Tuesday, March 20, 2018

Hajimari no Mahoutsukai - Volume 01 - Chapter 01 Bahasa Indonesia


Chapter 01 – Peralihan Jiwa




Semuanya mempunyai satu ujung.

Hanya sosis yang mempunya dua ujung.

—Peribahasa German



Pernahkah kau merasa ingin terbang tinggi di langit?

Atau mungkin ingin menjadi tak terlihat dan melakukan lelucon?

Atau barangkali ingin berbicara dengan hewan?

Semuanya memang bagus.

Semenjak dahulu umat manusia sudah mengimpikan banyak hal, dan memecahkannya lewat kekuatan sains.

Dimulai dengan penerbangan pertama oleh Wright bersaudara, pesawat pun akhirnya berevolusi menjadi roket yang ditenagai oleh mesin ion dan kendaraan terbang pribadi.

Itu tetap digunakan hanya untuk kemiliteran saja, tapi bahkan sesuatu seperti kamuflase optik sudah mencapai kesempurnaan. Kabarnya bahwa penggunaan eter adalah cara yang biasa digunakan untuk menemukan musuh dalam pertempuran modern.

Walaupun berbicara dengan binatang yang tak mempunyai akal lebih sering dipahami sebagai bahan pembicaraan lelucon, penerapan mesin penerjemah yang sangat efisien sudah lama menghancurkan tembok yang memisahkan umat manusia dari permasalahan itu sendiri. Bahkan ada sejumlah pertukaran budaya yang diawali dengan lumba-lumba, cumi-cumi, dan simpanse.

Abad terakhir bisa disebut dengan era-nya sains.

Tapi.

Tapi biar begitu, aku masih tak bisa membuang hasratku.

Hasrat akan buah yang menakjubkan, keajaiban dari keajaiban, sesuatu yang sangat jauh dari cara pemikiran modern.

Yakni, sihir.

Aku bahkan tak bisa mengingat apa aku punya motivasi atau tidak akan keinginanku sekarang. Malahan, mungkin belum ada yang bisa dimulai.

Aku hanyalah seorang pemuda saat kusadar kalau aku terpukau oleh konsep sihir, sesuatu yang bukan berasal dari dunia ini, dan bertekad untuk mengejar sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh sains.

Sihir rune, sihir kaligrafi, sihir rune Eropa, alkimia, astrologi, witchery, sorcery, wizardry, Syamanisme esotorik, teknik yin-yang. Aku mempelajari semua jenis sihir dari semua era dan negara, menerapkan setiap metodenya untuk mengujinya.

*Witch, biasanya itu seorang penyihir wanita yang menggunakan sihir roh namun digunakan sebagai sihir hitam dengan niatan yang buruk.

Wizard, nah kalo yang ini kebalikannya dari witch, walaupun sama-sama menggunakan sihir roh, yang satu ini menggunakannya untuk kebaikan.

Sorcerer, sama-sama penyihir juga, mirip dengan wizard ataupun witch, namun berbeda dengan wizard ataupun witch, sorcerer ini tak terpaku dalam 1 bidang sihir saja, tapi lebih meluas, dan tak seperti wizard atau witch,  sorcerer juga bisa menggunakan sihir tanpa speellbooks.

Syamanisme, ajaran berdasarkan keyakinan kalau makhluk halus atau roh akan merasuki tubuh seorang syaman (tukang sihirnya tersebut) agar bisa berinteraksi dengan dunia roh dan bisa memberikan kemampuan untuk melakukan peramalan dan pengobatan.

Tentu saja, ketertarikanku tak terbatas hanya pada sihir saja.

Hantu, roh, penampakan misterius, psikokinesis, dewa-dewi, dan iblis. Aku mempelajari setiap mitos, legenda, dan cerita rakyat di seluruh dunia. Tiap kali kumenemukan perkataan seseorang dengan beberapa kemampuan yang tak bisa dijelaskan, sebisa mungkin aku akan menemuinya.

Saat kulakun semua hal itu, aku mulai dikenal sebagai peneliti ilmu gaib terkenal di dunia.

Aku menghabiskan 89 tahun hidupku.

Menghabiskan hidupku untuk mengejar sesuatu yang misterius, aku menemukan sebuah kesimpulan.

Dunia ini tak mempunyai misteri.

Dunia ini terlalu kuat.

Semuanya sudah dilakukan. Tak ada satu pun hal misterius yang tersisa, satu-satunya yang ada hanyalah salah pengertian.

Tentu saja, bukan berarti aku sudah memverifikasi semuanya. Terkadang ada hal yang hanya bisa aku definiskan sebagai keanehan.

Tapi walau begitu hal-hal itu jauh dari apa yang bisa kuanggap misterius. Aku tak tahu bagaimana generasi masa depan akan menilainya, tapi secara subyektif, upaya yang mengambil seluruh hidupku semuanya seperti berakhir sia-sia. Mencari sesuatu yang tak ada, aku mengakhiri hidupku tanpa istri atau pun anak.

Bohong kalau aku tak menyesal. Aku mempunyai penyesalan yang tak terhitung banyaknya.

Akan tetapi, aku tak pernah menyesali cara menjalani kehidupanku.

Kalau aku dilahirkan sepuluh kali lagi, aku tetap akan menjalani hidupku dengan caya yang sama.

Selain itu, ujung-ujungnya hanya ada satu kesenangan yang tersisa bagiku.

Aku ingin kecewa untuk terakhir kalinya.

Tapi ini pertama kalinya aku tak mempunyai kekhawatiran soal kekecewaan. Kalau kau ingin tahu kenapa, itu karena sekarang, keberadaan ‘Ku’ akan segera berakhir.

Menyerah akan kesadaranku yang memudar, perlahan kupejamkan mataku. Duniaku tertelan oleh kegelapan.

Aku mati.

—Tepatnya, seharusnya aku mati.

***

Saat kubangun, area di sekelilingku gelap gulita.

Kusadar kalau aku sudah mati. Apa ini akhirat?

Juga, aku terus mendengar suara aliran air di telingaku. Ingat kalau sekarang aku bahkan tak bisa melihat apa pun karena sudah mati, bukankah seharusnya lebih sunyi? Setidaknya, begitulah seharusnya.

Ditambah lagi, terasa begitu sempit. Begitu kucoba mengulurkan tanganku, ujung jariku menyentuh sesuatu yang lembut. Aku tak bisa melihat apa pun, tapi kelihatannya ada sesuatu di sana. Karenanya, aku tak bisa meregangkan diriku. Ini aneh. Tubuhku terasa ringan bagaikan bulu, namun aku tak bisa begitu banyak bergerak. Bahkan aku tak bisa menahankan kakiku ke tanah untuk menekan dinding. Sesuatu yang aneh sedang terjadi di sini.

Kuharus keluar dari area terbatas ini. Tepat saat aku berpikir begitu dan mulai berusaha, aku mendengar suara yang berasal dari suatu tempat. Aku tak bisa mendengarnya dengan begitu jelas, tapi kuyakin kalau sebelumnya aku belum pernah mendengar suara tersebut.

Tapi entah bagaiamana, aku bisa memahami maksud dari kata-kata tersebut.

Entah bagaimana, aku juga mulai memahami di mana aku berada.

Kelihatannya aku bukan berada di akhirat. Malah, sebaliknya. Dengan pelan kusentuh dinding yang sebelumnya kucoba tekan dengan begitu tergesa-gesa.

Suara penuh kasih sayang yang kudengar sebelumnya, ialah suara seorang wanita. Suara yang mencemaskan anak yang berada dalam kandungannya.

Dengan kata lain, kelihatannya aku berada di dunia kehidupan.

Sendirian, aku gemetaran di dalam rahim ibuku.

Reinkarnasi. Apalagi, bentuk reinkarnasi yang bisa membuatku terlahir kembali bersamaan dengan kenangan akan kehidupanku sebelumnya.

Apa sesuatu yang misterius seperti ini ada? Sejujurnya, aku tak begitu percaya akan hal-hal seperti kehidupan setelah kematian dan reinkarnasi.

Kupikir aku takkan ada lagi saat mati, keberadaan dan pikiranku akan berakhir.

Bukannya aku tak merasa kecewa karena harus berpisah dari dunia asalku untuk mengalami ini. Begitu kuat, itulah dunia yang terus mengkhianati pekerjaan hidupku. Bagiku, itu adalah semacam saingan, mendorong maju diriku untuk berusaha lebih keras lagi.

Akan tetapi, secuil kekecewaan tersebut sirna oleh kesenangan dan perasaan puas yang memenuhi dadaku. Andai memang harus kukatakan, akan kubilang kalau ketidakpuasan adalah sesuatu yang tepat dari seorang pemenang. Walaupun mungkin aku akan kehilangan kenanganku saat aku besar, tapi tak apa. Aku akan menyerah dan berhenti saat itu terjadi.

Tapi tetap saja, aku harus terlahirkan dengan selamat.... yah, biarpun aku ingin hal itu terjadi, tak ada yang bisa kuperbuat. Mungkin aku harus berhati-hati dan memastikan agar tak keluar dengan kaki duluan? Aku juga harus menghindari hal-hal bodoh seperti tercekik dengan tali pusarku.

Saat kuberpikir begitu, aku menyadari sesuatu. Tak ada tali pusar yang terikat padaku. Apa? Apa?! Kumerasakan sekitar perutku dalam kepanikan, tapi benar-benar tak ada yang terikat. Saat kucoba memutarkan tubuhku secara melingkar untuk mengujinya, aku bisa terus-menerus memutarkan tubuhku. Aku tanpa tali. Apa yang terjadi?

Tepat saat kumulai panik, tekanan di sekitarku mendadak mulai meningkat. Tidak mungkin....

Tak lama usai kumemikirkannya, tubuhku terasa didorong paksa ke suatu tempat. Aku tak bisa menahannya dengan kekuatanku sebagai anak yang belum lahir, jadi kubiarkan diriku terdorong.

Pandanganku yang gelap gulita pun mendadak dipenuhi dengan cahaya, jadinya kututup mataku untuk menghalaunya. Lalu, dengan cepat aku pun terseret keluar oleh gravitasi dan terjatuh ke tanah.

Kelihatannya aku mampu terlahirkan dengan selamat dan sehat. Namun, aku tak tahu apa yang seharusnya bayi lakukan saat ini, tapi kurasa seharusnya aku menangis?

Memikirkan hal sepele seperti itu, kubuka mataku sedikit dan melihat kedua lenganku yang diselimuti warna merah. Aku tahu kalau bayi itu agak merah, tapi bukannya ini terlalu merah? Aku masihlah jomblo di kehidupanku sebelumnya, tapi aku pernah melihat bayi adik perempuanku. Tentunya, bayi tersebut tak merah seperti ini. Aku nyaris berwarna merah menyala.

Kucoba tempatkan beberapa kekuatan ke dalam tubuhku dan mendengar suara sesuatu yang basah pada punggungku. Masih berada di tanah, kulihat punggungku.

Warnanya juga merah. Tidak—itu taklah penting. Yang paling penting adalah sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya. Itu terlihat layaknya pakaian basah. Mungkin basah karena aku baru saja keluar dari rahim ibuku. Tapi sejauh yang kutahu, tak ada makhluk yang lahir dengan pakaian.

Saat aku linglung, seseorang menjilati kepalaku. Saat aku dengan spontan mendongak, aku melihat wajah besar yang besarnya jauh beberapa kali ketimbang wajahku sendiri yang menatap balik padaku. Membuka mulutnya, suara yang kukenal pun terdengar darinya. Suara yang kudengar saat berada di dalam rahimnya. Dengan kata lain, dialah ibuku.

Lehernya panjang seperti ular dengan tubuh bersisik berwarna merah menyala. Mata emas dengan pupil vertikal yang mengamatiku dengan saksama. Gigi binatang melatanya, memenuhi mulut panjangnya dan beberapa tanduk juga tumbuh dari belakang kepalanya. Ada cakar mirip pisau yang tumbuh dari kedua kaki depan panjangnya yang tangkas dan kaki belakangnya yang tebal dan berat. Ekor yang panjang terentang dari pinggulnya dan sayap mirip kelelawar terletak pada punggungnya.

Pada punggungku juga mungkin sama, namun versi kecil dari miliknya. Melihat tubuhku, kuteringat sesuatu.

Itu adalah sesuatu yang mungkin diketahui oleh siapa pun, apalagi seseorang yang meneliti semua misteri dunia sepertiku.

Itu adalah, naga

Baru saja aku bertanya-tanya apa ada sesuatu yang lebih misterius ketimbang reinkarnasi. Tapi kini kumulai sadar kalau pemikiran itu salah.


Akhirnya kumenemukan salah satu misteri yang kucari. Dan kebetulan kalau itu adalah aku.

⟵Back         Main          Next⟶

Related Posts

Hajimari no Mahoutsukai - Volume 01 - Chapter 01 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh