Tuesday, July 17, 2018

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 31 Bahasa Indonesia


Chapter 31 – Sang Dewi Iblis



Usai Katsuragi Daichi dan rekan-rekannya pergi, hanya menyisakan Fantra Angus saja di dalam ruangan yang sunyi.

Dirinya sendiri mati ditindih lapisan es.

Akan tetapi, dia adalah sang raja undead.

Dia mempunyai teknik yang membuanya bisa hidup kembali lewat penggunaan mana.

Sesudah menyingkirkan es yang berat, dia pun pergi ke ruangan teleportasi usai beranggapan bahwa Daichi dan rekan-rekannya sudah menggunakan ruangan teleportasi tersebut.

            "Akan kubunuh kau....! Aku pasti akan membunuhmu.....!"

Sedari pertama kalinya dilahirkan ke dunia ini, Fantra sudah teramat disanjung dan dimanja. Ini semua berkat bakat sihirnya yang begitu hebat, dan nyatanya pun tak ada yang sanggup menyainginya. Dia sudah banyak menghancurkan semangat para penyihir menjanjikan satu per satu.

Karena tabiatnya tersebutlah dia dibuang dari negaranya saat masih muda, dan dibunuh oleh sejumlah besar monster-monster di daerah perbatasan.

Orang yang membawa kembali dari kematiannya adalah sang pemimpin pasukan iblis, Messiah.

Ia menilai tinggi bakat yang dimilikinya.

Fantra berterima kasih pada Messiah karena sudah memberinya kehidupan kedua, menghormatinya, dan jatuh cinta padanya. Dia dibunuh oleh monster-monster Messiah sendiri yang tak ada sangkut pautnya.

Ia berwibawa dan penuh percaya diri. Perangainya yang terampil tak menghasilkan gerakan yang sia-sia. Mata hitamnya mempunyai keindahan obsidian. Kakinya yang mempesona mengitip keluar dari balik gaunnya.

Itulah kesan Fantra terhadap Messiah.

—Kini, seorang gadis yang bertentangan dengan wanita itu muncul di hadapan Fantra.

            "..... Siapa kau?"

Fantra memelototi gadis itu dengan curiga. Mana mungkin ada gadis biasa yang masih muda bisa berhasil ke bagian dalam dungeon ini.

Menilai bahwa ia bukanlah orang biasa, dia pun bersiap menggunakan sihir.

Fantra mempunyai kemampuan unik yang diebut Incantion Substitution.

Itu merupakan kemampuan yang membuatnya bisa menggantikan bagian mantera sihir dengan suatu tindakan.

Dia dengan mudah mengalahkan semua orang yang menentangnya dengan kemampuan tersebut.

Akan tetapi, dia tak menggunakannya pada gadis ini.

Karena dia mendengar suaranya.

            "—Kau sudah melupakanku, Fantra?"

Hanya itulah yang diucapkannya.

Akan tetapi, Fantra takkan pernah salah mengira terhadap suara yang jelas tersebut. Dia takkan pernah melupakannya.

Itu adalah suara dewi tercintanya.

Dia pun lekas berlutut dan menundukkan kepalanya. Dia bahkan meneteskan air mata. Dia akhirnya bertemu kembali dengan majikannya.

            "Kelihatannya kau sudah menyadarinya."

            "Maaf atas kesalahanku ini! Fantra Angus ini takkan pernah bersikap tak sopan pada majikannya.... akan kuterima apa pun itu hukumannya!"

            "Tidak usah begitu formal. Aku hanya ingin melihatmu setelah sekian lama tak berjumpa."

Ucapannya mengejutkan Fantra.

Dewi yang disanjungnya sampai repot-repot turun demi melihatnya?

Untuk melimpahi dia dengan cintanya?

            "Bisa kau angkat kepalamu? Aku ingin membakarmu ke dalam ingatanku."

Dia mendengarkan perkataannya dengan saksama, tak membiarkan satu kata pun terlewat.

Kegembiraannya tak bisa diungkapkan dalam kata-kata. Dia bahkan sudah lupa mengenai Daichi dan rekan-rekannya.

            "Kalau Anda tak keberatan..... maka dengan senang hati."

Fantra mengangkat kepalanya seperti yang dibilang.

Saat melakukannya, seharusnya dia bisa melihat wajah dari wanita yang dicintainya itu. Akan tetapi, gadis tersebut menempatkan tangannya pada wajah Fantra, menghalau pandangannya.

            "Crimson Crisis."

Salah satu sihir tingkat dewa yang paling berkuasa di dunia ini.

Sihir tersebut menghasilkan api yang akan melahap eksistensi itu sendiri, takkan kunjung padam. Mau itu disiram oleh air atau ditiup angin, api tersebut takkan padam sampai apa yang dibakarnya benar-benar musnah.

            "Aaaaaaaaah?!"

Memusnahkan eksistensi seseorang tak semudah menghancurkan tubuh seseorang.

Pertama, itu akan memusnahkan ingatan seseorang, dilanjutkan dengan jiwa mereka, dasar eksistensi mereka. Ini akan mengubahnya menjadi wadah kosong.

Mengikuti proses tersebut, ingatan Fantra pun dihanguskan.

Termasuk dendam masa lalunya, dan perasaannya terhadap Messiah.

Pada saat itu, bahkan Fantra tak mampu lagi meneriakan kepatah hatiannya. Bagaimanapun juga, dia sudah tak tahu lagi apa itu patah hati.

            "Ah.... ueh...."

Dia mengeluarkan suara yang bahkan tak bisa dianggap sepatah kata pun, dan pada akhirnya, konsep yang disebut Fantra Angas pun berubah menjadi debu dan lenyap dari dunia ini.

            "..... Pembersihan selesai. Aku sudah menepati janjiku, pahlawan."

Gadis muda itu mengingat kembali bocah yang bertarung melawan Fantra dan datang menemuinya—mati.

Usai sekarat sembilan kali, tubuhnya sudah terbiasa dengan dunia yang pada dasarnya merupakan miliknya.

Akan tetapi, itu masih terlalu cepat baginya.

Seperti biasanya, ia berencana untuk membunuh jiwanya untuk mengirimnya kembali, tapi dia benar-benar berbuat sesuatu untuk pertama kalinya.

Dia benar-benar bersujud di hadapannya.

[Aku tak peduli meski kau membunuhku sebanyak yang kau mau, tapi sebagai gantinya, tolong bunuhlah si bangsat undead itu.]

            "— Baginya untuk berkata begitu, meskipun sudah tahu siapa diriku....."

Senyuman muncul pada wajahnya saat ia mengingatnya.

            "Pilhanku pasti tidak salah......"

Ia mendekapkan tangannya bersamaan di atas jantungnya yang bedebar.

Jiwa yang lembut. Jiwa yang kejam, itu bertentangan.

Kendatipun emosinya takkan pernah sepadan antar satu sama lain, bocah itu memiliki keduanya.

Aaah, aku ingin bertemu dengannya lagi. Kita akan bekerja sama untuk menggulingkan manusia dan melihat dunia ini dibangun kembali.

            "Ini adalah layanan, pahlawan."

Ia akan memberikan kemampuan yang diperolehnya kembali dari penghapusan eksistensi Fantra pada gadis-gadis yang membantunya.

Walaupun ia ingin bisa berbuat banyak untuknya, ia hanya bisa mengaruniainya satu kekuatan karena terhalangi oleh kekuatan Dewi Claria yang memuakkan itu.

Ia mencemaskannya, tapi ia sudah memberitahukan ke mana tujuan dia selanjutnya. Di sana, dia akan bisa menemukan orang-orang yang akan membantunya.

Mereka takkan melakukan apa yang dilakukan Fantra, jadi tak usah khawatir. Mereka adalah bawahanku, iblis-iblis sejati. Mereka berbeda dengan Fantra, yang merupakan mantan manusia.

Gadis itu memaki bawahan yang baru saja dibunuhnya dengan suara yang amat pelan.

            "Gadis itu juga kelihatan terlena padanya, aku akan bisa mempercayakannya."

Hanya tinggal masalah waktu hingga semuanya akan dibebaskan usai bawahan ia bergabung dengannya.

Menutup matanya, gadis itu sudah bisa melihat sosok gagah pemuda yang memimpin pasukan untuk melawan umat manusia.

Itu pasti akan menjadi kenyataan.

Ah....

            "Cepat.... dan datanglah padaku, Daichi...."

Meninggalkan harapannya, sang dewi iblis—Messiah pun menghilang.

⟵Back         Main          Next⟶



Related Posts

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 31 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh

2 komentar

July 17, 2018 at 3:46 PM delete

Lanjut min ,makin seru novelnya ganbatte!!!!

Reply
avatar
July 17, 2018 at 5:49 PM delete

mansap min....mangat min..

Reply
avatar