Arc 2.5 (Selingan)
Chapter 50 – Di Desa Avian ①
Hei, tunggu
sebentar, tunggu sebentar! Apa kita benar-benar akan terbang? Ini bahaya!!
Wynn, Leti, dan Paul terbang melintasi langit yang
diterangi sinar rembulan.
Kita takkan
jatuh, ‘kan? Aku bisa mati. Kalau jatuh aku pasti akan mati.
Ketiganya diselimuti selaput tipis tembus cahaya
yang serupa dengan gelumbung sabun raksaksa.
Di bawah kaki mereka, terbentang sungai yang
melintasi dataran layaknya selendang hitam.
"Ahaha!
Bukankah ini hebat, Onii-chan?"
"Ini
sangat hebat, Leti!"
Tak seperti Paul, yang meronta-ronta dengan tak
berdaya, kedua anak itu tertawa dengan riang.
"Kita
harus mengejar mereka tanpa disadari. Bisakah kau melakukannya, Leti?"
"Bisa"
Leti mengangguk, dan gelembung pun naik tinggi ke
langit.
"T-tidak
mungkin....."
Teriak Paul yang merasa tak percaya.
Dia tak tahu banyak soal sihir. Akan tetapi, dia
tahu kalau ini memang diluar akal sehat. Ada beberapa petualang yang memang
bisa menggunakan sihir. Kebanyakan dari mereka adalah mantan bangsawan atau
kesatria yang tuan-nya telah kalah dalam pertempuran.
Orang biasa tak mempunyai kesempatan untuk membaca
buku-buku sihir, tapi kebanyakan petualang bisa membayar sejumlah uang untuk
belajar mantra sederhana, seperti menyalakan api.
Karena itulah Paul sudah pernah melihat penggunaan
sihir. Paul hanya baru melihat penggunaan mantra dasar, tapi dia tak percaya
kalau sihir bisa digunakan begitu saja seperti yang dilakukan Leti.
"A-apa
Leti yang melakukan ini? Leti bisa menggunakan sihir?!"
"Oh
iya, memangnya sudah berapa lama kau bisa terbang seperti ini, Leti?"
"Ummm.....
barusan?"
Leti memiringkan kepalanya.
"Aku
berpikir, ‘aku penasaran apa aku bisa terbang,’ dan aku melakukannya"
"Leti
benar-benar mempunyai bakat dalam sihir!"
"Eh?
Tapi, Leti ingin jadi kesatria, seperti Onii-chan!"
"A-apa
ini akan baik-baik saja? Kita takkan jatuh, ‘kan? Benarkan?!"
"Tidak
apa-apa, tidak apa-apa!"
Wynn menaruh kedua tangannya pada kedua sisi
gelembung itu dan melihat ke bawah pada tanah.
Dia juga
pastinya orang penting, ya?
Keringat dingin mengalir pada punggung Paul layaknya
air terjun, membuat pakaiannya yang basah terasa tidak nyaman.
Dia mengerutkan pelipisnya dan memaksa dirinya untuk
tersenyum. Dia tak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum. Dia perlahan mulai
kembali tenang. Perasaan melayang yang tak nyamannya belum hilang, tapi dia
merasa bodoh untuk menjadi satu-satunya orang yang panik.
"....
Pertama-tama, berhati-hatilah supaya tak terlihat"
Tak ada gunanya untuk meronta-ronta.
Lagi pula, dia tak bisa berbuat apa-apa; juga, kapan
lagi dia bisa terbang di langit seperti ini.
Karena itulah dia memutuskan untuk menikmatinya.
Setelah menenangkan diri, dia pun melihat ke
sekeliling.
Dia lebih dekat ke bulan dan awan ketimbang
sebelumnya.
Dia bisa melihat cahaya yang terang di kejauhan.
Kemungkinan itu Simurgh.
Sungai yang mengalir melalui Simurgh berkilau di
bawah sinar rembulan. Jalan utama terlihat seperti garis putih tebal yang membentang
dari pintu gerbang, melewati dataran dan hutan, dan menghilang ke kejauhan.
Dia melihat ke bawah pada tanah yang sudah berubah
dari dataran berumput menjadi gumpalan pepohonan.
Dang. Aku takkan
berhenti berpetualang kalau aku bisa mengalami hal seperti ini
Hati Paul masihlah seorang petualang.
Dia haus akan hal yang tak diketahui, dan menikmati
sensansi hal yang baru.
***
Di suatu tempat di hutan, ada sebuah mata air kecil
di daerah terbuka. Ada beberapa bangunan kayu yang terlihat seperti rumah. Akan
tetapi, kebanyakan dari bangunan kayu itu kelihatannya sudah hangus terbakar,
hanya menyisakan pilar yang hangus terbakar di tempat itu.
Tumbuhan liar mulai tumbuh di ladang yang rusak. Itu
sangat mirip dengan kota hantu. Anehnya, tak ada satu jalan keluar pun dari
desa. Hanya ada anak sungai kecil dari pancuran air yang mengalir dari desa.
Seorang gadis Avian kecil menyelinap melalui celah
di antara pilar-pilar itu, ke salah satu rumah ambruk yang selamat dari api.
Dia berhati-hati agar sayapnya tak terkait pada pilar itu.
Itu tak cukup luas untuk dianggap sebuah ruangan.
Hanya setipis cahaya rembulan yang menembus melalui retakan tembok yang ambruk
untuk menerangi ruangan.
Dia sudah tinggal di sana selama beberapa hari, jadi
rambut dan sayapnya berwarna abu-abu karena abu. Gadis itu berjongkok di sudut
ruangan dan menggigit kubis yang berharga itu. Dia sudah mencuri dari salah
satu pemukiman manusia terdekat.
Sudah beberapa bulan berlalu semenjak dia berakhir
sendirian. Awalnya, dia sudah makan makanan yang tersisa di ladang, tapi
makanan itu pun dengan cepat habis. Lalu dia mengembara ke hutan untuk mencari
makanan. Kacang-kacangan, jamur, dan berbagai lainnya.
Karena Avian berumur panjang, akan sulit untuk
menilai usia dia sebenarnya, tapi usianya semuda penampilannya. Dalam
pengetahuannya yang terbatas, hanya ada beberapa hal yang bisa ia makan dengan
aman. Dia pernah dengar dari orang dewas bahwa ada pemukiman manusia di hilir.
Desa itu mungkin terpencil, tapi tak terisolasi.
Orang dewasa di desanya sering terbang ke desa manusia dan menyembunyikan
sayapnya untuk membeli berbagai barang. Karena itulah ia tahu ada makanan di
sana, tempat di mana manusia tinggal.
Suatu hari, setelah tak bisa menemukan makanan
selama beberapa hari, dia melebarkan sayapnya dan meninggalkan hutan. Dia
pernah melihat ladang yang luas, dan juga rumah dengan ayam, babi dan domba.
Itu adalah makanan.
Dia tak bisa mengambil hewan yang lebih besar, tapi
ayam cukup kecil untuk dibawa. Begitu pula dengan sayuran dan telur.
Dia tahu dia melakukan sesuatu yang tak baik. Dia
diam-diam merangkak ke kandang ayam dan dengan penuh rasa takut memasukkan dua
butir telur ke dalam sakunya. Dalam perjalanan pulang ia melihat melon yang
matang, jadi ia pun dengan cepat mengambilnya satu.
Dia memakan telur mentah dan membantingkan melon ke
tanah sehingga dia bisa melahap isinya dengan rakus. Rasa manis melon memenuhi
mulutnya, membuat air matanya mengalir dari matanya.
Semenjak hari itu, gadis itu, yang tak bisa menahan
nafsu makannya, semakin sering pergi ke rumah itu. Dia merasa bersalah, jadi
terkadang ia meninggalkan kacang dan jamur yang ia temukan di hutan.
Walau masih kecil, dia tahu belum ketahuan saat
melakukan sesuatu yang tak baik.
Karena itulah—
"Keeetemu!"
Saat dia melihat wajah tersenyum anak manusia yang
mengintip dari balik pilar, kubis yang digigitnya terjatuh dari mulutnya, dan tiba-tiba
dia menangis.
***
"Mengerikan
sekali"
Mereka telah mengejar gadis Avian ke desa
tersembunyi Avian.
Desa itu jelas telah diserang.
Menilai dari tumbuh-tumbuhan yang menjalar di desa,
mungkin sudah sekitar setengah tahun semenjak desa tersebut hancur.
Semua tanamannya layu, dan ada buah busuk yang belum
termakan bergelatakan.
"Keeetemuu!"
Saat Paul mengemati desa yang hancur itu, Wynn
berteriak.
Paul berlari ke rumah yang setengah hancur di tempat
di mana Leti berdiri dan mengintip melalui celah di antara pilar.
"Di
sini?"
Leti mengangguk.
Celah itu tak begitu cukup lebar untuk bisa dilewati
tubuh anak-anak.
"Hei
Wynn. Seperti apa di dalamnya? Ada siapa di dalam sana?"
"Hanya
ada seorang gadis!"
"Aku
enggak bisa masuk. Bisa kau membawanya keluar?"
"Tentu"
Paul dengan ceroboh memindahkan pilar yang mungkin
bisa menyebabkan tiangnya roboh, dan ia menunggu Wynn keluar.
"Baiklah"
Wynn merangkak keluar dari celah tersebut.
"Hei,
sekarang sudah tak apa, tolong keluarlah"
Gadis itu pun merangkak keluar mengikuti Wynn.
Bajunya compang-camping karena tersangkut pada
ranting pohon. Rambut dan sayapnya kotor berantakan.
Bahkan seorang anak dari daerah kumuh pun akan
terlihat lebih bersih.
Akan tetapi, pemikirannya itu pun segera
tersingkirkan.
Oh, itu
benar-benar Avian!
Paul sangat senang bisa melihat Avian, sesuatu yang
hanya diketahui lewat cerita dan rumor. Mereka adalah makhluk yang setingkat
dengan High-elf, dan di beberapa tempat, mereka dipuja.
Gadis Avian itu, yang merupakan mitologi, memeluk
sebuah kubis yang sudah sedikit dimakan sebelumnya dan terisak-isak saat Wynn
dan Leti berdiri di sekelilingnya.
"Apa
kau baik-baik saja? Apa kau terluka?"
Dia terlihat seumuran dengan Leti, jadi Wynn pun
mengusap kepalanya.
Paul menghela napas.
Bukan saat yang tepat untuk menanyai gadis muda
mengenai pencurian.
Sebaliknya, dia terkejut dengan kondisi
kehidupannya.
Akan tetapi, ada sesuatu yang harus dia tanyakan.
"Jadi,
bisa kau ceritakan pada kami apa yang terjadi?"
Paul mendekati gadis itu, mencoba menanyai
keadaannya. Gadis itu pun menjauh darinya dengan menjerit ketakutan.
Paul pun menggaruk kepalanya.
"Hmm....
mari kita bicara di tempat yang lebih tenang saja. Leti, bisa kau menerbangkan
kita ke rumahnya Laura?"
"Kurasa
aku bisa"
"Kalau
begitu, kita akan membicarakannya di sana. Juga, aku ingin melakukan sesuatu
mengenai pakaian gadis ini. Lalu—"
"Ada
sesuatu yang datang!"
Wynn menyela Paul.
Wynn menggenggam pedang kayu yang biasanya
digantungkan pada pinggangnya dengan kedua tangannya.
Paul menyadari apa yang dimaksud Wynn.
Udaranya terasa dingin, lebih mengancam.
Memunggungi rumah yang hancur, Wynn dan Paul
melangkah maju untuk melindungi kedua gadis itu.
Apa yang kita
hadapi?!
Saat berpikir begitu, sesuatu melompat keluar dari
semak-semak.
"Hah,
hah, hah, eek....."
Gadis Avian tersebut berteriak pelan dalam napas
pendek.
"Tenang
saja. Onii-chan akan
mengalahkannya!"
Leti menghibur gadis itu.
Wynn berdiri di antara monster dan kedua gadis itu.
"Wynn,
kau tak boleh melakukannya. Biar aku yang melakukannya!"
Monster itu sedikit lebih besar dari anak kecil.
Kulitnya gelap dan terdapat sebuah tanduk pada dahinya. Mengenakan pakaian
primitif dan menggenggam pedang berkarat.
Itu adalah iblis yang dikenal sebagai goblin.
Goblin berkembang biak dengan cepat, dan hidup
berkelompok yang berpusat di sekitar Raja Goblin.
Karena tingkat reproduksinya yang tinggi dan fakta
bahwa banyak kelompok yang tinggal di dekat desa manusia, goblin banyak mennimbulkan
kerusakan pada manusia. Mereka tak terlalu kuat, seperti yang ditunjukkan oleh
ukuran mereka, dan hampir semua petualang akan bisa mengalahkan satu goblin.
Itu termasuk Paul.
"Uooooooo!"
Paul mengayunkan pedangnya sembari berteriak.
Goblin pun melompat ke belakang.
Goblin menatap Paul dan anak-annak sembari tetap
berada dalam jangkauan Paul.
"Haaaaaah!"
Paul mengayunkan pedangnya ke samping.
Pedang mereka saling menghantam. Goblin pun
tersandung mundur karena kekuatan serangan Paul.
Paul belum menjadi petualang sepenuhnya, jadi
kemampuan berpedangnya masihlah kasar.
Dia menggunakan segenap kekuatannya untuk setiap
serangannya. Akan tetapi, teknik berpedang Paul yang masih kasar perlahan menurunkan
daya tahan goblin.
Bahkan monster sekali pun terbuat dari daging dan
darah.
Pedang Paul mulai benar-benar mengenai goblin.
Goblin yang berdarah pun pergerakannya menjadi
tumpul.
Menilai bahwa itu batasannya, Paul pun bersiap untuk
melakukan serangan penghabisan.
"Uooooooo!"
Dengan berteriak, dia mengayunkan pedangnya—melewati
udara tipis.
"Apa?!"
Goblin itu melompat ke samping. Menahan lukanya,
goblin itu berlari melewati Paul.
"Sial!"
Dia tak menyadari kalau dia telah menyimpang cukup
jauh dari rumah tersebut.
Dia terlalu fokus untuk memburu goblin dan menghujaninya
dengan serangan hingga dia lupa untuk tetap dekat dengan rumah tersebut.
Goblin pun berlari dengan sisa tenaganya.
Berlari lurus menuju Leti dan gadis Avian.
Mengincar mangsa yang lemah, kedua gadis yang tak
berdaya.
Paul takkan bisa sempat mengejarnya, karena mundur
dari tebasannya.
"Sial!"
Goblin hanya berjarak beberapa meter dari kedua
gadis tersebut. Goblin itu mengangkat pedang berkaratnya saat ia melompat ke
arah mereka.
Tiba-tiba, goblin tersebut pun menjerit keras.
Dia akhirnya melihat Wynn berada di depan kedua
gadis tersebut, dengan pedang kayunya yang mengarah ke atas.
Tepat saat goblin itu melompat ke arah kedua gadis
itu, Wynn menusuk leher goblin dari samping.
Goblin pun jatuh terjungkir balik ke tanah.
Paul kemudian berlari dan menghabisinya dengan
menebas perutnya yang tak terlindungi.
Yuusha-sama no Oshishou-sama Chapter 50 Bahasa Indonesia
4/
5
Oleh
Lumia
2 komentar
Terima kasih terjemah dan Updatenya...
ReplyThanks min
Reply