Tuesday, April 3, 2018

Hajimari no Mahoutsukai - Volume 01 - Chapter 03 Bahasa Indonesia



Chapter 03 – Awal Dari Segalanya


Kala kusadar bahwa saat itu adalah takdir,

sudah sangat lama sekali waktu berlalu.

—Penyihir Pemula, Ai.



            "Nina, apa kau pernah bertemu manusia?"

            "Apa itu manusia?"

Nina, gadis yang kuselamatkan dari beruang berzirah memiringkan kepalanya begitu mendengar pertanyaanku yang mendadak.

Tanggapannya cukup masuk akal. Aku mengucapkan kata manusia dalam bahasa Jepang, sisanya dalam bahasa apa pun yang ia gunakan.

Beberapa bulan sudah berlalu semenjak kubertemu dengan Nina. Semenjak saat itu, entah bagaimana kami sudah sampai tinggal bersama, kami bahkan bisa saling berkomunikasi dengan cukup mudah.

Nampaknya bukan hanya kekuatannya saja yang lebih kuat, namun naga juga pembelajar yang jauh lebih cepat ketimbang manusia.

Saat perangkat kerasku berubah, demikian pula dengan perangkat lunakku, yang membuatku bisa dengan sangat cepat berbicara dalam bahasanya.

"Mereka terlihat serupa denganmu, tapi telinganya pendek dan bundar.... dan kemungkinan mereka juga tinggal di rumah yang terbuat dari kayu atau bebatuan"

Perasaan ingin melihat manusia semakin meningkat semenjak kubertemu dengan Nina. Hidup sebagai naga taklah begitu buruk, tapi aku tak bisa membuang kemanusiaanku.

            "Aku tahu apa yang kau bicarakan.... mungkin?"

Karenanya, aku nyaris saja melayang ke langit saat Nina berkata begitu.

            "Bisa kau antarkan aku?"

Dia mengangguk saat kubertanya padanya, lalu kusuruh dia untuk menaiki punggungku dan mengepakkan sayapku.

***

            "Di sebelah sana. Itu ‘kan yang kau bicarakan?"

Kulihat ke arah yang ditunjukkan Nina, dan terkejut.

            "Itu..... manusia?"

            "Mereka terlihat sepertiku, punya telinga bundar, dan tinggal di sarang batu. Apa itu mereka?"

Dengan bangga mengkedutkan telinga runcingnya, Nina membusungkan dada ratanya.

Yah, dia tidak salah, sih.

            "...... Kesampingkan dulu apa mereka terlihat sepertimu atau tidak, apa di sana ada manusia yang hidup sepertimu?"

            "Bukannya aku tahu banyak soal mereka, tapi cara mereka hidup kurang lebih sama sepertiku"

Jadi begitu, ya..... yah, biarlah.

Kulihat kembali ke tempat yang ditunjukkan Nina.

Apa yang kulihat dari atas bukit kecil adalah sebuah gua terbuka yang berada di sisi gunung.

Ada beberapa pria yang keluar dari gua dengan membawa tombak, kelihatannya mereka akan pergi berburu. Masing-masing dari tombaknya terbuat dari tongkat panjang dengan sebuah batu yang diikatkan pada ujungnya. Baik mereka dan sekelompok wanita yang mengantarkan kepergian mereka tak mengenakan apa pun selain bulu binatang. Mungkin hanya ada belasan orang yang tinggal di sana. Sekelompok manusia primitif rasanya kurang pantas untuk disebut pemukiman, apalagi desa.

            "Apa yang......"

Terdapat sihir, para peri, naga yang terbang tinggi di langit, dan misteri-misteri yang menyelimuti dunia.

Ini adalah dunia yang hanya ada dalam sebuah dongeng, jadi secara tak sadar kumulai berpikir bahwa tingkat peradaban di sini serupa dengan Abad Pertengahan Eropa.

Tapi aku sungguh keliru.

Kalau dipikir-pikir dengan saksama, satu-satunya alasan kuberpikir begitu karena dalam dongeng biasanya ceritanya begitu..... ini juga merupakan setting yang cukup umum dalam novel ringan.

Malah, aku harusnya bersyukur karena di sini bahkan ada makhluk humanoid yang bisa kuajak berbicara. Seandainya ini adalah dunia yang hanya dipenuhi dengan slime, aku pasti akan cukup depresi.

Namun.....

Tak begitu memikirkannya, aku pun menghela napas.

            "Woah—hei, hentikan! Apa kau mencoba membunuhku?!"

Nina melompat mundur cukup jauh sembari mengangkat kedua tangannya untuk melindungi kepalanya.

            "Oh, maaf"

Kututup mulutku dengan terburu-buru.

Hal tersulit dalam menghabiskan waktu bersamanya adalah napasku.

Tanpa memikirkannya pun api tetap keluar dari mulutku, jadi kalau aku menghela napas seperti itu kemungkinan akan membakar segalanya.

            "Mungkin aku harus mencoba berbicara dengan mereka.....?"

            "Eh, kau mau pergi? Orang-orang itu tak berbicara, dan juga cukup agresif"

Saat kumencoba tenang dan bergumam begitu, Nina memperingatiku.

            "Yah, pasti begitu..... mungkin. Nina, tunggu di sini, ya?"

Berkata begitu dan melebarkan sayapku, aku pun melompat ke langit.

Aku berada sekitar dua atau tiga kilometer dari gua para manusia tersebut.

Aku belum terlalu percaya diri dalam merasakan jarak atau waktu semenjak tubuhku berubah jadi begini, tapi bahkan tak sampai satu menit buatku untuk bisa sampai di depan gua.

Seorang gadis kecil baru saja keluar dari pintu masuk saat aku tiba, dan menengadah padaku sebelum berteriak dan terjatuh.

            "Tenanghlah, gadis kecil. Tenang, ya? Aku ini naga yang baik. Aku takkan memakan—"

 [Musuh!]

Tombak-tombak pun menghujaniku dari berbagai arah dan menghentikanku.

Begitu, ya. Dia memang benar saat menyebut mereka agresif.

Kutatap mereka saat tombak-tombak mereka tepentalkan oleh sisik-sisikku.

            "Aku tak memusuhi kalian. Bisakah kalian berhenti menyerangku?"

 [Lari!]

Aku berbicara dengan begitu pelan, tapi salah satu pria yang melontarkan tombak meneriakkan sesuatu. Para wanita pun melarikan diri ke dalam gua sembari menyeret anak-anaknya.

Hmm, ini merepotkan.

            "Aku. Bukan. Musuh. Mengerti?"

Sebisa mungkin berbicara supaya tak mengeluarkan napas, kugunakan ujung moncongku untuk mendorong tombak yang mereka lontarkan padaku ke seberang mereka. Akan bagus kalau senadainya ini bisa membuat mereka paham kalau aku ini bukanlah musuh.

Para pria saling memandang satu sama lain dengan bingung, tapi dengan dipenuhi rasa takut, mereka tetap maju untuk mengambil tombak-tombak mereka.

            "Kalian semua masih belum mempunyai bahasa, ya....."

Itulah yang kuyakini usai mengenalisa situasinya. Mereka hanya menggunakan kata-kata pendek semacam perintah. Seperti serang itu dan lari. Mereka masih belum mempunyai bahasa yang bisa dipergunakan untuk bertukar konsep yang lebih rumit.

Terlebih lagi, mereka menyerangku hanya dengan melontarkan tombak batu. Setidaknya, mereka kelihatannya tak mempunyai orang yang bisa menggunakan sihir seperti Elf.

            "Maaf karena membuat kalian semua takut"

Memahami kalau kita takkan mampu berkomunikasi, aku pun sekali lagi terbang ke langit usai meninggalkan mereka dengan beberapa patah kata.

***

            "Bagaimana?"

            "Percuma. Mereka sama sekali tak bisa memahamiku"

            "Sudah kubilang begitu"

Melihatku yang menggelengkan kepala, entah kenapa Nina tersenyum.

            "Padahal kupikir akhirnya aku bisa bertemu dengan manusia....."

            "Hei, jangan mengarahkannya padaku!"

Ah, aduh. Aku menghela napas lagi.

            "Maaf. Aku hanya bernapas biasa saja......"

            "Kau tak boleh membakar habis hutan hanya karena kecerobohan"

Ucap Nina dengan meletakkan tangan pada pinggulnya.

            "Biarpun kau tak bisa bertemu dengan mereka...... apa aku saja belum cukup"

Gumam Nina dengan cemberut.

Suaranya memelan hingga nyaris jadi bisikan, tapi naga mempunyai pendengaran yang baik. Aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

            "Yah, rasanya seperti tidak akan mungkin kalau hanya bersamamu, Nina....."

Aku sungguh tak mempunyai rasa percaya diri saat berkomunikasi dengan sekelompok primitif yang bahkan tak mempunyai bahasa. Akan tetapi, saat kuberkata begitu meski sedikit merasa murung, suasana hati Nina terlihat membaik.

            "Matahari sudah terbenam, kita sudahi dulu dan berisitirahat"

Berkata begitu dan mengulurkan lengannya, secara spontan pohon pun menurunkan dahannya. Sihir Elf.

Nina menanggalkan bajunya dan melemparkannya ke sebatang pohon sebelum berbaring di tempat tidur dari daun yang baru saja dibuatnya.

            "Sudah kubilang itu tidak sopan"

Berbaring dan sama sekali tak tertutupi, kulit putih terangnya mempesona mataku. Tubuhnya ideal meski masih muda, dia berada pada usia yang menyusahkanku harus melihat ke arah mana.

            "Dan aku selalu bertanya : tidak sopan itu apa?"

Seperti biasa, aku selalu bingung bagaimana menjawabnya.

Bahasa yang digunakan Nina tak mempunyai konsep ketidaksopanan. Maksduku, ras-nya bahkan tak mempunyai kata-kata malu. Arti pakaian hanyalah untuk melindungi mereka dari kedinginan, jadi mereka sama sekali tak merasa kalau telanjang itu adalah hal yang memalukan.

            "Ayo, cepat"






            "Iya, iya...."


Dia mengulurkan tanganya ke arahku dan memberi isyarat padaku. Berusaha sebaik mungkin untuk tak melihat tubuhnya, aku menghampirinya dan mengitari tempat tidurnya dengan melingkarkan tubuhku ke sekelilingnya.

Sebagai naga api, tubuhku hangat. Menurutnya, dengan begini membuatnya sangat nyaman. Aku agak cemas karena mungkin saja aku mengeluarkan desahan besar saat aku sedang tidur.

Namun, aku menyadari sesuatu saat mencoba bertemu manusia-manusia itu.

Gaya hidup seorang Elf tak jauh berbeda dengan cara hidup mereka. Aku bisa dengan mudah mengiranya karena mereka adalah makhluk ras hutan, tapi biasanya mereka tak membangun rumah, hanya tidur dengan selimut sederhana, dan hidup dari binatang-binatang, kacang-kacangan, dan buah beri-berian. Kalau terdesak mereka juga akan berburu dan memakan apa saja. Kalau begitu, bukankah mereka juga sama primitif-nya?

Tentunya, mereka masih bisa terus bertahan hidup walaupun dengan gaya hidup seperti itu. Dengan kemampuan mereka untuk memanipulasi pepohonan menggunakan sihir dan mendengarkan suara untuk menemukan makanan, mereka mampu hidup selama hutan masih ada. Meski kurasa kalau itulah yang benar-benar menghambat perkembangan budaya. Karena mampu hidup dengan mudah, mereka tak perlu memajukan atau mengembangkan sesuatu yang baru. Kurasa pada akhirnya mereka akan bisa dikalahkan oleh umat manusia dan hancur.

Itu juga berkalu padaku. Naga begitu kuat hingga bukan merupakan makhluk yang normal. Kami tak punya masalah dengan berburu mangsa, juga tak mempunyai predator alami. Kami mungkin berada dalam puncak rantai makanan. Tapi mata pencaharian kami hanya didukung dengan berburu. Sama sekali bukan sesuatu yang bisa disebut peradaban.

Aku bahkan ragu kalau peradaban itu sendiri ada di dunia ini.

Ini adalah dunia yang masih berada dalam era primitif.

Biarpun aku mempunyai pengetahuan mengenai dunia yang sangat, sangat jauh di masa depan ketimbang dengan dunia yang satu ini, semua itu sama sekali tak ada gunanya tanpa adanya dasar peradaban dan infrastruktur yang bisa dimanfaatkan. Bahkan ras manusia saat ini hampir tak bisa menggunakan kata-kata, apalagi bahasa..... jadinya menyampaikan pengetahuanku pada orang lain lewat buku adalah hal yang mustahil.

Ini kesendirian yang mengerikan.

Tak ada yang mengetahuiku, dan mereka juga tak bisa memahamiku. Kita bahkan tak mampu berkomunikasi.

Aku memang bisa berbicara dengan Nina, tapi dia mempunyai pandangan asing terhadap apa yang baru saja dibicarakan dengannya, yang membuatku tersadar kalau dia adalah makhluk yang begitu berbeda dariku.

Dengan demikian, aku pun akhirnya menyadari : tak peduli misteri seperti apa yang ada, tak peduli seberapa luar biasanya penemuan yang kutemukan, tak ada gunanya tanpa seseorang yang bisa kubagi.

Apa sekali lagi, aku takkan mampu memahami apa pun, takkan meninggalkan apa pun..... dan menjalani hidupku dengan sia-sia?

—Seperti kehidupanku sebelumnya.

Saat kumencela diriku dengan kecewa, sebuah ide pun terlintas dalam benakku layaknya mendapatkan wahyu.

            "Akademi!"

            "A-Ada apa?!"

Karena kesenangan, tiba-tiba aku mengucapkan kata-kata yang seharusnya tetap tersimpan dalam benakku, yang membuat Nina melompat terkejut.

            "Akademi, Nina. Aku akan membangun akademi!"

Tentunya, Elf tak mempunyai kata-kata akademi, tapi aku memberitahukan apa yang kupikirkan.

Kalau tidak ada, tinggal buat saja.

Kalau tak ada tempat untuk mengajar orang lain, aku hanya perlu membuatnya.

—Tempat di mana aku bisa mengajarkan semuanya.

Inilah awal dari cerita yang sangat, sangat panjang—hingga sampai menjadi—cerita konyol.



⟵Back         Main          Next⟶


Related Posts

Hajimari no Mahoutsukai - Volume 01 - Chapter 03 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh