Monday, April 30, 2018

Yuusha-sama no Oshishou-sama Chapter 52 Bahasa Indonesia


Arc 2.5 (Selingan)


Chapter 52 – Sarang Goblin



Party tersebut terus memperhatikan pancuran air di Desa Avian sepanjang malam.


            "Aku harap mereka cepat datang,"

Keluh Oort.

            "Supaya kita bisa menghabiskan malam lagi di rumahnya Laura."

Usai memutuskan untuk mulai menyelidiki daerah tersebut saat matahari terbit besok, mereka beristirahat sepanjang malam dengan dua orang yang berjaga. Saat para Goblin mendapati bahwa mereka sudah kembali ke Desa Avian, mereka bisa menyerang kapan pun. Meskipun terancam, mereka senang karena sama sekali belum diserang. Saat matahari terbit, mereka dengan cepat menghabiskan sarapannya, dan langsung mulai menyelidiki daerah di sekitaran desa. Dengan mudahnya, mereka menemukan jalan setepak yang dilalui oleh para Goblin. Membentuk satu barisan, mereka pun mulai menelusurinya dengan berhati-hati. Oort dan Paul berada di depan, Louis dan Eliza berada di belakang, lalu Wynn dan Leti berada di tengah. Jalan setapak ini tak nampak seperti dibuat oleh para Avian sendiri, karena mereka hanya menemukan jejak-jejak binatang dan Goblin. Mereka tak menemukan yang nampak seperti ulah manusia. Ketika mereka menemukan apa yang mereka cari semenjak fajar, matahari pun sudah tinggi di langit.

            "Oh, mereka ada di sana."

Oort yang memimpin barisan pun mendadak berhenti. Dia melihat sarang Goblin di gua pada sisi tebing.

            "Goblin? Di mana?"

Ketika Wynn yang mencoba maju ke depan untuk melihatnya di suruh diam oleh Eliza, Paul menghunus pedangnya, dan Louis mengeratkan cengkramannya pada tombaknya.

            "Mereka belum menyadari kita. Tapi aku tidak bisa melihat pemimpin mereka di manapun."

Mereka hanya bisa melihat tiga Goblin yang tengah bersiaga di depan gua. Salah satunya memegang senjata seperti kapak, sementara duanya lagi memegang pentungan.

            "Eliza, serang dulu Goblin berkapak dengan sihir. Louis dan aku akan menangani sisanya. Paul akan mengawasi para Goblin yang keluar dari gua."

            "Baik."

            "Wynn, Leti,"

Lanjut Oort usai menoleh ke dua anak tersebut.

            "Untuk sementara, kalian berdua bersembunyilah di sini dan melihat kami bertarung. Kalian harus mempelajari cara kami bekerja sama."

Mereka berdua pun mengangguk.

            "Baik. Ayo kita pergi!"

Begitu Oort, Louis, dan Paul keluar dari semak-semak, Eliza mulai melalfalkan mantera dengan berkonsentrasi penuh.

            "Wahai Api, patuhilah kehendakku dan buatlah bola api!"

Api kecil seukuran api lilin muncul di tengah-tengah telapak tangan Eliza. Lalu api tersebut pun membesar menjadi seukuran labu, membentuk jadi bola, lalu perlahan menaik dari tangannya hingga terhenti di atas kepalanya.

            "Serangan sejati, Fireball!"

Eliza mengarahkan tangannya ke Goblin berkapak, dan bola api tersebut pun terbang dengan kecepatan yang menakjubkan. Merasakan panas yang mendekat, Goblin tersebut pun berbalik menghadap ke mantera yang menghampirinya. Bola api pun mengenai tepat pada dadanya dan meledak.

            "GYAAAAA!"

Goblin tersebut pun mengeluarkan teriakan mengerikan dan terhempaskan oleh ledakannya. Lalu, Goblin itu pun berguling di tanah untuk memadamkan api yang membakar tubuhnya. Kedua Goblin lainnya pun tersentak karena panas dan ledakan tersebut. Oort dan Louis mengambil kesempatan itu untuk mendekatinya. Kapak Oort membelah kepala salah satu Goblin itu, sementara Louis menikam dada Goblin yang satunya.

            "Whoa....."

Paul kagum dengan cara bertarung party petualang berpengalaman. Dia tidak punya kesempatan untuk berbuat apa-apa usai Oort dan Louis melompat keluar dari semak-semak.

            "Jangan lengah! Yang lainnya mulai berdatangan!"

Teriak Oort yang membuat Paul kembali sadar. Sepuluh lebih Goblin berlari keluar dari gua. Hanya dua Goblin yang memegang senjata logam, sisanya memegang pentungan kayu tebal biasa. Biarpun banyak, mereka bukan tandinganya para petualang yang siap bertarung. Dengan cepat, Oort pun mengatasi keempat Goblin, Louis membunuh tiga, dan Paul mengalahkan dua. Tidak ingin rekan-rekannya terkena apinya juga, Eliza pun menyaksikan mereka bertarung bersama kedua anak itu. Tapi saat salah satu Goblin mencoba kabur, dia pun langsung membunuhnya dengan bola api.

            "Hei, apa di sana ada Raja-nya?"

            "Tidak, aku belum melihatnya."

            "Aneh sekali. Seharusnya tidak hanya segini....."

Oort menjatuhkan bilah kapaknya ke tanah, dan berpikir sembari mengusap dagunya. Hanya ada sedikit perlawanan dari yang dia perkirakan. Berbeda dengan Paul yang sudah kecapean hanya dengan mengalahakan dua Goblin, Oort dan Louis masih terlihat biasa-biasa saja. Bagi mereka, jumlah Goblin yang barusan muncul bukanlah hal yang istimewa. Tapi Oort mampu merasakan kehadiran monster yang lebih kuat. Tidak mungkin Desa Avian bisa dirusak hanya oleh kedua belas Goblin.

            "Cih, apa mereka bersembunyi di gua? Gimana kalau kita kubur saja mereka di gua menggunakan sihir Eliza?"

Tanya Louis.

            "Percuma kalau tak ada jalan keluar lainnya,"

Jawab Oort.

            "Kalau begitu, apa kita harus masuk ke gua? Di sana bau. Aku tak ingin masuk ke dalam gua."

            "Jangan mengeluh. Ini pekerjaan kita."

            "Mereka begitu santai,"

Keluh Eliza, menyaksikan senda-gurau Oort dan Louis.

Mereka mungkin tak ingin terlihat payah di depan para petualang pemula. Eliza melihat ke arah Wynn dan Leti, yang seharusnya tengah menyaksikan pertarungan. Dia menyadari sesuatu yang aneh.

            "Ada apa, Leti?"

Leti menjadi tegang, memeluk lengan kiri Wynn.

Apa mungkin menyaksikan pertempuran pertamanya terlalu berat buatnya?Pikir Eliza, kelihatannya agak terlalu cepat baginya untuk menjadi seorang petualang.

            "Tenang saja, Paul dan anggota party-ku kuat, kok. Mereka akan mengatasi para Goblin dalam sekejap mata."

Eliza berjongkok untuk menatap mata Leti yang ketakutan, dan berbicara dengan suara yang lembut.

            "Onii-chan....."

Suara Leti gemetaran. Eliza melihat Wynn, yang melihat Leti dengan khawatir.

            "Ada apa?"

Eliza mengerutkan dahinya, bingung dengan tingkah Leti yang aneh. Leti mendadak megalihkan pandangannya dari Wynn menuju gua. Bersamaan dengan itu, Eliza pun akhirnya menyadari jejak kekuatan sihir yang samar-samar bisa dirasakan di sekitar mereka. Dan begitu dia mulai mencari sumbernya—

            "Oort, di atas kita!"

            "Sial—!"

Mendengar peringatan Eliza, Oort pun langsung mengangkat tameng logamnya. Hanya dalam waktu yang singkat, dia mampu bergerak untuk memblokir gada yang dipegang oleh suatu bayangan yang terjun dari atas. Dia pun tersandung dengan mundur beberapa langkah. Musuh, dengan kepala anjing, terlihat persis seperti Kobold. Akan tetapi, ukurannya berbeda dengan Kobold pada normalnya, yang biasanya tak lebih besar dari manusia. Kobold di hadapan mereka tingginya sekitar 3 meter. Memegang pentungan yang lebih besar ketimbang seorang pria dewasa, mungkin lebih tepat kalau digambarkan sebagai batang kayu. Dengan otot-otot yang menonjol di bawah bulu coklat gelapnya, membuat dia bisa mempergunakan senjata semacam itu. Kobold normal pun bukanlah tandingannya.

            "Oi, Oi, apa Kobold itu memang sebesar ini, ya?"

Tangan kiri Oort mati rasa karena daya pukulan Kobold yang diperkuat dari lompatannya dari tebing. Dia memelototi monster raksaksa itu.

            "Itu mah sebesar Ogre, kali? Aku belum pernah mendengarnya sebelumnya, tapi apa ini Raja Kobold?"

            "Paul, putari ke belakangnya. Kita akan mengepungnya."

Oort berdiri di hadapan Kobold raksaksa, Louis berada di sebelah kanannya, dan Paul memutari ke belakangnya.

            "Nah, ayo maju...."

Dia menjilat bibirnya yang kering, dan memasang tameng di hadapannya. Dia mencengkram kapak di tangan kanannya. Kobold itu tidak menunggu, namun langsung melompat ke arahnya dengan menggeram. Oort pun mengalihkan pandangannya dari Louis dan Paul, usai memastikan posisi mereka. Keringat dingin pada ketiganya mulai bercucuran di pipi mereka. Senjata Kobold sederhana, hanyalah sebuah pentungan. Senjata tersebut hanya bisa diayunkan ke sekitar. Tapi satu ayunannya saja bisa menghancurkan mereka. Memang senjata yang sederhana, tapi juga mengerikan.

Wynn, Leti, dan Eliza yang menyaksikan pertarungan tersebut berada sekitar 10 meter dari Oort. Bocah itu mencengkram erat pedang kayunya, menatap tapam pada kejadian di hadapannya itu.

            "Akankah mereka baik-baik saja?"

            "Tenang saja, mereka bertiga kuat,"

Jawab Eliza, menutup matanya bersiap-siap untuk melafalkan mantera.

Dia mengambil napas, lalu menghembuskannya. Merilekskan seluruh tubuhnya, dia pun mengumpulkan konsentrasinya. Dia menghalau semua suara di sekitarnya, seolah tengah berada di tengah-tengah jurang yang sangat, sangat dalam. Karena itulah dia tidak pernah menyadarinya. Dari saat mereka bertarung dengan Goblin hingga sampai Kobold raksaksa muncul. Leti yang berpegangan pada tubuhnya Wynn terus menatap Eliza. Dia mengamati setiap tindakannya Eliza, tak membiarkan satu gerakkan pun luput dari perhatiannya.

            "Haaaaaaaaaaaa!!"

Oort menyerukan teriakan bertarungnya saat melangkah maju agar Kobold hanya memusatkan perhatian pada dirinya sendiri. Dia menguatkan kakinya saat melangkah. Pancaran mata Kobold yang ganas terlihat saat pentungan raksaksanya menyeret tanah. Dia mendengar suara gemuruh dari raungan Kobold yang dibarengi langsung dengan benturan.

            "Gu-guh."

Sekalipun memperkuat dirinya menggunakan tameng, seluruh tubuh Oort merasakan serangan tersebut.

            "Oh sia—"

            "—Louis!"

Oort mendengar makian Louis sembari memulihkan diri dari benturan. Dari balik tamengnya, dia melihat Louis telah melangkah ke jalur ayunannya Kobold, dan dihempaskan saat pentungan melaju ke arah sampingnya. Serangan musuh lebih tajam, cepat, dan ganas dari yang diduga Louis. Rasanya lebih seperti raungan badai ketimbang hempasan biasa. Merasakan pentungan itu akan menjangkaunya sebelum tombaknya menjangkau jantungnya Kobold, Louis pun segera menarik kembali senjatanya untuk menahan serangan Kobold, tapi pentungannya dengan mudah menghancur tombak dan menghantam tulang rusuknya. Dia diterbangkan seolah usahanya untuk menahan serangan hanyalah sekedar lelucon dan menghantam tanah sepuluh meter jauhnya.

            "Oh... ohok....."

Dia berguling-guling di tanah beberapa kali. Untung pukulannya sempat dilemahkan oleh tameng Oort dan tombaknya Louis, Louis pun kelihatannya masih sadar. Saat mengerang, matanya masih mengikuti Kobold. Andai saja dia menerima pukulan kuat dari serangan itu, dia pasti akan dihancurkan hingga mati. Tapi kelihatannya, tulang rusuknya benar-benar patah.

            "Monster sialan!"

Dengan berteriak, Oort pun bergerak ke sisi kirinya Kobold yang berbalik ke Oort sehabis mengayun barusan.

            "Serangan sejati, Fireball!"

Bersamaan dengan itu, bola api yang diluncurkan ke dada monster tersebut pun meledak. Kobold tersandung karena dampaknya. Namun, meskipun berteriak karena kesakitan, monster tersebut tak jatuh. Oort bisa merasakan panas, dan tetap memasang perisainya, lalu memberikan perintah.

            "Sekarang, Paul!"

            "Haaaaaaaaaa!"

Paul menusukkan pedangnya ke dada Kobold yang tebal.

            "Ki-Kita berhasil....."

Paul melepaskan pedangnya saat Kobold tersungkur dengan suara bruk.

            "Akhirnya. Kerja bagus, Paul."

            "Y-Ya?"

Inilah kali pertamanya Paul membunuh monster sebesar itu. Dia menatap tangannya, masih bergemetar. Dia sudah bertindak berani di depan anak-anak, namun dia baru berusia 18 tahun. Dia baru saja menjadi petualang sepenuhnya.

            "Louis!"

Eliza pun langung pergi ke tempat Louis terjatuh.

            "Owowowowowow..... aku mengacaukannya."

            "Diamlah sebentar....."

Dia berlutut di sebelahnya, dan menempatkan kedua tangannya pada pinggang Louis.

            "Wahai kekuatan, patuhilah kehendakku, hibahkanlah ia kesembuhan!"

            "Terima kasih."

Cahaya redup pun mengitari tangannya Eliza. Dia tengah melakukan sihir penyembuhan.

            "Ingat, karena beberapa tulang rusukmu patah, aku tak bisa menyembuhkanmu sepenuhnya, ya?"

            "...... Asalkan aku bisa berjalan."

Dia lebih kuat dari yang kukira, pikir Oort dan menghela napas lega saat dia menyaksikan Eliza menyembuhkan Louis.

Dia memikirkan soal panggilan akrab mereka, sembari melihat tamengnya. Tamengnya sangat penyok akibat serangan yang telah diterimanya. Louis beruntung tidak terluka sangat parah. Mereka mungkin ceroboh dengan menganggap kalau itu hanya Kobold. Dia melihat kembali ke arah monster yang tersungkur. Butuh banyak usaha bagi Paul untuk membuat lubang pada punggungnya. Pemuda itu sudah memberikan segenap kekuatan dalam tusukkannya, dan bilahnya pun pasti terjebak pada tulangnya. Lalu dia mencari tahu apakah anak-anak baik-baik saja.

            "Hm?"

Leti masih berpegangan pada Wynn, namun ia melihat ke arahnya sembari gemetaran.

Apa buatnya itu terlalu berlebihan? Dia sangat gemetaran..... pikirknya, saat ia mulai berjalan menuju anak-anak tersebut dengan senyuman di wajahnya.

            "Heei! Sekarang sudah tidak apa-apa. Ada apa? Apa pertarungan tadi membuat kalian takut? Louis dan Paul sudah mengatasinya, jadi sudah tidak apa-apa. Bagaimana? Apa kalian sudah belajar banyak?"

            "Bang Oort....."

            "Ada apa, Wynn?"

            "Leti bilang.... Leti bilang monster itu belum mati!"

            "Ap... hah?!"

Tepat saat dia mendengar perkataan Wynn, dia mendengar Paul menjerit.

            ".... Apa?!"

Oort pun berbalik, dan melihat Kobold dengan pedang yang masih berada pada punggunnya, berdiri kembali.

⟵Back         Main          Next⟶





Related Posts

Yuusha-sama no Oshishou-sama Chapter 52 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh