Friday, July 5, 2019

Chiyu Mahou no Machigatta Tsukaikata Volume 01 Chapter 19 Bahasa Indonesia



Chapter 19


            Hidup ini membosankan.

            Rumah, keluarga, sekolah, teman sekelas, dan sahabat.

            Semuanya tercerminkan dalam satu warna.

            Aku sudah muak dengan semua itu.

            Aku benci ‘diriku’ yang mampu melakukan apa pun. Mendengar orang-orang membicarakan masa depan mereka, membuatku iri. Berkat diriku yang mampu melakukan apa pun, semangat dan motivasiku pun hilang… padahal yang lain mampu mengejar matian-matian mimpi mereka.

            Aku suka membaca cerita fiksi, fantasi, dan sci-fi… tiap kali kumembayangkan diriku sebagai protagonis dalam cerita fantasi, membuat jantungku berdebar-debar. Bukan karena percintaan, ketegangan, ataupun sejarah lah yang membuatku berdebar-debar… melainkan karena kisah-kisah yang jauh berbeda dengan kenyataan.

            Intinya, aku ini hanya orang yang terpikat akan sesuatu yang tidak realitas.

            Harapan kedua orang tuaku, kecemburuan adik lelakiku, dan kedengkian orang lain. Aku melampiaskan semua tekanan tersebut pada novel, seakan melarikan diri dari segalanya.  

            Sekalipun hanya sesaat, aku pengin menjauhkan diri dari hubungan sosial.

            "Orang macam kakak, mending tidak ada saja!!"

            Itulah kata-kata dari adik semata wayangku.

            Dengan berlinangkan air mata, suaranya terdengar gemetar saat meneriakkan kata-kata yang mengiris hatiku.

            Sebagai seorang kakak, mestinya aku bisa akrab dengannya.

            Salah apakah aku ini.

            Tidak, pasti aku telah berbuat salah.

            Orang tuaku selalu menjadikanku bahan bandingan terhadap adikku. Saking seringnya, pikiran adikku pun melemah.

            Aku tahu orang tuaku tidak bermaksud jahat. Namun, justru itulah yang membuat adikku tersakiti.

            Hanya sekadar kasih sayang orang tua lah yang diinginkan adikku. Dia sampai membentakku karena ketidakadilan orang tuaku. Hanya sebatas itu.

            Benar, semuanya memang salahku.

            Aku hanya pura-pura tidak menyadarinya saja, sehingga keadaan saat inilah yang kudapatkan… penampilan luarku, lebih baik lenyap atau enyah sajalah….

*

            "Ah… wah…."

            Mimpi barusan, sungguh tak menyenangkan.

            Aku bersusaha bangun, sekali pun tubuh lesuku ini terasa kurang mengenakkan. Lalu, aku pun sadar kalau itu karena pakaianku yang basah kuyup.

            Saat memeriksa sekelilingku, terdapat pepohonan yang terlampau subur dan sungai dengan arus yang tenang.

            Kenapa aku sampai bisa berada di sini? Kalau kuingat-ingat lagi, Usato dan aku pagi-pagi pergi ke luar kerajaan untuk berlatih, lalu kami pun dihadang bandit, terus diserang monster….

            "Benar juga, Usato!!"

            Wajahku langsung memucat begitu berhasil mengingat semuanya, dan mencari Usato yang sudah melindungiku.

            "… Uuu."

            "Syukurlah… ternyata kamu di sini…."

            Usato ternyata ada di sampingku; dia pingsan dengan tertelungkup.

            Di sekujur tubuhnya banyak sekali luka dan pakaiannya pun compang-camping. Kami dilambungkan karena dia melindungiku dari serangan langsung monster. Aku hanya ingat sampai situ saja, tetapi aku yakin setelah itu kami jatuh ke sungai dan hanyut ke sini.

            Kalau benar begitu—

            "Usato, kamu membawaku sampai ke sini, ‘kan…."

            Menelusuri sungai dengan mataku, aku bisa melihat ada air terjun besar setinggi 20 meter yang memisahkan arus atas dan bawah.

            "Maaf…."

            Pasti sulit membawaku sampai ke sini.

            Untuk sekarang, aku mesti mencari tempat yang aman—

            Selagi aku mengangkat tubuh Usato, aku tempatkan dia pada punggungku.

            Uuu, berat….

            "Aku ini wanita yang selalu membalas budi…."

            Lagian, salahku juga hingga dia bisa berada di dunia ini.

            Maka dari itu, aku takkan membiarkannya mati.

            Bertahanlah, Usato!

            "Aku baik-baik saja, Kak Inukami. Aku baru saja bangun."

            "Bukankah kamu bangun terlalu cepat...."

            Tekadku jadinya terasa sia-sia, lo.

            Usato menyingkir dari punggungku dan memeriksa lukanya. Kelihatannya dia sudah menggunakan sihir penyembuhan karena sekujur tubuhnya diselimuti aura hijau. Namun, mau kamu apakan coba tekadku ini. Rasanya bagian diriku yang amat memalukan telah terlihat olehmu juga.

            "Kak Inukami sendiri enggak kenapa-napa?"

            "Harusnya aku yang bilang begitu, tahu…."

            "Aku sih sudah terbiasa. Jadi, enggak apa-apa."

            Kurasa kamu tak boleh sampai terbiasa, deh.

            Biar begitu, tetap saja terasa canggung.

            Aku membicarakan soal Usato yang melindungiku dari monster-monster itu dan merenungkannya. Pada akhirnya, aku hanya selalu diselamatkan.

            Rasanya aku ini tak begitu berguna.

            "… Kak Inukami, aku harus menjelaskan dulu situasi kita saat ini."

            "Eh… ah, benar juga."

            Tampang Usato terlihat serius saat menjelaskan keadaan kita saat ini. Dari apa yang dijelaskannya, Usato dan aku berakhir di hutan ini karena dilambungkan babi hutan, yakni Fall Boars. Lalu, kami pun jatuh ke sungai dan hanyut ke sini.

            Karena serangkaian kejadian tersebut, Usato pun amat kelelahan dan akhirnya pingsan….

            Memang sesuai dengan apa yang kuduga, tetapi tetap saja Usato menangung banyak beban.

            "… Maaf, Usato."

            "Enggak usah minta maaf segala. Lagian, aku melakukannya atas kemauanku sendiri. Selain itu, aku masih harus menjelaskan ada di tempat yang seperti apa kita sekarang ini."

            Biar begitu, aku masih merasa tidak enak.

            Namun, aku juga tak boleh terus menerus bersedih hati. Aku harus berjuang keras supaya terlihat tenang.

            "Di hutan inilah aku menjalani latihan bertahan hidup selama 10 hari. Tempat ini juga dikenal sebagai Dark Lyngle."

            "Jadi, sebelumnya kamu pernah tinggal di tempat ini…."

            Kalau begitu, bukannya tempat ini sangat berbahaya?

            Aku sungguh bersyukur kita tidak diserang oleh monster saat masih pingsan.

            "Kalau begitu, kita harus cepat-cepat keluar dari sini…."

            "Itu bahaya. Lihat, langitnya sudah mulai gelap. Mau sekuat apa pun Kak Inukami, pasti akan kesulitan untuk melawan monster yang bisa muncul dari mana pun, ‘kan?"

            "Uu…."

            Dalam keadaanku yang sekarang ini memang tidak mungkin untuk bertarung melawan monster dalam kegelapan.

            "Makanya, kita harus berjalan mumpung masih rada terang."

            "Tetapi bentar lagi gelap…."

            "Aku sudah terbiasa memanjat ke atas pohon dan menggunakannya untuk bergerak, juga dari atas aku bakal bisa langsung tahu jikalau ada monster. Apa kamu juga bisa manjat pohon?"

            "Aku tidak terlalu yakin. Soalnya, aku belum pernah melakukannya…."

            Lagian, saat masih kecil aku belum pernah bermain yang begituan.

            Berbeda dengan Usato yang sudah terbiasa, bisa jadi aku akan mati hanya karena terjatuh saja.

            Kata-kataku membuat Usato terlihat kesusahan saat berpikir keras sambil menyilangkan kedua tangannya.

            Usai berpikir lama, jawaban yang didapatkan pun adalah—

            "Ya sudah, kita menetap saja dulu di sini."

            "Apa?!"

            Itulah jawaban Usato saat menunjuk ke tanah.

            Bukannya ada banyak monster saat malam?

            "Di sini juga dekat dengan air, dan bisa jadi kita diserang monster kalau pergi mencari tempat lain."

            "… Be-Benar juga, ya."

            "Nah, setuju berarti."

            Usai berkata begitu, Usato mulai mengumpulkan dedaunan dari ranting pohon; dia terlihat sudah terbiasa. Tak lama berselang, setumpukan besar pun terbuat…. sedang apa sih, Usato? Aku tidak tahu apa pun soal berkemah. Jadi, aku tidak bisa membantunya.

            "Kak Inukami, bisa buat api dengan sihirmu? Kebanyakan monster takut api. Jadi, mereka tidak akan mendekat."

            "Ah, begitu. Baiklah."

            Menuruti perintah Usato, aku pun menggunakan sihir petir untuk menyalakan api.

            Udara di sektar kami mulai menghangat, dan api besar pun terbuat dengan asap yang membumbung ke langit.

            Aku menempatkan kedua tanganku di dekat api untuk menghangatkan diri karena pakaianku masih basah kuyup.

            "Barang-barangmu bagaimana, Kak?"

            "Aah, aku masih punya tas dan pedang."

            Untungnya, aku punya pakaian ganti di dalam tasku. Jadi, aku pun bisa menggantinya.

            Selain itu, aku juga punya peta dan pisau. Sepertinya hanya pisau yang akan berguna. Melihat ke dalam tas, kelihatannya tasnya kering… apa karena semua air menyerap ke pakaian gantiku dan sudah kering, atau dari awal memang tidak kemasukan air?

            "Syukurlah. Dalamnya tidak basah."

            "Mau ganti baju sekarang? Pakaianku cepat kering. Jadi tidak perlu sungkan padaku, ganti saja."

            "Ya, sudah. Ah… mungkin aku harus simpan saja pedang dan pisauku di sini."

            Meletakkanya di dekat Usato, aku pun mengambil barang-barangku dan pergi ke tempat lain.

            Tentu saja, dalam situasi seperti ini, aku juga tak lupa mengatakan perkataan klise pada Usato.

            "Jangan ngintip, ya?"

            "Hah?"

            Reaksinya barusan terasa agak menyakitkan.

*

            Pakaian ganti yang kubawa adalah seragam olahraga yang mirip dengan yang kupakai di sekolah. Aku belum terlalu terbiasa mengenakan pakaian yang begini, tetapi aku tidak terlalu mempermasalahkannya.

            Bahkan Usato saja masih tahan dengan pakaiannya yang masih basah.

            Daerah sekitar sudah semakin gelap, hanya bermodalkan cahaya dari api saja. Aku juga bisa mendengar raungan mirip hewan buas yang berasal dari ke dalaman hutan… kemungkinan besar monster, dan aku pun sedikit merasa takut diserang oleh mereka. Sulit rasanya membayangkan Usato yang tinggal di hutan ini selama 10 hari.

            "… Perutku keroncongan."

            "Sama…."

            "Dari pagi aku belum makan apa pun, lo."

            Yah, wajar saja karena kita harus berangkat saat masih pagi buta.

            Makanan yang kami bawa pun dibawakan kedua pengawal juga. Kita juga tidak bisa mencari makanan karena sudah sangat gelap. Jangankan mendapatkan makanan, bisa jadi malah kami yang menjadi makanan monster.

            Saat aku tak tahu mesti berbuat apa, aku sadar Usato tengah menatapku.

            "… A-Ada apa, Usato?"

            "Kak… di sini ada sungai, ‘kan?"

            Eh? Memangnya kenapa, ‘gitu?

*

            Aku pergi ke sungai dan bisa dengar suara gemuruh air terjun.

            Selagi memasukkan kedua tanganku ke dalam air, aku menoleh ke Usato yang ada di belakangku.

            "Cukup begini saja?"

            "Ya, aku sudah berlindung. Mulai saja kalau sudah siap."

            Berlindung, ya… yah, terserahlah.

            Saat menutup mata, aku merasakan kekuatan sihir di dalam tubuhku dan memusatkannya langsung ke tanganku. Aku takkan langsung melepaskannya. Begitu sudah cukup terkumpul, akan kulepaskan semuanya sekaligus.

            Mengubah kekuatan yang terkumpul menjadi sihir petir, aku melepaskannya dari tanganku yang terendam air.

            Usai sesuatu yang serupa dengan pelepasan muatan listrik terjadi, ikan pun terlihat mulai mengambang di sungai.

            … Tak disangka aku akan menggunakan sihir dunia ini untuk menangkap ikan. Biarpun sedikit keheranan, aku langsung menoleh ke Usato lagi.

            "Syukurah, di sini ada Kak Inukami…."

            Dia memujiku. Malah, dia sampai terharu.

            Tidak salah. Memang tidak salah, sih… tetapi entah kenapa aku tidak merasa senang.

                        Setelahnya, kami pun mempersiapkannya dan memakan dua ikan kecil. Kami hanya membakarnya saja sehingga rasanya terasa hambar, tetapi itu sudah cukup untuk mengurangi rasa lapar kami.

            Sehabis makan, Usato tiba-tiba mengajak ngobrol.

            "Haduh, ada Kak Inukami mah rasanya benar-benar beda."

            "Tidak, tidak. Kamu terlalu melebih-lebihkan."

            "Kalau ada Kak Inukami, mungkin bisa tahan sampai 3 bulanan di sini."

            "Eh? Ma-Masa, ah?"

            Rasanya sedikit memalukan.

            Bersama orang lain rasanya memang lebih baik ketimbang sendirian. Namun, kamu ini terlalu blak-blakan Usato.

            Kebanyakan orang biasanya akan malu berkata begitu.

            "Iya. Lagian, Kak Inukami bisa membuat api dan menangkap ikan. Kak Inukami jadi mengingatkanku sama mesin berguna di dunia kita berasal."

            "Kamu pikir aku ini peralatan listrik apa?"

            Kutarik kembali apa yang kupikirkan soal dia tadi.

            Aku memang bisa menggunakan sihir petir, tetapi tak pernah kusangka dia akan menyamakanku dengan peralatan listrik.

            Namun, sampai bisa dipermainkan oleh adik kelasku… rasanya aku perlu menunjukkan martabatku sebagai kakak kelasnya.

            "Kamu ini kejam, Usato. Kamu anggap aku ini apa?"

            "… Orang aneh?"

            Guhaa…!

            Tak disangka dia mengatakan apa yang mestinya kukatakan! Dalam benakmu, citraku itu memangnya seperti apa, Usato?! Tetapi yang paling membuatku kesal adalah diriku yang tidak bisa menyangkal kata-katanya! Tetapi tetap saja, dikatai langsung seperti itu sangat menyakitkan!

            Usai berselang beberapa saat dan masih sedih karena Usato mencapku sebagai ‘orang aneh’, Usato yang dari tadi memandangi api pun angkat bicara.

            "Sudah gelap sekali. Jadi, mending segera tidur. Biar aku saja yang menjaga apinya."

            "Tidak, tidak. Mana bisa aku menyerahkan semuanya pada Usato saja, ‘kan? Aku harus…."

            "… Kalau begitu, kita gantian saja. Kalau sudah waktunya, nanti akan kubangunkan. Sekarang, istirahatlah dulu."

            Kalau kamu sampai bilang begitu, kurasa aku harus menerimanya.

            Akan tetapi, aku takkan tertipu. Kamu mungkin berkata begitu untuk membiarkanku tidur. Kamu pasti takkan membangunkanku sampai pagi. Bagiku, kebaikanmu itu hanya akan berdampak sebaliknya. Aku hanya akan merasa tidak enak karena serasa bersalah.

            Namun, aku benar-benar lelah. Setelah istirahat dengan cukup, aku akan bangun sendiri dan gantian dengannya.

            "Aah, ya sudah, aku akan istirahat sebentar… jangan menyerangku, ya?"

            "… Enggak bakal."

            "?!"

            Tidak perlu sampai berkata begitu….

            Aku pun menutup mata saat berbaring. Aku hanya akan tidur sejenak… hanya sebentar. Selagi terus-terusan berpikir begitu, perlahan kesadaranku pun mulai memudar, hingga akhirnya tertidur—






            "Kak Inukami, waktunya gantian."

            "… Kamu ini benar-benar selalu melebihi harapanku, ya."

            Daerah sekitar masih gelap. Dia membangunkanku secara biasa.


⟵Back         Main          Next⟶




Related Posts

Chiyu Mahou no Machigatta Tsukaikata Volume 01 Chapter 19 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh