Saturday, April 21, 2018

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 17 Bahasa Indonesia


Chapter 17 – Bimbing Kami, Pahlawan ②




Setelah beberapa jam berburu sehabis bergabung kembali dengan Mahara dan Minamoto, kami pun berhasil mencapai lantai 20.

Bisa dibilang sejauh ini berjalan dengan baik.

Para demon yang kami temui adalah Wight dan Wight Lancers.

Wight adalah monster yang awalnya mayat yang berubah menjadi kerangka. Wight Lancers, seperti namanya, Wights yang memegang tombak.

Biarpun resistance yang mereka punya sedikit lebih tinggi ketimbang monster-monster lainnya, bagian yang merepotkan dari mereka adalah serangannya yang mempunyai efek tambahan racun. Bahkan suatu goresan pun akan bisa mengalahkanmu.

Karena itu akan membuatmu teracuni, kau harus meminum obat yang bisa menyembuhkannya.

Minamoto terkena salah satu serangan tersebut, dan sekarang tengah diobati. Kelelahannya sudah sampai tak bisa menghindari tombak tepat waktu, membuatnya terkena serangan.

"Minamoto, ini, tolong minumlah."

Hayase memberikan Minamoto obat khusus yang dibuat untuk menangkal racun, Daun Yanu rebus. Minamoto pun langsung mengambilnya, dan meminumnya.

Begitu dia meminumnya, corak kulitnya pun langsung membaik dengan cepat. Nampak seolah racun tersebut langsung dinetralkan.

Biarpun begitu.

            "Kau mengagumkan, Hayase."

            "Benarkan?"

Orang yang menanggapinya adalah Tamaki. Mahara yang berada di belakangnya, kelihatan sangat tak puas.

Laki-laki itu, serius deh.

            "Hayase banyak membaca dokumen-dokumen soal obat di isatana, jadi dia tak pernah salah dengan dosisnya. Makanya, kita bisa tetap bertarung tanpa harus khawatir soal gejala-gejala khusus."

Tamaki melakukan pose dengan mengacungkan jarinya ke udara. Nampak seperti seseorang yang begitu bersemangat.

Tapi Hayase kelihatannya lebih berharga dari yang kukira.

Perawatan medis di dunia ini masih belum maju. Ada ramuan-ramuan untuk hal-hal seperti pemulihan stamina dan mana, tapi ada banyak item yang masih belum bisa mengobati gejala-gejala lainnya.

Kalau menggunakan Daun Yanu sebagai contohnya, sekalipun efektif untuk mengobati racun, daun tersebut akan mempunyai efek berbahaya pada tubuh kalau diminum dalam dosis yang terlalu besar, dan malah menjadi racun untuk tubuh. Seperti itulah risikonya.

Karena itulah orang tak punya pilihan selain meminumnya pada saat itu juga.

            "Oh? Hayase adalah orang yang cukup penting untuk party ini."

            "Te-Terima kasih banyak."

Hayase yang mendapatkan pujian dariku terlihat malu. Atau mungkin karena memang dia pemalu?

            "Minamoto, apa sekarang kau baik-baik saja."

            "Ya, aku baik-baik saja."

Dia berdiri dan bergerak untuk meregangkan tubuhnya dan memeriksa indranya, tapi kelihatanya tidak ada yang aneh.

            "Anda harus meminum ramuan ini juga supaya aman. Ini, tangkap."

Kulemparkan botol kecil mirip tabung reaksi yang berisikan ramuan pada Minamoto. Dia pun menangkap dengan kedua tangannya.

            "Kau adalah pengawal kami, jadi jangan mengharapkan terima kasih."

Hanya membalas begitu, Minamoto pun pergi.

            "He-Hei! Hadeh..... Tamaki, Hayase, ayo kita juga pergi. Kita tidak boleh membiarkannya pergi sendirian."

            "Baik!"

Hayase pun berdiri, dan dengan cepat mulai mengemasi barang-barangnya. Tamaki kurang menanggapinya karena dia ditarik oleh Mahara.

Dengan begitu, formasi kami pun langsung berubah menjadi Minamoto di baris depan, Mahara dan Tamaki di tengah, lalu Hayase dan aku mengikuti dari belakang.

Tetap mengawasi Minamoto dalam jarak pandangku, aku tetap menjaga jarak di belakang yang lainnya, dan berbicara dengan Hayase.

            "Yuuji, mengapa kau menjadi seorang petualang? Maksudku, para petualang ‘kan harus melawan monster....."

            "Hmm, saya benar-benar tidak pernah memikirkannya. Mungkin hanya karena orangtua saya juga seorang petualang, jadi saya melakukannya juga."

            "Ka-Kamu melakukan sesuatu yang sangat menakutkan hanya karena alasan itu?!"

            "Saya tak berbakat dalam berbagai hal lainnya, jadi bukan seperti saya bisa berhenti. Selain itu, setelah terbiasa rasanya tidak terlalu buruk juga...... Tunggu, Apa mungkin Anda takut?"

Tubuhnya sedikit gemetaran saat dia menatapku seolah dia akan menangis.

Tepat sasaran, ya. Malah, cukup mudah untuk diketahui.

            ".... Ya. Maksudku, aku tidak mempunyai kemampuan apa pun untuk bertarung seperti kalian. Aku hanya mengikuti yang lainnya. Dan aku merasa akan segera mati tiap kali kita diserang oleh monster. Mati itu.... menakutkan."

Mati menakutkan.

Semua orang juga berpikir begitu.

Aku juga begitu. Sekalipun aku masih bisa dihidupkan kembali, aku masih harus merasakan rasa sakit, kesuraman aneh dalam pikiranku, dan wanita aneh  dalam mimpiku.

Mungkin juga ada batasan untuk kemampuan tersebut, jadi bukan berarti aku akan selalu bisa dihidupkan kembali. Ada banyak hal yang masih belum bisa kupahami.

Tapi takkan ada yang berubah kalau aku tetap takut. Aku mengetahuinya dari pengalaman.

            "A-Aku tahu itu bukan hal yang bagus. Bagi seorang pahlawan sepertiku untuk menjadi begitu lemah...... maafkan aku, tolong lupakan saja apa yang kukatakan barusan."

            "Saya sama sekali tak berpikir begitu."

Kuletakkan tanganku ke atas kepalanya Hayase dan menepuknya.

            "Yu-Yuuji?"

            "Semuanya juga sama, memulai dari awal. Hal-hal yang menakutkan memang menakutkan. Tidak adak yang bisa menahan perasaan tersebut. Itu bukti bahwa kita hidup."

            "..... Be—..... Benarkah?"

            "Ya. Hayase, semuanya akan baik-baik saja. Mulai sekarang, lakukanlah sebaik mungkin. Mungkin terdengar murahan, tapi usaha Anda takkanlah sia-sia. Teruslah melangkah maju sesuai dengan kecepatan Anda sendiri. Kalau Anda terus melakukannya, suatu saat nanti Anda akan bisa menjadi seorang pahlawan yang hebat. Saya yakin."

            "Yuuji......"

Dia memikirkan sesuatu, mengusap matanya, dan menepuk jubahnya. Lalu dia mengangkat kepalanya, perasaan yang dikeluarkan Hayase sama sekali berbeda dari Hayase Fuuko yang sebelumnya.

            "Terima kasih, sungguh. Rasanya aku seperti punya keberanian sekarang."

            "Itu hebat."

            "Yuuji, ini semua berkatmu. Jadi, eng....."

Gadis itu mulai memainkan jari-jemarinya. Mengepalkan tangannya, lalu dia menepuk pipinya untuk memberanikan diri dan meraih tanganku.

            "U-Umm!"

            "Hm? Ada apa?"

            "Yuuji..... eng, apa kamu sudah punya pacar?"

Apa yang terlintas dalam benakku adalah Shuri dan senyumannya. Kupikir hubungan kami seperti itu, tapi untuk mengatakannya rasanya memalukan karena seperti aku ingin bersamanya saja.

            "Belum."

Jadi kujawab saja belum. Saat kuberkata begitu, wajah gadis itu bersemangat dengan senyuman yang sangat tidak biasa baginya; senyumannya serupa dengan bunga matahari yang mekar di musim panas.

            "Ka-Kalau begitu.... saat aku menjadi seorang pahlawan! Bi-Bisakah kita—"

            "Kalian berdua cukup mesra, ya di sana!!"

Usai mencari kesempatan untuk melepaskan diri dari genggamannya Mahara, Tamaki pun memanfaatkan suasana kami.

Dia berbicara dengan keras supaya niatnya untuk bergabung dalam percakapan kami bisa sangat dimengerti.

            "Ap-Ap-Apa—?! Tamaki, bicara apa kamu ini?! Ini bukan seperti yang kau maksud! A-Aku hanya—!"

Hayase sangat tersipu, menggoyangkan tangan di depan kepalanya untuk menyangkalnya.

..... ..... Oh.

Maaf, tapi aku bukan protagonis bermuka tebal. Aku sudah paham, aku hanya memutuskan untuk tidak menyadarinya.

            "Jadi, menurutmu gimana, Yuuji? Gimana rasanya punya gadis manis seperti itu yang tertarik padamu?"

Dia mendesakku dengan sikunya. Ayolah.

            "Aku sangat cemburu, Hayase. Yuuji memperlakukanmu dengan sangat baik, aku juga ingin diperlakukan begitu olehnya~"

Tamaki mengambil lenganku dengan lengannya untuk menunjukkan apa yang dia maksud.

Ini sama sekali tak membuatku senang.

Aku paham apa yang direncanakannya, dia sama sekali tidak punya niatan baik terhadapku. Dia bahkan tak membuat hatiku cenat-cenut.

Selain itu, semuanya akan berakhir dengan sedikit bencana tertentu.

            "...... Hei, pengawal."

Ah, ini dia.

Waktunya tepat. Sudah waktunya untuk melakukan itu.

Mari manfaatkan emosi lelaki ini saat kita melakukannya.

            "Menjauh dari Tamaki, itu memuakkan."

Matanya Mahara mulai jadi gelap. Apa ini yang dinamakan cinta membuatmu buta?

            "Ya, baik. Saya mengerti."

            "Kau cepat tanggap. Kalau begitu cepatlah dan—"

            "Anda ini memuakkan."

            "Apa......?!"

Mahara memelototiku seperti iblis. Aku yang dulu mungkin akan ketakutan, tapi setelah aku melihat iblis sungguhan, sekarang aku sama sekali tak takut padanya.

            "Coba pikirkanlah. Seperti apa Tamaki saat dia mendengarkan Anda bicara, dan bagaimana saat dia bersama kami."

            "Hah? Jelas dia lebih senang saat denganku. Benarkan, Tamaki?"

            "Ahaha, hah....."

Tamaki tersenyum paksa dan memalingkan mukanya, menghindari matanya.

Memahami maksudnya, wajah Mahara menjadi merah karena marah.

            "..... Dasar bajingan!"

Kenapa malah aku yang dimarahi?

Kurasa dia mengira kalau aku mencuri Tamaki darinya. Pemahaman yang sangat tidak adil dan egois.
Suasananya jadi menegang.

Minamoto yang kembali pun berteriak pada pertikaian kami yang membuntu.

            "Hei! Aku menemukan tangga! Ada Rumah Monster juga di sini!"

            """—?!"""

Rumah Monster.

Dari semua kemungkinan yang terjadi, ini mungkin salah satu hal terburuk yang didengar ketiga orang tersebut.

Masing-masing dari mereka bereaksi dengan cara mereka tersendiri, tapi Mahara lah yang pertama bereaksi.

            "Lihat saja, Tamaki! Aku akan mengalahkan si bajingan itu!"

            "Eh—he-hei?!"

Maharan pun lari, mengabaikan Tamaki yang memanggilnya.

Kurasa dia putus asa untuk berlagak padanya. Baguslah dia sangat mudah dipahami. Berkat itu, aku bahkan tak perlu melakukan apa pun.

            "Kalian berdua tunggu! Saya akan pergi menyelamatkan mereka!"

            "A-Aku juga—"

            "Tidak! Saya tidak akan bisa melindungi Anda di dalam Rumah Monster dan mengeluarkan mereka. Selain itu, Anda mempunyai tugas penting untuk mengobati luka mereka. Jadi, tunggulah di sini."

            "Tamaki, tetaplah di sini dan lindungi Hayase. Kalian berdua seharusnya baik-baik saja jika tetap berada di sini."

            "Ba-Baik."

            "Aku mengandalkanmu."

Mempertegaskan tugas pentingnya, aku pergi menyusul mereka.

Akan merepotkan kalau Tamaki dan Hayase mati. Aku belum mempekerjakan mereka sekeras yang kubisa.

Saat kumenambah kecepatan untuk menyusul mereka, aku melihat Minamoto dan Mahara yang berhenti di depan pintu.

Pundak Mahara naik turun, jadi kurasa dia juga baru sampai.

            "Lihat pola ini? Kalau tidak salah, ini sama seperti yang saat itu."

Apa yang diucapkan Minamoto memang benar.

Itu benar-benar formasi sihir yang sama dengan yang kita temui di Rumah Monster Rigal Den.

Itu bukanlah sesuatu yang bisa dibentuk oleh siapa saja.

Tidak, kecuali bila kau adalah penguasa dungeon, yang itu.

            "Apa yang harus kita lakukan? Masuk ke dalam?"

            "Tentu saja. Rumah Monster tidaklah menakutkan jika sebelumnya kau sudah mengetahuinya."

Mahara berdiri dengan sihirnya, dan mendengarkannya, Minamoto pun mengeluarkan senjatanya.

            "Hei, kau sebaiknya jangan ikut campur. Bantu saja kalau menurutmu bahaya."

Mahara memberikan peringatan.

            "Tentu. Biarkan saya melihat Anda kesulitan saat Anda berusaha dan berlagak pada Tamaki."

            "Cih....! Minamoto, ayo pergi!"

            "Aku tahu, aku tahu.  jangan memerintahku."

Dengan begitu, keduanya pun menjadi kaku.

            "Eh?"

            "Hah?"

Apa yang mereka lihat ialah sesuatu yang sangat berbeda dari yang mereka bayangkan.

Manusia lemah terhadap perubahan mendadak dan kejadian tak terduga.

Ketidaksabaran, ketidaktegasan, keraguan.

Hal-hal tersebut mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan.

Jadi dari belakang kudorong mereka ke dalam ruangan.

            "Ah—"

            "Ap—"

Dengan begitu, mereka pun berada di dalam ruangan.

Berada dalam jangkauan membunuh sang iblis merah.

Di sana tak ada banyak monster.

Hanya ada satu iblis.

            "—Bunuh mereka, Leadred."

Si iblis pun tersenyum jahat usai mendengar perintahku dan menjawab.

            "—Dengan senang hati."


⟵Back         Main          Next⟶



Related Posts

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 17 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh

3 komentar