Thursday, May 24, 2018

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 21 Bahasa Indonesia


Chapter 21 – Menjadikannya Budak, dan Dua Iblis ②




..... Dingin sekali.

Ini.... aku.... berada dimana?

Semua yang terjadi sebelum aku pingsan terasa tidak jelas. Di saat-saat seperti ini, seseorang mesti tenang dan memikirkannya dengan baik-baik.... Aku sampai di Trance Labyrinth, lalu Mahara, Minamoto, dan Yuuji, semuanya pergi ke Rumah Monster.... Yuuji kembali.... lalu Hayase ambruk....!

Benar, Yuuji—tidak, orang itu memukul leherku....

..... Hayase berada dalam bahaya!!

            "Hayase!"

            "Kyaah?!"

Saat aku duduk tegak, aku mendengar teriakan pelan. Itu bukanlah Hayase, tapi itu adalah suara yang merindukan, suara dari seseorang yang kukenal dengan baik.

Aku melihat ke asal suara tersebut.

Lalu, aku pun melihat sahabat baikku yang kutinggalkan di Rigal Den—aku melihat Shuri.

            "Sh-Shu... ri...?"

            "Oh, kau sudah bangun, Yui."

Tidak salah lagi. Gadis yang tersenyum padaku itu memang sahabatku, Hamakaze Shuri.

Eh, tapi bagaimana bisa?

Shuri, dia.... tapi bagaimana bisa?

Apa dia mengalahkan semua demon-demon itu....?

..... Apa ini mimpi?

Kucubit pipiku. Rasanya sakit.

Ini bukan.... mimpi.

Aku terharu dan tak sanggup menahannya, kupikir temanku yang tak tergantikan itu sudah mati, tapi ternyata masih hidup.

            "Shuri!"

Melihat temanku yang berada tepat di hadapanku, aku mengulurkan tanganku padanya.

Melirikku yang mengulurkan tangan padanya, Shuri pun mundur selangkah. Dia menolak pelukanku.

            "Sh-Shuri! Kenapa?! Padahal ini reuni mengharukan kita!"

            "Maaf, tapi buatku ini tidak mengharukan."

Kata-kata tajamnya yang bagaikan mata pisau menusuk dadaku.

Kepalaku terasa seperti diguyur air dingin. Kesenanganku perlahan mulai mereda, hanya menyisakan kebencian terhadap diriku sendiri.

.... Benar. Walaupun aku sudah berbuat hal yang mengerikan padanya, aku sama sekali tak memikirkan perasaannya.

            "Shuri. Apa si Tamaki itu sudah bangun?"

            "Ya, Daichi. Barusan."

            ".... .... Eh?"

—Apa yang membuatku tersadar dari pemikiran negatifku adalah suara seorang cowok yang ditugaskan sebagai pengawal kami.

            "Yo, Tamaki. Bagaimana, apa kau menyukai pertama kalinya dibuat pingsan?"

Saat mendongak, aku melihat si pengkhianat, si iblis jahat, yang melengkungkan sudut-sudut mulutnya ke atas.

            ".... Kemana perginya kelemah-lembutanmu itu?"

            "Langsung menyindir, ya?.... itu mah cuma akting."

Yuuji yang mengungkapkannya nampak senang dengan bagaimana semuanya berjalan.

Bahkan dengan semua yang terjadi, aku sudah bersiap untuk melarikan diri begitu dia lengah.

Aku belum memberi tahukannya, tapi aku punya Kemampuan Spesial lainnya.

Incantation Omission.

*Peniadaan Mantera.

Aku sanggup mengaktifkan suatu sihir hanya dengan memakai nama itu. Hanya dengan mengucapkan nama sihir dengan mana di atas seribu lima ratus pada status-ku, membuatku bisa menggunakan sihir tersebut.

Kabarnya ini adalah Kemampuan Spesial yang hanya dimiliki oleh segelintir orang di dunia ini.

Yuuji mestinya tidak punya alasan untuk menduga bahwa aku bisa menggunakan itu.

            "Kau jago menipu orang. Bahkan Hayase saja kelihatannya sangat menyukaimu."

            "Itu memang membuatku terkejut. Tapi maaf buat Hayase, karena hanya Shuri lah satu-satunya buatku."

            "Ap—...."

Yuuji memeluk Shuri dari belakang. Itu membuat punggungku menggigil.

Teman berhargaku sedang dipermaikan oleh seorang cowok seperti itu, dan alasan itu saja sudah cukup buatku untuk menyerangnya.

            "Sudah hentikan! Shuri, minggirlah!"

Aku akan melancarkan sihir jarak dekat padanya!

Aku melompat dan melancarkan sihir.

            "Freezing Lance!"

Aku membawa tombak pada tanganku dan mengarahkannya pada wajahnya.

Akan tetapi, pas aku mau memukulnya, aku dihentikan oleh orang yang tak pernah kusangka akan melakkukannya.

            ".... Yui, apa yang kau lakukan?"

Dia terlihat marah selagi mencengkram ujung tombak. Dia jelas menatapku dengan benci.

Itu nyaris membuatku takut, tapi aku takkan mundur.

Aku mesti membawanya kembali.

            "Lepaskan, Shuri! Aku akan menolongmu!"

            "Menolong.... Beraninya kau berkata begitu usai meninggalkanku saat itu?"

            "Saat itu—!"

Kata-kata pedasnya menusukku lagi. Biar begitu, apa yang dikatakannya memang tidak salah. Aku tahu itu dengan jelas.

Tapi itu jugalah alasan mengapa aku kehilangan ketenanganku. Apa pun yang terjadi, aku harus mengembalikan Shuri pada dirinya yang semula.

            "Maafkan aku! Aku akan minta maaf sebanyak yang diperlukan! Tapi tolong dengarkanlah aku! Cowok itu berbahaya! Setidaknya, percayalah padaku untuk saat ini, kemarilah!"

            "Daichi orang yang berbahaya?"

            "Benar! Orang itu menyerangku dan Hayase... bahkan dia mungkin saja berbuat hal yang sama pada Mahara dan Minamoto."

            "Kalau kau bicara soal mereka berdua, mereka sudah mati."

            "Dia menyerang—eh? Mati....? Eh?"

Barusan aku serasa mendengar sesuatu yang tak bisa dipercaya.

Dua orang pahlawan dibunuh?

Oleh seorang petualang biasa?

Atau mungkin.... oleh Shuri?

            "Ap-Apa yang kau....?"

            "Seperti ini, nih—"

Orang yang berkata begitu bukanlah Shuri, melainkan Yuuji. Tiba-tiba dia melemparkan sesuatu padaku, dan aku pun menangkapnya.

Aku merasakan sesuatu yang menjijikan pada tanganku.

Mata mereka nampak seperti tengah menangis. Giginya hilang. Hidungnya bengkok. Beberapa rambut pirangnya ternodai warna merah.

Apa yang kupegang ini adalah salah satu kepala teman sekelasku yang buntung.

            "Uaaaaah?!"

Kulemparkan sejauh mungkin supaya tidak harus melihatnya lagi, aku tak bisa menahan rasa mual dan muntahku.

            "Oooeh! Haah... haah....."

            "Hei, yang barusan itu kepala teman sekelasmu. Kau harus lebih berhati-hati."

Yuuji menatapku seolah dia sama sekali tidak ada hubungannya. Dia menyindirku, dan menikmatinya.

Dia.... gila....!

            "Kau... iblis....!"

            "Mengatakan hal-hal seperti itu, bicara seperti orang yang tidak berdosa saja. Benarkan, Shuri?"

            "Ya,  Daichi. Memang benar."

            "Shuri....."

Dia benar-benar terlihat seperti yang sudah dicuci otak olehnya. Dalam lubuk hatinya dia pasti sangat menderita.

Apalagi dengan kenyataan bahwa aku yang ada di sini tak bisa berbuat apa pun.....!

Apanya yang kemampuan?

Apanya yang pahlawan?

Aku bahkan tak bisa menyelamatkan temanku yang ada di hadapanku.

            "Kau memanipulasi sahabatku, kau menangkapku.... Apa maumu?!"

            ".... Cuman satu, beneran."

Tengkuk leherku dicengkram Yuuji, dan mengangkatku yang tengah terduduk. Dia mengangkatku dengan mudahnya, bahkan hingga kakiku tak menyentuh tanah.

            "Kah—.... ah..."

Dicengkram seperti itu, membuatku kesulitan bernapas.

.... aku tidak ... bisa bernapas....

            "Aku.... ingin balas dendam pada kalian semua. Terutama pada Samejima."

            "Kenapa.... apa yang sudah, Samejima.... lakukan....?"

            "Kau masih belum paham juga? Meski sebelumnya Shuri sudah mengatakan namaku?"

Shuri.....?

Aku berpikir selagi kesadaranku tengah memudar.

Benar juga, dia bukan memanggilnya Yuuji, tapi Daichi.

Daichi....?

Aku tak kenal siapa pun dengan nama it—..... oh.

Aku kenal. Satu orang.

Serupa dengan Shuri, ada seorang cowok yang ditinggal hari itu.

Namanya adalah Katsuragi Daihci. Samsak tinjunya kelas.

Ti-tidak mungkin....

Mana mungkin dia masih hidup. Aku melihatnya sendiri. Saat itu, para monster mencabik-cabiknya, dan memakannya.

            "Tidak.... mungkin...."

            ".... Kelihatannya kau sudah menyadarinya."

            "Ah—"

Dia mendadak menjatuhkanku, membuatku terjatuh dengan bokongku.

Itu sakit.

            "Aku adalah Katsuragi Daichi. Aku kembali dari neraka untuk balas dendam."

Dia menyeringai selagi menempatkan pedang yang ada di pinggangnya ke leherku.

Ketidakpercayaanku pun langsung berubah jadi ketakutan. Aku tak mampu menghentikan gemertakan gigiku saat aku mulai menangis.

Itu karena aku pahan bahwa perasaan haus darah yang berasal darinya itu nyata. Kalau tidak, mana mungkin aku akan takut oleh seseorang seperti Katsuragi.

Dia akan membalas semua yang kami perlakukan padanya hingga sekarang. Pemikiran tersebut memenuhi pikiranku, hanya kemnatianlah yang bisa kulihat. Merasakan ajalku yang semakin mendekat, aku tak sanggup menahan naluriku untuk mengingat kembali kehidupanku..... aku takut.

Mati.... itu menakutkan.....

            "Nah, Tamaki. Aku akan memberimu dua pilihan."

            "Ap-Apa....?"

            "Maukah kau mati di sini dan kehilangan hidupmu selamanya? Atau maukah kau mengabdikan hidupmu untuk menjadi budakku."

Tawaran yang dia berikan padaku sangat menggiurkan.

            "Jikalau kau jadi budakku, kau bisa bersama dengan Shuri. Bahkan, aku akan berjanji untuk tidak menyakitimu lagi."

            "Be-Benarkah?"

            "Akan tetapi, saat kupikir tingkahmu mencurigakan, aku, si iblis merah di sana, dan Shuri akan membunuhmu tanpa ampun. Jikalau kau masih menginginkannya, aku akan membiarkanmu hidup, Tamaki."

            "A-Aku akan jadi budakmu! Kumohon! Aku akan mengabdikan hidupku untukmu! Ja-Jadi kumohon, jangan bunuh aku!"

Mulutku dengan jelas bergantung pada secerah harapan yang sudah diberikan.

Aku bisa hidup. Aku tidak harus mati. Itu saja sudah jadi alasan yang cukup.

            "Begitu ya? Pilihan yang bagus, Tamaki. Kerja bagus."

            'Te-Terima kasih."

Seolah puas dengan jawabanku yang cepat, dia pun menyarungkan kembali pedangnya.

Terlepas dari ketiga perasaan haus darah mereka, akhirnya aku bisa merasa senang karena bisa hidup.
            "Tamaki Yui. Dengan ini, kau adalah budak sementaraku."

Pada hari itu, aku yang semulanya jadi seorang pahlawan pun, kini menjadi budaknya Katsuragi Daichi.

⟵Back         Main          Next⟶





Related Posts

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 21 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh