh beberapa manusia di
daerah tertentu. Tapi sayangnya, karena bencana besar yang disebabkan oleh
iblis saat zaman kuno, jumlah mereka telah berkurang. Ada rumor mengenai
bebepra desa yang berhubungan dengan mereka.
“Aku
mengerti. Mereka menggunakan bukit untuk digunakan sebagai awalan berlari untuk
terbang. Misteri di balik jejak kaki telah terungkap. Itu bagus”
“Kurasa
tidak mungkin untuk mengejarnya”
“Aku
penasaran apakah para petualang dari Guild akan percaya kalau pelakukanya
adalah Avian”
Masih terkejut, Wynn dan Paul dengan pasrah saling
bertukar kata.
Mereka telah menemukan makhluk legendaris yang telah
terbang jauh dari jangkauan mereka.
Kelihatannya Avian itu menuju ke hulu hutan.
Bahkan jika mereka ingin mengejarnya, Avian itu sudah
terbang menyeberangi sungai.
“Apa
akan baik-baik saja jika kita berhasil menangkapnya lebih cepat?”
“Tapi
dari apa yang kubaca, Avian benar-benar kuat”
“.....
Tapi apakah pencuri itu cukup kuat untuk sampai dipuja?”
Tubuh si pencuri itu kecil, jadi meski pun itu
adalah Avian, mungkin masih kecil. Jika mereka menangkap anak itu, kemungkinan
Avian desawa akan datang untuk mengambilnya kembali.
“Ada
apa?”
Leti terlihat penasaran saat melihat Wynn dan Paul
yang tanpa henti membicarakan masalah ini.
“Apa
kita tidak akan mengejar orang yang terbang itu?”
Tanya Leti.
“Bahkan
jika kita mengejar peencuri itu, pastinya sulit karena dia terbang”
Jawab Paul.
“Kurasa
kita harus menangkap pencuri itu saat dia kembali”
“Tapi
meski pun kita mencoba menangkapnya lagi, bukankah dia akan terbang?”
“Mungkin
kita bisa memasang jebakan”
“Tapi
jika kita melakukannya, apa yang akan kita lakukan jika kau terluka? Kupikir
kita harus menyerahkannya pada petulang veteran”
“Huh?
Kita bisa menangkapnya sendiri. Bahkan jika kita memberi tahunRandy, besok
adalah hari liburnya”
“Apa
kita tidak akan mengejarnya?”
Tanya Leti sekali lagi.
“Selain
dia terbang, jika kita mengejarnya saat gelap begini.......”
Wynn menjawab pertannyaan Leti menggantikan Paul,
yang masih tenggalam dalam pemikirannya.
Sungai itu pun cukup lebar.
Walaupun aliran sungai tak cukup deras, mereka tak
tahu seberapa dalam sungai itu. Akan sangat berbahaya jika melewati sungai saat
gelap.
“Kalau
begitu, kita hanya harus terbang saja, ‘kan?”
“Apa?”
Wynn tak yakin apakah ia tak salah dengar. Paul pun
berpaling pada Leti.
“Tak
apa kalau kita bisa terbang, ‘kan Onii-chan?”
Tanya Leti lagi.
Pada saat itu, mereka merasakan hembusan angin yang
membelai wajah mereka.
Leti pun tersenyum senang pada Wynn.
Paul terpesona oleh senyumannya.
Itu sama sekali berbeda dari ekspresi yang ia buat
saat Wynn pergi sendirian untuk mencari petunjuk. Wajahnya Leti yang seperti
boneka tampak seperti seorang seniman yang sedang bersemangat. Keindahan
senyumannya yang begitu cantik terlihat sekilas.
Cahaya rembulan tampak berkumpul di sekitar kakinya
Leti. Jika dilihat dengan lebih teliti, tubuhnya Leti lah yang mengeluarkan
cahaya. Paul mennggosok matanya untuk memastikan apakah yang dilihatnya itu
nyata. Tiba-tiba, ia merasa ringan.
““Whoa!!””
Tubuh mereka pun melayang ke langit malam.
Yuusha-sama no Oshishou-sama Chapter 49 Bahasa Indonesia
4/
5
Oleh
Lumia