Chapter 03 – Rigal Den ①
Rigal Den,
adalah sebuah dungeon bagi para
pemula.
Walaupun
ada banyak dungeon yang terletak di
seluruh dunia, kelihatannya yang satu ini adalah dungeon pertama bagi siapa pun yang baru memulainya.
Alasannya
ada dua. Pertama, level demon yang
muncul di dungeon ini rendah. Kedua,
Rigal merupakan demon yang unik di dungeon ini karena memberikan sejumlah exp (experience point) yang begitu
banyak.
Kelompok
terdepan kami sudah mulai bertarung.
"Roh angin, hempaskanlah
semuanya! Wind!"
Angin
yang berhembus karena sihir murid perempuan pun menghentikan ketiga Rigal.
Rigal
merupakan demon yang mirip dengan
kalajengking besar, ukurannya sekitar lima kali dari ukuran yang normal. Mereka
dilindungi oleh karapaks yang keras, jadinya serangan fisik tak terlalu mempan
terhadap mereka. Akan tetapi, mereka lemah terhadap sihir tipe api.
Bahkan
sihir serangan tipe api terlemah pun, Fireball,
mampu mengalahkan mereka.
Meski
bukan berarti aku bisa menggunakannya.
"Roh api, bakarlah semuanya! Fireball!"
Samejima
melancarkan tiga bola api ke arah Rigal.
Monster
tersebut pun mengeluarkan erangan kematian dan berubah menjadi butiran-butiran
cahaya saat mereka mati.
"Aku berhasil! Aku sudah level
17!"
Seorang
gadis yang menghentikan serangan Rigal menggunakan sihir Wind melakukan pose kemenangan.
Hebat.
Mungkin itulah hasil karena berada di garis depan sepanjang waktu.
Ngomong-ngomong,
aku mampu membunuh dua demon yang
mirip dengan semut besar sebelumnya, jadi aku sudah level 2.
Bagiku
mereka adalah musuh kuat karena aku tak bisa menggunakan sihir. Membutuhkan
beberapa serangan untuk mengalahkannya, jadinya Heige menyuruhku untuk tetap
berada di garis belakang karena aku hanya mengganggu.
Stamina-ku
pun rendah.
Setidaknya
akan lebih baik kalau mereka menyembuhkanku.
"Serius? Selamat, Sajima. Bantuan
yang bagus tadi"
Samejima
memuji Sajima. Seperti itulah kepribadiannya, tapi bahkan para gadis pun jatuh
cinta terhadapnya.
"Eheheh, begitu, ya!
Makasih!"
Gadis
itu, Sajima, tersipu karena mendapatkan pujian.
"Kalian berdua, ini bukan
tempat untuk berbuat hal bodoh seperti itu. Jangan lengah, kalau tidak kau bisa
terbunuh"
Kesal—atau
mungkin muak—dengan perilaku mereka, Heige pun memberikan peringatan.
"Aku tahu, aku tahu. Jadi di
sana ada tangga menuju ke bawah..... bagaimana kalau kita pergi ke sana?"
Menyeringai,
dia menunjuk pada tangga.
Heige
pun bermuka masam saat mendengar usulannya.
"Tidak boleh. Daerah sana masih
belum dipetakan, semuanya masih belum diketahui"
Untuk
kepentingan para pemula, Rigal Den sebagian
besarnya sudah terpetakan ketimbang dungeon
lainnya.
Setelah
sampai di lantai 50, level-mu akan meningkat cukup tinggi hingga takkan ada
masalah untuk pergi ke dungeon
selanjutnya.
Negeri
ini pun merasakan hal yang sama karena tak perlu sia-sia membahayakan orang
untuk memetakannya, jadi pemetaan hanya diselesaikan sampai lantai 50.
Dan
kami pun sudah berada di lantai 50.
"Tenang saja, kita punya banyak
orang. Selain itu, dengan kekuatan kita yang sekarang seharusnya kita cukup
aman"
"Akan selalu ada pengecualian.
Apa rencanamu kalau ada demon yang
bahkan tidak bisa dikalahkan oleh kalian semua?"
"Tidak akan ada. Maksudku,
ayolah, bukannya ini cuma dungeon
pemula? Sampe sekarang tidak ada monster kuat yang muncul di lantai mana pun, iya
‘kan?"
"Tidak, tapi......"
"Naik level juga semakin
sulit..... ‘kan? Dengan melakukan ini akan mengurangi jumlah waktu yang
dibutuhkan untuk mengalahkan Raja Iblis. Bukannya itu bagus?"
Samejima
terus menekankan niatnya.
Semua
yang dikatakannya itu memang masuk akal.
Bahkan
bisa dibilang kalau kemungkinan seseorang mati saat mencapai lantai 50 hampir
nol.
Akan
tetapi, Heige kelihatannya merasakan adanya semacam bahaya yang sedang menanti.
Saat
Samejima mendesaknya untuk mengatakan alasan kenapa tak boleh pergi, dia tak
bisa mengatakannya. Kemungkinan besar itu intuisi yang dia dapatkan dari
pengalamannya selama bertahun-tahun.
Karena
itulah dia bingung bagaimana cara untuk menanggapinya.
Waktu
yang dihabiskan karena kebingungan pun berubah menjadi kekalahannya.
"Dia bilang tidak apa-apa! Ayo
pergi, Shinji!"
Menjadi
tak sabar, Kijima pun mulai berlari ke tangga seolah mendahului yang lainnya.
"Takeshi, tunggu!"
“Ah, Samejima!"
"H—Hei, kalian! Sialan!"
Seolah
itu merupakan lampu hijau, semua teman-teman sekelasku pun yang berada di lantai
50 saling mengikuti menuruni tangga.
"..... Eh"
Menyisakanku
sendirian, dan bingung harus melakukan apa.
Aku
tak mempunyai alasan untuk mengikuti mereka. Bukan berarti segera kembali pun
akan mengubah cara mereka memperlakukanku, jadi aku tak perlu mencemaskannya.
“Open”
Katsuragi
Daichi
Job : Hero
Lv.2
Stamina : 18
Mana : 21
Strength : 58
Resistance : 305
Dexterity : 14
Special Abilities
:
·
Tidak ada
|
Melihat
status-ku, sekali lagi aku menyadari kalau aku tak bisa melakukan apapun
sendirian.
"..... Ya, pergi sendirian bukan
ide yang bagus....."
Aku
pun terburu-buru menuruni tangga di belakang mereka.
Sialan,
orang-orang brengsek itu pergi terlalu cepat!
***Sudut Pandang Samejima***
Aku,
Samejima Shinji, sudah sampai di lantai 51. Tak ada seorang pun yang pernah
menginjakkan kaki di lantai ini sebelumnya.
Demon
seperti apa yang bersembunyi di sini? Hanya memikirkannya saja sudah membuatku bersemangat!
Membunuh
monster sangatlah menyenangkan!
Semakin
banyak yang kubunuh, maka semakin kuat pula aku. Aku akan menjadi lebih kuat dari
siapapun.
Kepribadianku
mewajibkan segalanya harus berjalan sesuai dengan keinginanku.
Kini,
aku menginginkan si Claria itu. Aku tak pernah sangat menginginkan wanita
seperti ini sebelumnya.
Claria
mungkin seorang dewi, tapi begitu aku membunuh Raja Iblis karena sekarang aku
adalah seoarang pahlawan, aku akan membuatnya menjadi milikku dengan
menggunakan keinginanku.
Mungkin
juga ada orang lain yang mempunyai keinginan yang sama sepertiku. Aku takkan
menahan diri pada mereka begitu waktunya tiba.
Claria
aka menjadi milikku.
Untuk
itu, aku membutuhkan kekuatan.
"Samejima! Ada Ariant di
depanmu!"
"Ya!"
Aku
memotong cecunguk yang melontarkan dirinya sendiri ke arahku dengan pedangku.
Terbelah
menjadi dua, cecunguk itu pun menabrak tembok dan lenyap.
"Sekarang ini ada banyak
monster yang menyerang sendirian, kenapa ya?"
Berdiri
di garis depan bersamaku sepanjang waktu ini, Sajima terlihat bingung.
Lantai
ini pastinya berbeda dengan lantai yang sebelum-sebelumnya, sudah ada banyak demon yang menyerang sendirian.
"Mereka malah memudahkan kita,
bukannya ini bagus?"
"..... Benar. Malah
menguntungkan"
"Ya"
Kelihatannya
Sajima pun setuju.
Aku
bisa memanfaatkannya. Aku tahu dia pasti berguna buatku, aku akan
memanfaatkannya dengan membawanya ke dalam kelompokku.
Kemampuan
Sajima yang disebut Saint’s Smile
membuatnya bisa menyembuhkan mana dan
stamina seseorang sepenuhnya.
Mampu
memulihkan keduanya sangatlah berharga.
"Hei, Shinji! Pintu itu
bukannya kelihatan aneh!?"
Pergi
di depan kami, Takeshi menemukan sebuah pintu dengan pola aneh di atasnya saat
aku sedang memikirkan bagaimana cara yang terbaik untuk mendapatkan Sajima.
"Aku.... belum pernah melihat
formasi sihir ini sebelumnya"
Mengikuti
di belakang kami, Heige mendekati pintu itu dan melihat formasi sihir-nya
dengan teliti.
Bahkan
bagi seorang veteran seperti dia pun belum pernah melihatnya.... apa ini
semacam formasi sihir baru?
"Ayo kita buka!"
"..... Ya, ayo. Semuanya,
bersiaplah untuk bertarung"
"Baik!"
Setiap
dari teman-teman sekelasku mempersiapkan diri saat aku memberikan perintah.
Saat
aku mengangguk untuk memberi tanda, Kijima pun dengan mudah membuka pintu yang
terlihat mewah dengan kemampuannya, Overdrive.
Pintu
pun mengerang dengan gemuruh pelan saat dibuka.
Apa
yang kulihat di dalam...... tak ada apapun selain ruangan yang luas.
"Tempat apa ini.....?"
"Kayaknya tidak ada apa-apa di
sini....."
Kami
semua pun masuk ke dalam ruangan untuk melihat lebih jelas.
Lalu,
begitu kami sampai di tengah ruangan, sesuatu yang aneh pun terjadi.
Suara
yang nyaring pun bergema memenuhi ruangan itu.
Begitu
bunyi mulai mereda, cahaya yang menyilaukan pun turun dari langit-langit.
"Cahaya apaan ini!?"
Semuanya
melihat ke atas untuk melihatnya.
Cahaya
itu pun mereda setelah beberapa detik, dan digantikan oleh kegelapan yang mulai
menjalar memenuhi langit-langit.
kegelapan
itu pun mulai terjatuh.
Penghlihatanku
pun perlahan mulai membaik, dan aku mulai menyadari apa itu.
"D—Demon!! Itu sekelompok demon!"
Seseorang
meneriakkan gumpalan gelap itu.
Sejumlah
besar Rigal berjatuhan, jumlahnya tak bisa dibandingkan dengan yang kami pernah
lihat sampai sejauh ini. Kalau terus seperti ini, kami semua akan dimakannya.
"Cepat, lari!"
"Percuma! Kita terkepung!!"
"Apa?!"
Terlalu
bingung dengan apa yang terjadi di atas kami, Ariants dan Wulves pun mengepung
kami.
Aku
pun ingat perangkap yang mirip dalam gim yang pernah aku mainkan.
Kalau
tak salah, ini disebut—
—Rumah
Monster.
"Roh air, berubahlah menjadi peluru
dan tembaklah musuhku! Splash Gatling!"
Peluru
air muncul di udara, menembaki para Rigal yang jatuh.
Yang
lainnya pun meniru dan mulai menembakkan sihir yang sama secara beruntun.
Mereka
menggunakan banyak mana.
Walau
begitu, demon terus mengerumuni kami.
"Siallan! Kebanyakan!"
"Kalian semua, tenanglah!"
"Cepat dan tembakkan lebih
banyak sihir lagi! Kita akan hempaskan mereka untuk membukakan jalan menuju
pintu keluar!"
Teriakkan
terdengar dimana-mana.
Demon
pun berhasil membuat jalan ke dalam kelompok kami.
Karena
terperangkap oleh Rumah Monster, kelompok kami pun jatuh panik.
"Siapa saja yang dekat dengan
pintu masuk, kau harus membukakan jalan! Lakukan apapun yang bisa kau
lakukan!"
"Roh api! Hanguskanlah musuhku!
Burning Wave!"
"Roh angin! Bukakan jalan untukku!
Sonic Wave!"
Para
murid yang dekat dengan pintu masuk yang mendengar perintahku menggunakan sihir
kekuatan tertinggi mereka satu demi satu.
Tembakkan
api dan angin membakar dan mengiris para Rigal, mengiris mereka menjadi tipis.
Akan
tetapi, Wulf melompat dan menghindari serangannya.
"Apa!? Heige! Apa itu!?"
"Itu High Wulf! Demon itu pintar dan kuat!
Berhati-hatilah terhadap kecepatannya! Demon
itu seharusnya tak berada di dungeon
lemah ini!"
Mendapatkan
banyak informasi dari Heige, aku memusatkan perhatianku pada High Wulf.
High
Wulf menyerang dengan giginya yang tajam. Menunduk dan berguling ke samping,
dengan cepat aku pun berdiri kembali.
"Tch....!"
"Grrrr"
Kami
saling menatap satu sama lain, tak bergerak.
Aku
memikirkan cara untuk mengeluarkan kita dari kekacauan ini.
"Semuanya! Aku akan menyinarkan
cahaya sebentar untuk membutakan mereka! Gunakan kesempatan ini untuk pergi ke
tangga! Mengerti?!"
Aku
tak tahu apa mereka bisa mendengarku melalui keributan yang sedang terjadi ini,
tapi sekarang aku tak bisa mencemaskannya.
Seorang
lelaki harus menyelamatkan dirinya sendiri!
"Cahaya suci, sinarilah mereka
yang tinggal dalam kegelapan! Shining!"
Mengangkat
tangan kananku, aku melepaskan massa dari mana-ku
yang melayang ke udara.
Mengiringi
suara ledakan, cahaya yang kuat pun memenuhi ruangan. Mendengar semua demon melolong dan mengerang, aku pun
langsung berlari keluar dari pintu dan menuju tangga.
Yang
lainnya pun melakukan hal yang sama. Akan tetapi, seorang gadis tertangkap oleh
High Wulf.
"Tolong! Seseorang, tolong
aku!"
"Shuri!!"
"Hei, Sajima....! Tch!"
Sajima
yang berlari di sampingku pun terhenti dan berputar 1800. Dia
mencoba kembali, tapi aku memukul bagian belakang lehernya dengan tanganku supaya
pingsan. Membawanya dalam pelukanku, aku pun mulai berlari.
Ini
yang terbaik. Orang yang tak berguna akan mati dan yang berguna akan hidup.
"Cepat! Mereka mengejar
kita!"
Cahaya
yang menyilaukan pun lenyap dan para demon
mengejar kami dalam sekelompok besar.
Sial,
sial, sial, sial!
Aku
terlalu banyak menghabiskan mana
dalam pertarungan itu.
Mana
terhubung langsung dengan kekuatan kehendakmu. Kalau terlalu rendah, maka takkan
bisa berpikir dengan benar. Aku harus menghindarinya!
"Apa aku.... akan mati di
sini....?"
"Tidak, aku tak ingin
mati!"
Aku
bisa mendengar orang yang mulai putus asa.
Tekad
mereka hilang karena terlalu banyak menggunakan sihir.
Pada
saat ini, yang bisa kita semua lakukan hanyalah mengandalkan serangan fisik.
Bagaimana
agar kita bisa menjauh dari mereka?
Bagaimana.....!?
".... Hmm? Ap—!? Apa yang
terjadi?"
Aku
mendengar suara yang heboh. Seseorang yang belum terjerumus dalam keputusasaan.
Saat
aku melihat asal dari suara itu, aku melihat Katsuragi.
"Hei, Katsuragi! Larilah ke
tangga! Larilah secepat mungkin! Demon mengejar
kita!"
Aku
memerintah Katsuragi. Kepribadian sampahnya takkan membuatnya menentangku.
"Hah!? Dasar brengsek kau, aku
tahu kau pasti bohong!!"
Seperti
yang kuduga, dia berlari ke tangga. Si babi brengsek itu mungkin mengetahui
cara untuk kabur.
Dia
tahu jalan tercepat untuk kembali ke tangga.
Dia
mulai naik begitu kami mencapai mereka.
Sekaranglah
kesempatanku.
"Makasih, Katsuragi!"
"Eh?"
Dia
tak percaya kalau aku benar-benar berterima kasih padanya dan menengok ke
belakang.
Dia
berhenti berlari.
Itulah
yang aku tunggu.
"Roh api, bakarlah dia! Fireball!"
Aku
melancarkan bola api dari tanganku dan menyerang si brengsek itu.
"Ap—..... uwaaah!!"
Pakaiannya
pun terbakar, dia diselimuti oleh api.
Membungkuk
di tanah, dia pun berteriak kesakitan.
"Semuanya! Ayo pergi ke atas sebelum
terlambat!"
Mengikuti
teriakanku, teman-teman sekelasku pun dengan cepat mulai menaiki tangga.
Tekad
mereka sudah berkurang, jadi saat ini satu-satunya hal yang bisa mereka pikirkan
adalah keselamatan diri sendiri.
Tak
ada satu pun dari mereka maupun para prajuit yang menyalahkanku. Hanya Heige
lah satu-satunya yang berwajah masam, tapi dia juga tetap diam.
"Apa sudah semuanya!?"
"Tolong.... tunggu! Aku.... aku
masih di sini!"
Salah
seorang yang berteriak adalah Katsuragi. Bajunya hangus dan beberapa kulitnya
terlihat hitam. Mungkin luka bakar.
Dia
mencoba menaiki tangga dengan merangkak.
Monster
berada tepat di belakangnya.
"Berisik brengsek. Kau masih
punya tugas penting. Semuanya! Bantu aku mendorong benda ini kembali ke bawah! Demon takkan datang kalau kita
melakukannya! Kita akan selamat!"
"Ap—"
"Serius!?"
"Kita akan hidup.... kita bisa
kembali....?"
"Akan kulakukan..... kalau
tidak aku akan mati!"
Setelahnya,
merupakan hal yang menggelikan.
Salah
satu dari mereka membelenggu kaki Katsuragi dengan sihir tipe tanah, yang
satunya lagi mengangkatnya.
Lalu,
tanpa ragu sedikit pun, melemparkannya kembali pada para demon.
"Ah—"
Suara
bodoh yang pantas dengan wajah bodohnya.
Katsuragi
pun jatuh ke para demon, tubuhnya pun
menghilang dari pandanganku.
Dia
mungkin akan dimakan oleh mereka sampai ke tulang-tulangnya.
Ini
cara yang terbaik untuk bertahan hidup yang kupikirkan.
Aku
membutuhkan beberapa umpan agar pergerakan para demon terhenti, tapi tak mungkin aku bisa menggunakan salah satu
dari kami pahlawan sebagai makanan.
Tapi
ada satu orang yang cocok. Katsuragi Daichi, barang tambahan kelas kami. Tak
ada seorang pun di negeri ini yang harus mempedulikannya, lagian dia cuma
Pahlawan tak Berguna.
Dia
menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Para demon pun memakannya dengan tergila-gila.
"Bukannya itu hebat, Katsuragi?
Kau akhirnya bisa berguna"
Aku
menutup tangga dengan menggunakan sihir, menutupnya hingga tak ada satu pun demon yang akan mengikuti kami.
The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 03 Bahasa Indonesia
4/
5
Oleh
Lumia
3 komentar
An+@j+××g...
ReplyBang@#+ amat teman nya....
ane bru baca yahh smoga ne mc nggak naif .. dan bang$&@ bngt tu pahlwan
ReplySamejima sampah diantara sampah! Gua kasi tiket exclusive neraka mau kagak?! Gratis nih!😡
Reply