Tuesday, July 3, 2018

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 27 Bahasa Indonesia


Chapter 27 – Ia yang Dihidupkan Kembali dari Kematian ⑤



*** Sudut Pandang Hamakaze Shuri ***


            "..... Beraninya kau lakukan itu pada Katsuragi!!"

Aku larut dalam kemarahan seketika mendengar teriakan menyedihkan, dan mengaktifkan sihir tingkat kekaisaran, Berserk Tempest.

            "Berserk Tempest!!"

            "Blizzard Prison!!"

Musuh kami pun menggunakan sihir dengan tingkatan serupa yang sama pula kuatnya. Pada momen tersebut, aku lupa hasil yang akan terjadi bilamana kedua sihir dengan tingkatan yang sama saling berbenturan.

Sebagaimana dengan hasil yang sudah jelas, aku tahu akan kalah terhadap Blizzard Prison miliknya. Akan tetapi, tak apa.

Ini kesalahan yang mesti kutanggung. Aku akan mati, tapi ini sudah jadi tanggung jawabku. Selain itu, aku yakin pada akhirnya Katsuragi lah yang akan menang.

Tapi untuk suatu alasan, aku didorong ke samping.

—Oleh sahabatku, Yui.

Selama ini dia selalu mengajakku mengobrol, meminta maaf... mencemaskanku. Namun, aku hanya menanggapinya dengan dingin.

Biarpun begitu, dia memutuskan untuk menyelamatkanku sekali pun harus mengorbankan tubuhnya, supaya kesalahan yang dibuatnya pada hari itu tak terulang kembali....

Namun tetap saja, masih terlalu cepat buatku untuk terkejut. Karena setelahnya, seseorang mendorong jauh Yui.

Seseorang tersebut, ialah orang yang baik. Orang yang teramat sangat penyayang. Seseorang yang membuat orang-orang yang bersamanya merasa lebih bahagia.

Orang tersebut ialah Katsuragi.

Dia sudah menyelamatkanku. Walaupun terkadang berbuat hal-hal yang megerikan, dia takkan berhenti meskipun itu sulit.

Orang seperti itulah dia itu. Kemungkinan dia juga tak sanggup membiarkan Yui mati. Dia adalah tipe orang yang akan selalu bersikap baik terhadap orang-orang yang penting buatnya.

Dadaku terasa sesak.

Lalu, hal yang tak kuharapkan pun terjadi.

Yui mencium Katsuragi. Dia juga nampak tak keberatan, dan menanggapinya.

            "Ah....."

Tubuhku tiba-tiba serasa kehilangan kekuatannya.

Katsuragi memberitahukan sesuatu pada Yui, dan Yui pun membalasnya, yang membuat Katsuragi tersenyum.

Lalu dia pun terperangkap di dalam es tersebut.

            ".... Ah.... Ah...."

Katsuragi pasti sudah mengatakan sesuatu padanya. Dan sekarang Yui pasti mulai menyukainya.

Kalau tidak, mana mungkin dia mau mencium seseorang yang sangat dibencinya.

Hanya ada satu cara untuk memastikannya.

Aku harus mendengarnya langsung dari mulut Katsuragi.

Aku ingin dia berkata bahwa aku ini keliru. Membuatnya berkata bahwa akulah satu-satunya orang yang dia cintai. Membuatnya memelukku, dan membisikan ke telingaku bahwa aku ini adalah miliknya.

Supaya itu semua bisa terjadi.... maksudku, supaya aku bisa membuatnya berbuat begitu....

            ".... Aku harus membunuh Fantra."

Menatap ke arah pria yang menjengkelkan—pria yang menempatkan Katsuragi ke dalam es itu, aku benar-benar harus membunuhnya.

Kuberdiri, memusatkan sepenuhnya mataku padanya.

Aku tak bisa berpikir jernih.

Pikiranku terasa suram. Layaknya sebuah bom yang meledak di dalamnya.

Kalau sudah begini, siapa juga yang perlu berpikir?

Aku hanya harus membunuhnya. Ya, itu saja sudah cukup. Selama aku bisa bersama Katsuragi, itu sudah cukup buatku.

            "Demonslayer, aktifkan."

Beberapa saat sebelumnya tubuhku serasa terbuat dari timah, tapi sekarang rasanya seperti bulu.

Aku tak boleh membuang-buang waktu. Aku harus mengakhiri ini dalam lima menit.

            "Oh? Jangan-jangan kau masih berniat melawanku? Apa kau masih belum paham juga perbedaan di antara kita usai memperlihatkan sihir kecilmu itu?"

            "Selama aku tidak menggunakan sihir, aku bisa menang."

Kalau sihir memang ancaman, aku hanya perlu membuatnya tak menggunakan sihir. Dengan perasaanku yang sekarang ini, rasanya aku bisa melakukannya.

            "Sungguh bodoh sekali kau ini. Mana mungkin kau bisa melakukannya!"

            "Aku takkan tahu kalau belum mencobanya—tidak, aku pasti bisa."

Kuambil belati yang kujatuhkan dan mengayunkannya beberapa kali di udara.... yah, cepat.

            "Aku tak keberatan membiarkanmu pergi, lo? Sekarang ini aku benar-benar merasa segar. Selain itu, kau ini orang yang sudah dibuang, sama sepertiku. Aku tak suka menghajar wanita yang patah hati."

            ".... Diam. Aku ini belum dibuang. Dia memang harus melakukan itu."

Benar. Katsuragi akan melakukan apa pun yang diperlukan. Dia bahkan tidak akan ragu kalau itu adalah sesuatu yang harus membunuh seseorang. Aku juga yakin apa yang dilakukannya dengan Yui adalah sesuatu yang meti dilakukannya.

            "Baiklah. Kalau kau memang menginginkannya, maka rasakan lagi saja sihirku ini!"

Fantra menentikkan jarinya.

Bersamaan dengan itu, aku—aku mempercepat pergerakanku.

Momen yang teramat singkat pun berlalu, bahkan sedetik pun mungkin tidak.

Kecepatanku melampaui pergerakan yang bisa diikuti mata Fantra, aku pun sampai di belakang punggungnya.

            ".... Eh?"

Fantra masih belum menyadari keberadaanku. Kutarik lenganku ke belakang punggungku—

            "Di belakangmu."

            "Apa—....?!"

—dan mengayunkan tinjuku lurus ke wajahnya. Dampak dari pukulan tersebut mengirimkan darah ke seluruh wajahnya.

            ".....!"

Kehilangan kemampuannya untuk melihat atau mendengar, pria itu mundur beberapa langkah dan menjentikkan lagi jarinya.

Cahaya yang berkumpul di wajahnya pun memulihkannya.

            "Ka-Kau....! Apa-apaan kau ini?!"

Aku memukul wajahnya lagi. Akan tetapi, karena saat ini ada lapisan es yang berguna sebagai tameng di antara tinjuku dan wajahnya, pukulanku pun tak sanggup menembusnya.

Aku tak boleh membiarkan dia menjauh.

Aku mendekat sampai pada jangkauan belatiku.

            "Yah!"

            "Multi Blockade!"

Sadar bahwa dia takkan bisa menghentikan seranganku dengan lapisan es-nya, dia pun langsung beralih menggunakan dinding.

Melompat ke udara dan menempatkan kakiku bersamaan, aku pun berjungkir balik secara vertikal dan melakukan tendangan ke bawah padanya. Fantra pun terkejut dengan perubahan taktikku yang tiba-tiba.

            "Guh.....!"

Dia menyilangkan lengan di atas kepalanya untuk menerima seranganku, tapi lengan rampingnya tak mungkin bisa menghentikan seranganku dan lengannya pun dengan mudah patah karena tak bisa menerima guncangan.

            "Aaaah?! Beraninya kaauuu....! Ice—"

            "Takkan kubiarkan!!"

Mendengar dia yang mulai merapal, kutendang dia ke tembok dengan tulang keringku. Dia membuat cekungan di tembok sebelum jatuh lemas ke tanah, tak mampu berdiri kembali.

Aku tak boleh melewatkan kesempatan ini.

Fantra mulai berdiri kembali, jadi kupotong lengannya.

Aku juga tak berhenti menyerangnya.

Kucengkram lehernya dan kudorongkan ke tembok, lalu kupul lagi wajahnya dengan tangan kananku. Terakhir, aku melompat dan mendorongnya lebih dalam lagi ke tembok dengan tendangan memutar.

Kepalanya tergantung lemas, dia sudah tak bernapas lagi.

            "Karena kaulah Katsuragi....."

Menusukkan belatiku ke tempat di mana jantungnya seharusnya berada, kurobek area tersebut dengan segenap kekuatanku. Aku mengubah genggaman pada belatiku menjadi genggaman terbalik dan mengayunkannya lagi padanya.

Secara vertikal, diagonal, dan horizontal.

Aku memutilasinya.

Supaya dia takkan pernah muncul lagi di hadapan kami.

Aku mengubahnya menjadi segumpalan daging.

Pada akhirnya, karena tak ada lagi yang bisa kupotong terpisah, aku pun berhenti. Sisa-sisa yang berada di hadapanku sudah tak terlihat seperti makhluk hidup lagi.

            "Haah.... Haah.... Haah...."

Aku pasti sudah membunuhnya.

Tengkoraknya hancur, jantungnya terbelah menjadi beberapa bagian, tubuhnya termutilasi. Dia bahkan tak mempunyai jari untuk mempergunakan kristal-kristalnya, jadi seharusnya dia tak bisa menggunakan sihir lagi sekali pun dia masih hidup.

Aku menang. Sekarang Katsuragi bisa kembali normal!

Diluapi dengan rasa penyelesaian, aku melihat ke Katsuragi dengan harapan tersebut.

Akan tetapi, Katsuragi masih diselimuti es.

            "Eh, kenapa....?"

Fantra sudah dikalahkan. Aku sudah mengambil nyawanya dengan tanganku sendiri.

Tapi kenapa Katsuragi belum bebas?!

Apa aku melakukan sesuatu yang salah?!

Apa hanya Fantra yang bisa melepaskan sihirnya?

Atau apa ada alasan lain?

            "Shuri! Di belakangmu!"

Mendengar teriakannya Yui membuatku tersadar kembali dari pemikiran-pemikiranku.

Begitu kuberbalik, aku melihat Fantra yang hampir sepenuhnya meregenerasi dan mengmapiriku dengan pedang di tangannya. Aku mencoba menghindarinya dengan melompat mundur—tapi tiba-tiba, tubuhku serasa merasakan beberapa kali gravitasi normal, membuatku nyaris tak bisa mundur selangkah pun.

Mengapa harus terjadi sekarang......

Demonslayer berakhir....

Tepat setelahnya, aku merasakan dadaku yang tertusuk, dan jatuh pingsan.

⟵Back         Main          Next⟶




Related Posts

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 27 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh

2 komentar

July 7, 2018 at 10:42 AM delete

Thanks for the chapter min ,, semangat min buat update nih TFH ya..

Reply
avatar