Monday, May 7, 2018

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 18 Bahasa Indonesia


Chapter 18 – Bimbing Kami, Pahlawan ③




Dia mengayunkan pedangnya.

Serangannya tidaklah ceroboh, dia memastikan untuk mendaratkan serangan pembunuh lewat kecepatan yang nyaris tak terlihat. Karena Minamoto punya kemampuan spesial yang membuatnya bisa meningkatkan kekerasan pedangnya sampai batas, dia pun berhasil membelokan serangan dan mengubah arahnya menjadi melenceng sedikit.

.... Biarpun begitu, serangannya itu tepat menyayat lengan kanannya.

            "Ahhhhhhhh!!"

Ratapan kematiannya bergema di seluruh ruangan. Biar begitu, si iblis taklah menunggu.

            "Devil Flame."

Beberapa sihir bola api peringkat kerajaan muncul di udara. Dengan lambaian tangan Leadred, bola-bola api itu pun ditembakkan sekaligus.

            "Wahai roh Air! Jadilah pelindung yang menaungiku! Water Wall!"

Seketika itu juga Mahara langsung mendirikan pelindung, tapi serangan Leadred tak begitu lemah hingga bisa diblokir oleh sihir peringkat jiwa. Bola-bola api tersebut menembus pelindung, dan api pun menghujani Mahara dan Minamoto.

            "Uaaaah!!"

            "Kyaaaaah?!"

Ruangan ini merupakan penampilan ulang ruangan terakhir Rigal Den. Hampir mustahil bagi Minamoto dan Mahara untuk bisa melewatinya.

Bahkan, saat itu aku nyaris tak berhasil imbang dengan Leadred. Mereka bahkan tak sebanding meski dengan menggabungkan status-ku, jadi mana mungkin mereka bisa menang.

Situasi saat ini benar-benar membuktikannya.

            "Haah! Haah!"

            "Bangsat, ini sakiiiitt....!"

Mahara begitu menyedihkan hingga satu-satunya alasan dia masih bernapas adalah berkat sihir yang dipergunakannya. Biar begitu, hanya itu sajalah yang bisa dilakukannya. Sungguh menyedihkan.

Minamoto sudah kehilangan tekadnya untuk bertarung. Maksudku, itu sudah jelas. Bagaimanapun juga, dia sudah kehilangan lengan pedang hingga sikunya.

            "Hei.... apa itu saja yang bisa diatasi para bajingan.....?"

Yang menghampiri mereka adalah iblis yang memikul pedang perang berlumuran darah. Sedikit menarik kepalanya ke belakang saat dia melihat ke bawah pada mereka, perasaan jahat memenuhi ruangan.

            "Sialaan! Wahai Roh air!"

            "Devilish Aura."

Sebelum Mahara sanggup menyelesaikan lantunan manteranya, Leadred mengaktifkan kemampuan uniknya dan memangkas mana milik Mahara.

Kehabisan mana, Mahara pun tak bisa mengaktifkan sihirnya.

            "Ap-Apa.... Ugaah?!"

Sadar bahwa dirinya tak bisa menggunakan sihir, Mahara pun panik. Seketika itu juga dia memalingkan muka dari Leadred, lalu Leadred pun menutup jarak di antara mereka dan memukulnya dengan keras.

Menghantam tembok, dia pun muntah dan ambruk.

            "Kau menjijikan."

Leadred menyambar rambut Mahara dan melemparkannya lagi ke tembok yang menghantamnya tadi.

Kupergunakan sihir pemulihan stamina pada pahlawan yang matanya terbelalak, lengah, hampir mati.

            "Uh..... K-Kau....."

            "Kau menikmati kuburanmu, Mahara?"

            "Ap-Apa yang kau—?!"

Sesuatu ditembakkan pada tembok tepat di sebelah Mahara, dibarengi suara seseorang yang meluncur ke bawah tembok. Itu Minamoto, kepalanya tergantung ke depan dengan lemas.

            "Eh, ap...... Mi-Minamoto....?"

Mahara merangkak padanya seperti bayi, punggungnya terlihat seperti keseleo.

Akan tetapi, si iblis datang dari atas dan menghentikannya.

            "Ah! Kau sudah pulih, ya?!"

            "Aheee—?!"

Tatapan matanya saling bertemu, mulut Mahara pun berbusa dan pingsan.

Saling bertatap tanpa bisa bicara dan mana yang tersisa untuk dipergunakan, itu adalah reaksi yang lazim, apalagi penyiksaan yang diperbuatnya terhadap mereka beberapa saat yang lalu.

Yah, meski bukan berarti kami akan membiarkannya tertidur.

            "Pahlawan."

            "Ya, aku tahu. Wahai roh cahaya, hibahkanlah ketenteraman. Magic Heal."

Usai kulantunkan mantera pemulihan mana, sebuah cahaya menyelimuti Mahara, membangunkannya.

Leadred menendangnya sebelum dia bisa mengendalikan diri.

            "Ugoh—....!"

Kedengarannya beberapa tulangnya patah, satu atau dua mungkin.

            "Leadred. Aku akan mengatasi orang ini, jadi kuserahkan Minamoto padamu. Ah, jangan dibunuh. Pukuli saja dulu."

            "Baik."

Leadred terlihat senang.

Dia mungkin mengelompokkan para pahlawan ini dengan orang-orang yang mengalahkannya saat dulu.

            "Nah, mungkin aku harus membunuhmu sekarang....."

Menghunus pedang panjangku, kutusukkan ke kaki Mahara agar dia tak bisa melarikan diri.

            "Aaah—?!"

Rasa sakitnya membuat dia terbangun sepenuhnya, yang pikirannya masih kabur. Wajahnya langsung diselimuti air mata.

Aku menginjakkan kakiku ke atas kepalanya dan menjatuhkannya ke lantai.

            "Jadi? Bagaimana rasanya mencium tanah?"

            "Ke-Kenapa.... kenapa kau melakukan ini?!"

Dia menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lainnya.

            "Buat apa kau menjawabku dengan suatu pertanyaan? Bukankah kau diajarkan untuk tak melakukannya di SD? Terserahlah. Aku akan memberitahumu karena suasana hatiku sednag baik. Open."

Aku menarik kakiku dari kepalanya, dan hanya mengangkat dia dengan rambutnya untuk membuatnya melihat status-ku.

Wajahnya pun langsung pucat.

            "Ka-Kau.... Ka-Katsuragi....?"

            "Ya. Aku Katsuragi Daichi, orang yang kalian semua tindas. Sekarang kau mengerti alasanku, ‘kan?"

Kutarik pedangku dari kakinya dan menahannya pada tenggorokannya.

            "Ma-Maafkan aku! Aku tak punya pilihan saat itu!"

            "Kenapa?"

            "Karena nanti aku yang akan jadi sasarannya Samejima! Be-Beneran, aku juga tak ingin melakukannya! Maafkan aku atas segalanya, aku akan melakukan apa pun! Jadi kumohon, muaaafka—?!"

Kupukul bagian atas kepalanya dengan tendangan kapak, tumitku menghantam tengkoraknya.

            "Diam.... kau tahu? Sudahkah kau memikirkannya? Maksudku, bukannya Hayase yang tak berbuat apa-apa juga jadi salah satu sasarannya Samejima?"

            "Ya-Yah...."

Mahara mulai bergumam, mungkin mencoba mencari alasan untuk perkataan selanjutnya. Sungguh bodoh.

            "Tidak apa-apa. Matilah."

            "Ku-Kumohon, tunggu! Tolong.... tolong jangan bunuh aku! A-Aku akan melakukan apa saja!"

Mahara menempel pada kakiku dengan putus asa.

Menggelikan. Sejujurnya, itu menghiburku.

Jadi aku memberinya pilihan.

            "Tentu..... Aku ingin memperkosa Tamaki. Bantu aku melakukannya."

            "A-Aku....."

            "Kalau kau tidak mau, kau selalu bisa mati?"

Kutusuk bahunya dengan pedangku. Mahara pun menggelengkan kepalanya bolak-balik.

            "Akan kulakukan, akan kulakukan! Tolong biarkan aku membantu....!"

Dia terus memohon dengan putus asa. Menyerahkan wanita yang dicintainya untuk hidupnya.... serius, dia sudah tak  ada harapan. Yah, melihatnya yang seperti ini memang membuatku senang.

            "Ya sudah kalau begitu. Tentu. Aku akan membiarkanmu hidup."

            "Te-Terimakasih banyak....."

Mendengar bahwa dia bisa hidup, Mahara terlihat lega. Dia benar-benar merasakan kesukacitaan bisa hidup.

            "Hei, berdiri."

            "Ba-Baik."

Kuulurkan tanganku pada Mahara, yang kelihatannya takkan bisa berdiri dengan kekuatannya sendiri. Dia meraih tanganku dan berdiri.

—Dan kutusukkan pedangku lewat ususnya.

            "...... Eh? Hah?"

Mahara terlihat seperti tak memahami apa yang barusan terjadi.

            "Ke-Kenapa....? Ka-Kau bilang, kalau membantu....."

            "Ooh, itu mah bohong."

Kujawab balik sembari tersenyum. Menarik pedangku, kudorong kembali dia.

Dia pun terjatuh dengan sisi belakangnya.

            "Bo.... hong.....?"

            "Ya. Sayangnya, aku sudah punya satu wanita yang akan kubutuhukan. Aku tak punya perasaan apa-apa pada Tamaki. Kau pikir aku serius?"

            "Tidak..... mungkin...."

Letupan harapan yang dia dapatkan, dengan cepat diganti oleh keputusasaan.

Mahara terlihat seperti boneka tali yang talinya dipotong.

            "Pahlawan. Aku sudah selesai di sini. Ah, meski dia pingsan."

            "Begitu ya. Bisa kau bawakan ke sini? Bariskan dia di sebelah yang satu ini."

            "Dimengerti."

Leadred mencengkram Minamoto dengan garis leher bajunya yang sekarang sudah compang-camping, dan melemparkannya ke depan untuk menempatkannya di sebelah Mahara. Sebuah erangan lemah keluar dari Minamoto.

            "Se.... lamatkan.... aku...."

            "Ku-Kumohon..... hentikan....."

Mengabaikan mereka, aku mensejajarkan pedangku dengan leher mereka. Aku akan melapisi bilahnya dengan sihir tipe angin, jadi itu cukup tajam untuk memotong tubuh orang-orang ini.

            "Tentu. Aku akan membuatnya cepat, jangan khawatir—matilah."

Kukerahkan semua yang kupunya dan mengayunkan pedangku.

Darah merah cerah dan dua kepala bergulir ke bawah di udara.

⟵Back         Main          Next⟶





Related Posts

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 18 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh

3 komentar

May 7, 2018 at 7:06 PM delete

min banyakin rilis the forsaken hero dunkkk...please...
gas minnnnn.....
makasi yak

Reply
avatar