Tuesday, May 8, 2018

Hajimari no Mahoutsukai - Volume 01 - Chapter 09 Bahasa Indonesia






Chapter 09 – Karunia


Orang-orang biasanya tak menyukai hal-hal klise.

Apa mereka bosan melihat hal-hal

yang berulang-ulang setiap kali?



            "..... Sudah siap!"

Aku meninggikan suaraku saat masih mengaduk mata air dengan ekorku untuk menyetabilkan uapnya dengan menghembuskan api pada mata airnya.

            "Kau cukup lama!"

            "Maafkan, aku."

Lalu, aku mendengar suara cipratan air di balik punggungku. Diikuti suara seseorang yang berhati-hati memasukkan diri ke dalam mata air. Suara-suara tersebut berasal dari Nina dan Ai, yang satu per satu memasuki mata air. Hanya pada saat-saat inilah aku merasa tak nyaman dengan pendengaran tajam naga.

            "Aah, nikmatnya.... suhunya pas."

            "Nikmatnya......"

Berbeda dengan kedua gadis itu yang santai, aku sama sekali tak bisa tenang. Alasannya karena kedua gadis di belakangku ini memasuki mata air dengan telanjang.

            "Hei, kenapa kau selalu berpaling? Berbaliklah ke sini."

            "Tidak, itu agak......."

            "Tidak mau, melihat wajahku......?"

            "Tidak, bukan begitu. Hanya saja......."

Ai yang biasanya berada di pihakku, kini berpaling mengujiku tiap kali kami melakukan sesuatu yang seperti ini.

            "Beritahu aku kenapa kau tak ingin melihat ke sini!"

Nina tiba-tiba menangkap leherku yang panjang dengan lengannya dan menariknya.

Tapi rasanya aku sama sekali tak bisa menjelaskannya dengan baik.

Maksudku, kedua gadis ini bahkan tak merasa malu karena telanjang.

Mungkin itu bukanlah suatu pemikiran yang dipunyai manusia secara hakiki, tapi lebih ke Enkulturasi? Seperti sesuatu yang dipelajari dengan memperhatikan orang tua yang merasa malu karena telanjang.

            "Yah, itu karena..... kalian berdua tak mengenakan pakaian sekarang?"

            "Bukannya kau yang menyuruh kami untuk menanggalkannya?"

            "Iya, tapi......"

            "Apa itu..... karena aku, tidak punya sisik......?"

            "Tidak, tidak, tidak. Bukan itu masalahnya."

Mendengar suaranya yang seakan jatuh ke dalam keputusasaan, aku pun menggelengkan kepalaku.

            "Aku ini pria, dan kalian berdua wanita. Seorang pria yang melihat wanita telanjang itu, yah.... bukan hal yang begitu bagus."

            "Apa? Tapi, bukannya wanita melihat pria telanjang itu tidak apa-apa?"

            "Kurasa, itu juga bukan hal yang begitu bagus....."

            "Tapi bukannya kau ini selalu telanjang?"

            "!!"

Suatu kejutan yang mendadak.

Kalau dipikir-pikir, memang benar. Aku tak begitu memikirkannya semenjak aku menjadi naga, tapi aku jelas tak mengenakan pakaian apa pun.

Itu artinya selama ini aku telanjang.

            "Tidak, tidak, tidak, itu beda! Tolong, tunggu. Lihat, aku.... aku ini naga. Jadi aku tak memerlukan pakaian."

            "Kalau begitu, bukannya pria atau pun wanita tidak ada hubungannya?"

Nina segera menghampiriku kembali dengan alasan yang bagus.

Dia benar. Aku telanjang karena aku adalah naga, yang membuat logika tak menunjukkan tubuh mereka pada wanita memang terlihat salah. Itulah yang disebut sebagai standar ganda.

            "..... Baiklah. Aku mengaku kalah."

Dengan enggan.... aku pun berbalik. Mata air begitu jernih sehingga tak sedikit pun menyembunyikan tubuh kedua gadis itu. Terlebih, karena mereka sama sekali tak berusaha menyembunyikannya, aku bisa sepenuhnya melihat mereka dari atas hingga bawah.

            "Umm, Mentor...... apa kau baik-baik saja? Apa aku, menjijikan?"

            "Tidak, sama sekali bukan begitu."

Kugelengkan kepalaku untuk menanggapi pertanyaan Ai yang gelisah.

            "Kalau begitu.... kenapa kau, tak melihat ke arahku?"

Karena tubuhmu berkembang lebih dari yang kukira!

Namun, aku takbisa mengatakannya dengan keras.

Keduanya masihlah berada di masa remaja awal. Mereka masih anak-anak. Aku memang merasa malu, tapi rasanya aku belum pernah melihat mereka dengan pikiran yang tak senonoh.

            ".... Benar, sudah setahun, ya?"

            "Setahun?"

            "Ya. Suhunya sama seperti saat kau datang padaku bukan, Ai?"

Satu tahun di dunia ini terdiri dari 400 hari lamanya, sedikit lebih lama ketimbang Bumi. Kalau aku tidak salah, sudah 384 hari semenjak aku bertemu dengan Ai, jadi baru sekitar setahun. Penampilannya sudah mengalami banyak perubahan dalam setahun terakhir ini.

            "Oh iya Ai, yang kau punya lebih besar dariku, bukan?"

Ya.

Baik perawakanku atau Nina sama sekali tak berubah. Ai lah satu-satunya yang tumbuh.

Dia mungkin kekurangan nutrisi. Aku melihatnya sebagai seseorang yang berusia 10 tahun karena bagiku dia cukup tinggi, tapi kini dia sudah melebihi Nina. Bahkan, kulit dan tulangnya saja sudah mulai terlihat feminim. Kini dia lebih kelihatan sebagai seseorang yang berusia 15 atau 16 tahunan.... dan dadanya, bagaimana mengatakannya, ya.... yah, kini keberadaannya mulai diketahui.
Intinya, menatap lurus ke arahnya sedikit sulit.

            "Mentor tak mau melihatku, karena aku bertambah besar?"

Melihat Ai yang menunduk dengan cemas saat dia berkata begitu hampir membuatku meludahkan api.

Itu topik yang sangat berbahaya.

            "Tidak! Hanya saja, eng....."

Aku mendadak menyesal karena nyaris tak punya pengalaman dengan wanita di kehidupanku sebelumnya. Aku tidak mampu memikirkan apa yang mesti kukatakan padanya di saat-saat seperti ini.

            "Hanya saja, Ai sudah jadi sangat cantik, jadi hanya dengan melihatmu saja sudah membuatku malu."

Saat kuutarakan satu-satunya hal yang terlintas dalam benakku, Ai pun terdiam dan tersipu.

            "Hei."

Merasa ekorku ditarik, Aku pun berbalik menghadap Nina.

            "Bagaimana denganku?"

Kalau untuk Nina, secara keseluruhan dia memang mudah untuk dilihat. Kecantikannya itu jelas menyejukkan, tapi bukan dari segi yang besar dan berisi. Dia bagaikan suatu karya seni. Atau mungkin aku sudah terbiasa melihatnya karena dia lebih suka tidur dengan telanjang?

Terus terang saja, dadanya memang sedikit menonjol, tapi tak begitu kuat dan memikat seperti Ai. Walau tidak mungkin aku memandangnya sebagai seorang pria sejati, buat seseorang yang tak luwes sepertiku, itu pastinya punya daya tarik tersendiri.

            "Nina, aku menyukaimu apa adanya."

            ".... Aku tidak begitu mengerti, tapi rasanya kau seperti mengejekku!"

Syukurlah, suasananya tak berubah jadi aneh karena kehebohan yang dibuat Nina.

***

            "Kalau begitu, apa kau siap, Ai?"

            "...... Ya"

Suaranya terdengar kaku saat dia menjawab dari atas kepalaku. Dia mungkin merasa gugup.

            "Baiklah."

Aku pun melebarkan sayapku, melindungi tubuhnya.

            "Aku akan melindungimu jika terjadi sesuatu."

            "Y-Ya......"

Kali ini tanggapanya terdengar semakin tegang. Apa aku malah membuatnya tambah gugup?

Yah, bukannya aku tak bisa memahaminya. Inilah kali pertamanya dia pergi ke sana dalam setahun ini. Terlebih lagi buat dirinya yang kini sudah benar-benar bisa berbicara, keluarganya adalah orang-orang yang sama sekali tak bisa berkomunikasi dengannya. Terus terang saja, bahkan aku sendiri pun sedikit takut.

Akan tetapi, aku punya rencana.

Tempat kelahiranku adalah di Jepang, sebuah negeri yang membanggakan budayanya.

Suatu karunia untuk tiap musim, festival, dan akhir tahun.

Musim panas, musim dingin.... bahkan musim semi dan musim gugur. Aku sudah memberi tahu keluarga Ai soal makanan seperti daging rusa, buah-buahan, dan kacang-kacangan sebagai karunia. Belakangan ini mereka bahkan tak terlalu takut padaku, dan walaupun ini mungkin keangkuhan diriku sendiri, aku percaya bahwa aku bisa membangun hubungan yang baik bersama mereka.

Dan lalu ada Ai.

Dia sudah membersihkan dirinya hingga berkilau di bak mandi, disisir dan diikat rambutnya oleh Nina, dan juga pakaiannya yang pas pun dihiasi dengan dedaunan dan bebungaan. Dia dibawakan padaku dengan cara yang serupa seperti pengorbanan, tapi semenjak saat itu ia sudah tumbuh menjadi begitu cantik dan bernutrisi saat ini.

Yang semulanya rambutnya berantakan, kini menjadi halus mengkilap, dan tubuhnya yang semulanya kurus bulat, kini sosoknya jadi lebih feminim, sekarang dia kerap kali tersenyum.

Hanya dengan melihatnya saja, mestinya sudah tak diragukan lagi kalau aku menyayanginya meskipun mereka tak bisa memahami perkataanku. Walaupun itu membuatku malu, hanya menyuruhnya mandi sudah menunjukkan hasilnya.

Terlebih, ketimbang terbang lewat langit, aku perlahan berjalan ke gua mereka supaya tak terlihat mengintimidasi. Tujuanku untuk jadi akrab dengan mereka seharusnya bisa dipahami sekarang, karena aku sudah melakukan sejauh ini.

            "Kalau dipikir-pikir..... mereka mempunyai beberapa kata-kata, bukan?"

            "Ya. Meski lebih mirip seperti isyarat, ketimbang kata-kata."

            "Kalau begitu, bisakah kau menerjemahkan—maksudku.... kalau mereka mengatakan sesuatu, apa pun itu, bisakah kau memberitahuku apa maksudnya?"

            "Baik, serahkan saja padaku!"

Aku mendengar suara debaran dadanya dari balik kepalaku bersamaan dengan tanggapannya.

Yah, ketimbang debaran..... mungkin lebih tepat kalau dideskripsikan dengan boing?

Sekitaran saat itu, aku melihat tiga orang yang keluar dari gua.

[Kembali!]

Ai berbicara bahkan sebelum mereka sempat bereaksi.

            "Ah, barusan, itu seperti ‘aku pulang’."

            "Begitu, ya"

Mungkin sedikit terlambat, tapi aku baru menyadari kalau akan lebih baik untuk mempelajari isyarat ini terlebih dahulu jika memang akan sesederhana ini.

Aku bahkan mampu mempelajari Bahasa Elf dalam waktu yang singkat, jadi kurasa itu takkan terlalu sulit.

Itu berarti apa yang disebut persiapan yang sempurna sama sekali tak sempurna.

Orang-orang itu menempatkan tombak yang mereka pegang di tanah dan berlutut.

Kelihatannya situasinya aman, jadi aku merendahkan kepalaku dan membiarkan Ai turun.

Salah seorang pria melihat Ai dan gelagap keheranan.

            "Mentor, itu adalah ayahku."

Ai berbalik, berkata begitu dengan malu.

Kalau dipikir-pikir, rasanya dia termasuk di antara orang-orang yang membawa Ai padaku.

            "Yah, halo. Ini tak banyak, tapi...."

Merendahkan kepalaku dengan membungkuk, aku meletakkan babi hutan yang kubawa di hadapannya. Melihat itu, dia dan kedua pria lainnya bersorak gembira. Aku menyebutnya babi, tapi itu cukup besar dengan tingginya yang sepantaran Ai.

Beberapa orang lagi mulai bermunculan dari dalam gua usai mendengar sorakan para pria tersebut.

Dan perjamuan pun dimulai.

Aku menyalakan beberapa api unggun, memanggang babi hutan, dan membaginya dengan cakarku.
Bahkan anak-anak yang belum pernah kulihat sebelumnya pun keluar dan memakan daging tersebut.

Semuanya mengelilingi api, para pria mengjinjakkan kaki mereka dan menari saat para wanita bernyanyi.

Aku juga mengaum bersamaan dengan lirik lagu yang sedikit.

Masih ada beberapa orang yang melirikku karena takut, tapi itu bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan dengan terburu-buru. Setidaknya, mereka tak melontarkan tombak ke arahku, jadi rasanya aku bisa membawa beberapa orang.

Aku harus bisa berhubungan lebih dekat dengan mereka dan mengajari mereka bahasa sekarang.

Pada saat itulah, saat di mana aku merasa lega.

Memandang hormat mereka, beberapa pria membawa seorang gadis muda padaku.

Tiba-tiba aku diserang oleh gelombang deja vu, tapi Ai duduk di sampingku. Itu adalah gadis yang berbeda.

Walaupun saat ini mereka tak memegang tombak, ini sama persis seperti sebelumnya saat mereka mempersembahkan gadis yang dikhiasi padaku.

[Menyerahkan.]

Para pria itu berlutut dan mengucapkan kata yang sama seperti waktu itu.

            "Ai, apa yang mereka......"

[Tidak!]

Ai meneriakkan sesuatu sebelum aku sempat menyelesaikan pertanyaanku padanya.

[Aku, istrinya!]

Dia menarik kaki depanku dan meneriakkan dua suara singkat.

[Tidak perlu!]

Teriak Ai saat menunjuk gadis yang dibawakan tersebut.

Para pria itu pun mundur dengan tatapan kaget, mereka menggantung rendahkan kepalanya.

            "Hei, Ai. Barusan apa yang kau katakan?"

            "Bukan apa-apa."

Ucap Ai dengan tersenyum. Akan tetapi, entah kenapa senyumannya itu terasa sedikit menakutkan.

            "Tidak, kau pasti—"

            "Sama sekali. Bukan. Apa-apa"

Ai mengulangi perkataannya sembari masih tersenyum.

Tak peduli berapa kali kubertanya, Ai takkan pernah memberitahuku apa yang dikatakannya hari itu.



⟵Back         Main          Next⟶




Related Posts

Hajimari no Mahoutsukai - Volume 01 - Chapter 09 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh

1 komentar:

May 8, 2018 at 5:29 PM delete

pedih Ai nya ma min....
overprotektif = Niki (mirainiki) = pisikopat....
makasi min...
gassssss.......

Reply
avatar