Saturday, November 19, 2016

Yuusha-sama no Oshishou-sama Chapter 07 Bahasa Indonesia


Chapter 07

Pemikiran Empat Tahun yang Lalu ①



Bahkan sebelum ayam mulai berkokok, Wynn sudah bangun. Semenjak dia sudah bersumpah saat dia masih berusia lima tahun, dia akan selalu bangun seperti ini.

Melihat ke ruangannya yang kecil, dia melihat Locke di tempat tidur yang masih mendengkur. Berhati-hati agar tidak membangunkan Locke, dia mengganti pakaiannya menjadi pakaian latihan, membawa pedang latihan, dan kemudian meninggalkan kamarnya.

Di luar asrama, angin musim semi saat masih fajar itu terasa sangat dingin. Setelah melakukan pemanasan, tubuhnya mulai menghangat, dia mulai mengayunkan pedang latihannya.

*Byuu, Byuu* hanya suara ayunan pedang pada udara yang bisa didengar di pagi hari yang tenang.

Wynn akan mengulangi kegiatan ini setiap hari.

―― Tidak.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Hari ini ada sesuatu yang berbeda, menyebabkan ayunan pedangnya menjadi terasa berbeda. Dia berhenti mengayunkannya dan mulai menyesuaikan napasnya, menutup matanya untuk berkonsentrasi.

Kepalanya dipenuhi dengan pikiran teman dekatnya yang sekarang sudah kuat, Leti. Dia bisa melihat sosoknya dengan jelas dalam pikirannya.

Selama upacara masuk kemarin.....

Kebisingan di Katedral dengan seketika menjadi sunyi.

Hanya suara pernapasan, dan gerakan kecil yang bisa didengar, dan dalam keheningan itu, seorang gadis berjalan ke arah tengah.

Di katedral ada sebuah platform yang agak tinggi.

Punggungnya yang diluruskan ketika langkahnya yang memancarkan suasana yang dingin. Saat dia berjalan menaiki tangga, sinar matahari yang melewati kaca bersinar pada rambut emasnya, dan seperti memberikan kilauan yang lembut. Sosok gadis itu menarik perhatian tidak hanya para siswa dan guru, tetapi juga para pemimpin kesatria dan para bangsawan yang diundang. Tanpa merasakan ketegangan sama sekali, gadis itu tiba di puncak tangga, dan perlahan-lahan berbalik. Pada saat itu, tiba-tiba tubuhnya seperti bermandikan cahaya—Semua orang melihat khayalan itu.

Kehadiran yang sulit dipercaya.

Melihat gadis itu membuat semua orang menahan nafas. Namun....

Tiba-tiba, penampilan dinginnya berubah menjadi senyuman yang lembut. Seperti waktu yang telah dicairkan, suasana pun menjadi tenang lagi, dan di sekeliling, desahan kelegaan bisa didengar.

            “Bagaimana kabar kalian semuanya? Saya perwakilan siswa tahun pertama, Leticia”

Leticia berbicara.

Sekali lagi, katedral kembali hening. Suara orang-orang yang tenang terdengar di katedral.

            “Saya terpilih sebagai perwakilan, tapi tidak seperti kalian, saya tidak bertujuan untuk menjadi seorang kesatria. Saya punya banyak pengalaman dalam pertempuran, yang saya harap bisa untuk berbagi dengan kalian semua.”

Menutup matanya, dia perlahan meletakkan tangan kanan ke dadanya.

“Meskipun Raja Iblis telah dikalahkan, masih banyak ancaman di dunia ini. Sebagai kesatria, kalian harus melindungi orang-orang yang berada di sekitar kalian. Bersama-sama, kita akan belajar. Lalu, suatu hari nanti, bersama-sama kita akan berjuang.”

Dia membungkuk secara perlahan.

Satu per satu, orang-orang mulai bertepuk tangan. Tidak lama kemudian, katedral yang sebelumnya hening, sekarang dipenuhi dengan suara tepuk tangan yang meriah. Ketika Leticia perlahan meluruskan tubuhnya, orang-orang di katedral melihat senyuman di wajahnya.

Orang yang berdiri di atas panggung saat upacara masuk keamarin adalah teman dekatnya, Leti. Jika seseorang melihat Wynn, mereka akan melihat dia berdiri di ujung barisan siswa baru. Dalam hanya empat tahun, untuk berpikir bahwa hanya dalam empat tahun, dia akan berubah begitu banyak.

Menggelengkan kepalanya sambil menghembuskan napasnya, dia mulai berkonsentrasi lagi. Pada bayangan hitamnya, dia berpikir Leticia sedang menghunuskan pedanganya. Sampai saat itu, gambarannya pada Leticia adalah saat empat tahun yang lalu. Sekarang, dia mampu membayangkan sosok yang berbeda dari Leticia yang mempersiapkan pedangnya.

Keanehan pada ayunan pedangnya sekarang, disebabkan oleh perbedaan antara gambarannya dari Leti dan kenyataannya. Oleh karena itu, setelah menyesuaikan perbedaannya, dia mampu mengayunkannya dengan benar. Melihat Wynn yang berlatih setiap hari kembali normal seperti biasanya. Namun, kejadian itu sedikit berbeda hari ini.

Sepintas, itu terlihat tidak berubah sama sekali.

Seseorang yang telah bersembunyi di sebuah bangunan, melihat seorang lelaki yang dua tahun lebih tua dari dia, yang semata-mata hanya mengayunkan pedangnya.

Itu adalah kejadian yang Leticia telah saksikan setiap hari. Pada masa-masa itu, dia sendiri juga telah menghabiskan waktunya dengan sama. Seolah-olah kejadian itu sedang terulang kembali sekarang.

Setiap hari, guru pribadinya akan membandingkan dia dengan saudara-sudaranya yang lebih tua.

Untuk hal yang baik atau buruknya, suadaranya patuh terhadap perintah guru pribadi, dan belajar etika dan perilaku yang sesuai dengan seorang wanita bangsawan, sementara Leticia hanya ingat kenangan buruk yang dimarahi karena tidak dapat menghafal alfabet.

            “Kau bahkan tidak dapat melakukan hal-hal seperti ini. Kakak perempuan mu bisa melakukan ini saat seusia dengan mu, kau tahu?”

            “Mengapa gerakan mu tidak begitu halus? Tidak ada sedikit pun keanggunan di dalamnya.”

Orang tuanya akan menerima laporan dari guru pribadi, yang hanya berisi pujian untuk kedua saurdaranya yang patuh.

Suatu pagi, Leticia bangun, menyelinap keluar dari kamarnya, dan keluar dari rumah.

Tanpa bisa berbuat apa-apa, dia dimarahi setiap harinya. Sikap keluarganya juga mempengaruhi pelayannya. Bahkan pelayan menatapnya dengan penuh ejekan. Meskipun mereka melakukannya saat mereka pikir dia tidak melihatnya, gadis yang luar biasa cerdik menahan tatapan mereka tanpa gertakan.

Dan, dia berlari.

Dengan hanya memikirkan untuk melarikan diri, dia lari dari kediamannya yang menyedihkan. Meskipun ada banyak penjaga yang berpatroli di kediamannya, Leticia yang masih muda mampu mencapai gerbang tanpa terlihat. Penjaga gerbang akan menguap dengan suara *Fuaa...*, dalam jarak waktu itu, Leticia menyelinap di bawah penghalang, dan berhasil keluar melalui pintu gerbang.

Itu adalah pertama kalinya Leticia ke luar dari kediamannya. Dia tidak memiliki tujuan tertentu. Dia hanya ingin lari dari pelajaran yang menjijikan.

Kemudian, Leticia berlari di pagi yang dingin di ibukota. Bahkan orang dewasa bisa tersesat di ibukota yang luas. Bagi Leticia yang masih berusia 6 tahun, itu adalah petualangan yang besar.

Bahkan jika itu hanya menjelajahi jalan utama yang lurus.

Dia berjalan menyusuri jalan sementara kota masih tertidur. Meskipun petualangan yang besar menarik di awal, gadis itu merasa kesepian di jalanan yang hening.

Seolah-olah dia adalah satu-satunya yang ada di dunia.

Itu menakutkan.

Namun, dia tidak gelisah.

Merasakan perasaan yang dia tidak mengerti, dia mulai berjalan, mendapatkan kembali semangatnya pada setiap langkahnya.

Pada waktu itu.....

Leticia melihat seorang anak laki-laki yang sedang sendirian. Memegang tongkat kayu, dia mengayunkannya dengan sepenuh hati. Apakah dia sedang berlatih berpedang? Dibandingkan dengan saudaranya yang sedang belajar berpedang, gerakannya tidak begitu baik. Namun, gerakannya masih memikat Leticia.

Meskipun gerakannya jelek, itu dipenuhi dengan semangat dan antusias yang tinggi. Matanya bersinar dengan cahaya kebulatan tekadnya ketika mengayunkan tongkatnya sambil mengertakan giginya.

Gadis itu merasakan suasana yang seperti itu. Dia telah merindukan seorang teman dalam petualangannya. Anak laki-laki itu melihat tatapannya dan menatapnya. Tanpa pikir panjang, keraguan pada keingin tahuannya, dia mengumpulkan keberanian dan mendekatinya.

            “Apa yang sedang kamu lakukan?”

            “Aku sedang berlatih?”

            “Apakah itu menarik?”

            “Aku tidak tahu apakah itu menari atau tidak, tapi itu menyenangkan.”

            “Boleh Leti melakukannya juga?”

Anak laki-laki itu menyetujuinya, dan Leticia mengambil tongkat yang ada di tanah, dan mengayunkannya di samping anak laki-laki itu. Pada saat itu, anak laki-laki itu menatapnya untuk sementara waktu, sambil menarik napas *Fuu..* mulai mengayunkan tongkat bersamanya. Meskipun dia mengayunkan tongkatnya, dia terkadang mengamati Leticia.

Ini adalah pertama kalinya selama beberapa saat sejak dia telah diperhatikan.

Setelah berlatih, ketika Leticia akhirnya berkata “Selamat pagi” kepada anak itu, dan dengan takut bertanya apakah dia bisa bergabung dengannya besok, anak itu mengangguk dengan ekspresi bingung. Dengan perasaan gembira yang membayangi fakta bahwa dia kabur dari rumah, bahkan ketika dia kembali, dia akan menerima omelan dari orang tua dan guru pribadinya, perasaan itu tidak memudar.

Karena dia telah menemukan tempat di mana dia miliki.

Sejak saat itu, dia akan bertemu anak itu setiap hari. Setelah meminta guru pribadi, dia menerima pedang kayu. Setelah beberapa saat, orang tuanya tidak lagi memperhatikan perbuatan nakalnya. Mereka hanya memperhatikan Reiruzu dan kedua kakak perempuannya, yang selalu dipuji oleh guru pribadi.

Untuk Leticia, ini tidak menyusahkannya.

Anak itu, Wynn, akan selalu berlatih bersama Leti. Bahkan ketika mereka berlari, dia akan berlari bersama Leticia, tidak pernah berlari pada kecepatan yang berlebihan. Bahkan ketika berlatih dengan pedang kayu, meskipun mampu menangani serangan Leticia, dia tidak pernah melukainya, tapi dia secara perlahan mengajarinya. Dia secara alami memahami ajaran Wynn, tidak seperti ketika guru peribadinya memberinya sejumlah pelajaran yang keterlaluan dengan penuh ancaman.

Ketika guru pribadi menyerahkannya sebuah buku, dia akan mengambilnya dari rumah untuk Wynn, yang akan dengan senang hati membacanya, mempelajari isinya bersama-sama. Daripada cara guru pribadi yang menerangkannya dengan secara faksa kepada dirinya, dia lebih mengerti ketika mereka mempelajarinya bersama-sama.

Pada tahun itu, dia menghabiskan waktunya dengan Wynn, dia merasa dirinya tumbuh dan dewasa. Dia bahkan sedikit demi sedikit mampu memahami pelajaran sihir dan berpedang seperti saudaranya. Bahkan setelah guru pribadinya telah menyerah, dia masih belajar sihir dan berpedang dari Wynn.

Oleh karena itu, mereka tidak dapat mengenali kemampuan yang sebenarnya sampai hari yang telah ditentukan, ketika peramal mengumumkan bahwa Leticia akan menjadi “Brave”

Wynn dengan tenang mengayunkan pedangnya. Leticia diam-diam memegang tangan ke dadanya dan menutup matanya.

Selama perjalanannya, ketika banyak hal yang menyakitkan telah terjadi, jika dia memikirkan Wynn, dia akan kembali semangat. Ketika hal-hal yang menyakitkan terjadi, dia akan meminjam kepercayaan dan tekad pantang menyerah, yang membuat dia bisa bertahan.

‘Orang yang telah membimbingku ku adalah kau. Karena itu aku ingin bertemu dengan mu, aku tidak pantas menjadi Brave, tapi orang-orang lah yang memutuskan itu.

Kemampuannya saat itu jauh dari apa yang dia bayangkan.

Namun....

Dia tidak menyembunyikan hawa keberadaanya. Menarik pedang latihannya, dia tiba-tiba melompat keluar dari bayang-bayang.

            “Onii-chan!”

            “Na... Le-Leti!?”

Membentur Wynn dengan tekanan yang hebat, dia mencapai area di antara mereka dengan segera.

‘Ini adalah kekuatan ku sekarang yang sebenarnya’

Leticia sekarang berdiri di samping laki-laki yang ingin dia berdiri di sampingnya selama ini.


‘Pasti karena kau lah, aku bisa percaya dan berjuang sampai sekarang ini’





Kembali ke Chapter 06                                                Menuju Chapter 08

Related Posts

Yuusha-sama no Oshishou-sama Chapter 07 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh

3 komentar