Monday, January 21, 2019

Yuusha-sama no Oshishou-sama Chapter 55 Bahasa Indonesia


Arc 2.5 (Selingan)

Chapter 55 – Iblis #3



            "Tidak, aku tahu itu berbahaya, tapi mana mungkin aku bisa lari dan meninggalkan gadis ini sendirian."

            "Tapi, nanti kau bisa terluka Laura."

            "Ini Iblis, lo? Yang diincarnya itu hanyalah gadis ini dan para petualang saja. Kau tak perlu melibatkan dirimu juga!"

            Laura tetap menolak sekali pun Paul dan Louis memohon. Dilihat dari betapa eratnya dia memeluk Evelina, Oort rasa, dia sudah semakin sayang pada gadis Avian itu.

            Oort memeriksa tangan kirinya yang sudah disembuhkan dengan sihir sambil mendengarkan perdebatan yang tengah berlangsung di depan rumah.

            "Tanganmu yang terluka sepertinya sudah mendingan."

            "Ya, berkat dirimu."

            Oort berbalik pada seorang pemuda berjubah sihir yang tersenyum. Dialah satu-satunya penyihir di antara para kesatria yang dikirim ke sini. Statusnya sebagai seorang penyihir kerajaan bisa dilihat dari jimat emas dengan ukiran pentagram yang tergantung di lehernya.

            "Syukurlah lukanya bisa lekas sembuh."

            Oort berbalik pada tiga orang yang tengah berdebat.

            "Sepertinya mereka tidak bisa membujuknya."

            "Ya, sepertinya begitu."

            Paul dan Louis yang menyerah pun pergi dengan merasa sedih, meninggalkan Laura yang membangkang.

            "Yah, kurasa anak kecil sepertinya hanya akan jadi beban selama pertarungan, jadi kita perlu seseorang untuk menjaganya. Namun, kami tak bisa menjamin keselamatannya," ujar si penyihir yang memandang tajam Laura, dan mendecak pelan lidahnya.

            "Mengejutkan sekali. Tadinya, kupikir para penyihir kerajaan itu dipenuhi orang-orang sombong saja, tapi tak disangka kalau kau akan mengakui kemungkinan akan adanya kegagalan."

            "Haha, kau ini bisa saja. Namun, ini hanya di antara kita saja…," ucap si penyihir dengan lirih, lantas berkata, "Tak semua orang yang dikirim untuk bertarung mempunyai kedudukan tinggi. Pada dasarnya, kami ini hanyalah rakyat jelata. Memang ada pengecualian sih, tapi…"

            "Begitu, ya."

            Si penyihir pun memimpin Oort ke dataran berumput yang letaknya berdampingan dengan ladangnya Laura. Rencananya mereka akan melawan si Iblis di dataran terbuka guna meminimalisir kerusakan di daerah sekitarnya.

            Sewaktu mereka berjalan berdampingan, Oort merasakan adanya tatapan yang ditujukan padanya. Tatapan itu berasal dari kelima orang kesatria yang mengawasi dataran tersebut.

            Selepas menerima kabar Oort mengenai si Iblis, Serikat Petualang segera meminta bantuan dari Ordo Kesatria, tapi hanya lima orang kesatria dan seorang penyihir muda sajalah yang mereka kirimkan.

            Tunggu sebentar! Lawan kalian ini Iblis, ‘kan? Hanya mengirim orang sesedikit ini, apa sih yang mereka pikirkan?! Teriak Lilia sang resepsionis begitu mengetahuinya.

Oort dengan ragu bertanya, "… Menurutmu, apa kita punya cukup orang untuk menang?"

            "Kurasa akan hebat bila hanya dengan kita saja bisa memenangkannya," balas si penyihir dengan tampang kesusahan.

            Para Iblis yang mengabdi pada Raja Iblis terbagi ke dalam tiga tingkatan berdasarkan kekuatannya. Duke, Marquis, dan Count merupakan tingkatan Iblis terkuat. Viscount dan Baron berada pada tingkatan kedua, sedangkan Kesatria dan Prajurit berada di tingkatan ketiga. Para Iblis yang menduduki tingkatan Count ke atas mempunyai nama tersendiri. Semakin tinggi tingkatan mereka, maka semakin kuat pula Iblis tersebut.

            Dahulu kala, Duke Iblis pernah muncul dan membawa kehancuran pada peradaban yang tengah berkembang pesat.

            Namun, setelah 500 tahun berlalu, kini perbatasan antara manusia dan Iblis sudah menjangkau ke sebuah negara di barat laut dari Lemmroussell. Walau begitu, hanya para warga dan prajurit yang berada di garis depan lah yang merasakan bahaya. Bagi mereka yang tinggal di pusat kekaisaran, menganggap itu hanyalah sekedar persoalan yang selevel dengan membasi monster sembarangan.

            "Yah, begitulah pemikiran para petinggi. Bahkan di garis depan sekali pun, para Iblis tidak hanya sembarangan muncul begitu saja, jadi informasimu pasti dianggap salah. Mereka lebih memerhatikan fakta bahwa Iblis itu terlihat seperti Kobold raksaksa ketimbang fakta bahwa sebenarnya itu adalah Iblis yang mempunyai nama Veldaroth. Kejadian ini belum pernah terjadi sebelumnya, jadi tidak heran kalau mereka tidak memercayaimu," ucap si penyihir dengan mengangkat bahunya sambil mendecakkan lidahnya beberapa kali. Oort rasa kalau mendecakkan lidahnya itu merupakan kebiasaannya.

            "Mungkin jumlah kami tak sebanyak yang diinginkan, tapi kami akan berjuang semaksimal mungkin."

            "Kami akan mengandalkan kalian."

            Kedua lelaki tersebut memandang matahari yang terbenam di cakrawala, dengan langit yang dihiasi warna merah darah. Batas waktu selama tiga hari sudah berakhir, dan malam ketiga pun tiba.

***

            Matahari telah terbenam, dan petang pun tiba.

            "Onii-chan."

            Para petualang yang berada agak jauh dari para kesatria lah yang pertama menyadari adanya kekacauan. Laura memeluk erat Evelina di dadanya. Mereka sudah memutuskan untuk ikut karena menetap di rumah pun sama bahayanya.

Tatapan Leti hanya terpaku pada satu sudut ladang saja. Dia berpegang erat pada Wynn. Ada suatu bayangan hitam pekat di sudut ladang tersebut.

            "Apaan ini? Cuman segini saja, ya?" cibir Veldaroth saat tubuhnya terwujud dari bayangan itu.

            "Itu bukan Kobold!"

            "Sudah jelas itu mah bukan Kobold… tapi Iblis!"

            "Dasar para atasan sialan! Ini semua karena mereka tidak membaca laporannya!"

            Wynn bisa mendengar keluhan para kesatria di depannya.

            "Kalian ini meremehkanku apa. Bener-benar ‘ngerti enggak sih, kalau ini bakalan jadi pertarungan buat hidupmu? Enggak bakalan kubiarkan seorang pun hidup, lo?" mengacuhkan para kesatria yang tengah panik di hadapannya, Veldaroth melontarkan pernyataan kematian pada para petualang yang ada di belakang mereka. Perasaan menyesakkan yang sama seperti saat terakhir kali mereka bertarung kembali menyelimuti para petualang, tak terkecuali para kesatria yang berada di antara keduanya. Rasa takut mengerikan yang melanda semua orang yang berada di sana membuat bahu mereka gemetaran.

            "I-Ini…"

            Apaan ini? Terhenti hanya karena haus darahnya saja? Oort mengangkat tamengnya seakan berusaha menghalau tekanan intimidasinya. Dia sekilas melirik Leti yang ada di sampingnya. Gadis itu meringkuk, bersembunyi di balik punggung Wynn.

            Apa dia juga merasakan haus darah yang sama seperti sebelumnya? Oort terkesan dengan keteguhan mental gadis itu. Orang berpikiran lemah pasti sudah akan pingsan sekarang. Meski semangat juang para kesatria dan petualang sudah menurun, mereka masih tetap sadar. Oort juga menyadari bahwa Laura pun mampu berjuang terhadap tekanan itu. Dia terus memeluk Evelina, menahan haus darah yang menakutkan tersebut. Namun, mereka semua hanyalah bisa bertahan.

            Semuanya, termasuk para kesatria terdiam di tempat, nyaris tak mampu bertahan.

            Semuanya, kecuali seorang.

            Oort melihat sesuatu bergerak dari sudut matanya. Wynn melangkah maju, menghunuskan pedangnya ke arah Veldaroth.

            "… Se-seorang sepertimu… mana mungkin bakalan bisa menang!" jelasnya secara terus terang, dengan wajah merah sembari melindungi Leti di belakangnya. Kata-katanya membebaskan yang lainnya dari mantra Veldaroth.

            "Cih! Musuh kita ini adalah Iblis! Kita sudah membulatkan tekad! Hunus pedang kalian! Bergerak sesuai rencana!" perintah si penyihir, memimpin para kesatria.

            "Karuniailah aku kekuatan!" rapal para kesatria dengan serentak, dan tubuh mereka pun diselimuti cahaya.

            "Wahai es beku, terwujudlah!" rapal salah seorang kesatria, dan es pun terwujud dari kaki Veldaroth. Di saat yang sama, muncul es runcing dari tanah dan menusuk dadanya Veldaroth. Ujungnya yang tajam akan bisa dengan mudahnya menembus tubuh manusia.

            "Grrrah!!!" Veldaroth mengayunkan gada besar yang sama seperti terakhir kali bertarung. Tombak yang terwujud dari sihir pun hancur menjadi serpihan-serpihan kecil, berceraian di udara. Ketiga kesatria yang tak merapal, maju mendekat. Pedang mereka yang dilapisi mana menyayatkan lengkungan perak lewat serpihan-serpihan itu.

            "Tidak mempan?!"

            "Hei, di atas sini!" Veldaroth melompat tinggi di udara, lalu mengayunkan gadanya ke ketiga kesatria itu. Terdengar dentaman saat gadanya menghantam mereka.

            "Mereka menahannya!" teriak kaget Oort. Para kesatria yang mampu menahan hantaman itu, lengan kirinya patah. Veldaroth terlempar mundur akibat dari hantamannya, dan berusaha mendapatkan pijakannya kembali.

            "Wahai kilauan baja! Koyak lah kehampaan dengan seribu pedang!" rapal si penyihir sewaktu mengumpulkan Mana yang cukup. Veldaroth membungkukkan badannya ke dalam posisi bertahan saat kilauan pecahan metalik yang tak terhitung jumlahnya muncul dan menghujaninya.

            "Wah…" seru kagum seseorang mencapai telinga Wynn saat dia menyaksikan pertarungan dengan terengah-engah. Leti juga dengan takut menyaksikan pertempuran yang tengah berlangsung di balik punggung Wynn.

Kuatnya! Hebat! Keren banget! Para kesatria yang dikagumi Wynn, sekarang tengah bertarung tepat di hadapan matanya! Jantungnya berdebar-debar. Serangan yang tak mampu ditahan para petualang, mampu ditahan oleh para kesatria. Malahan, mereka justru mampu menangkis hantaman yang amat kuat.

            "Sudah kuduga, kesatria memang yang terkuat!" bual Wynn pada Leti, yang tak sanggup menahan rasa kagumnya. "Hebat banget! Aku ingin jadi seperti mereka!"

            Tombak api, angin, dan tanah terbentuk, lalu terbang ke arah Iblis itu satu per satu. Di dalam kegelapan, kilatan perak dari Mana bisa terlihat di sekitar Veldaroth. Tiap kali Veldaroth bergerak menyerang, si penyihir menembakkan mantra serangan yang kuat padanya. Usai setiap mantra ditembakkan, para kesatria akan segera meneruskannya dengan serangan. Koordinasi mereka tanpa celah.

            "Tapi Onii-chan, ada perasaan mengerikan yang semakin membesar dari orang anjing itu! Bisik Leti, suaranya gemetaran saat dia menatap Wynn dengan ketakutan.

            "Huh?" Wynn nyaris tak punya waktu untuk memahami peringatan Leti sebelum situasinya menjadi tambah buruk.

            "Whoa!'

            Tangan kiri Veldaroth tiba-tiba melesat keluar dari kumpulan asap yang dibuat oleh bola api, dan mencengkeram salah satu kepala kesatria.

            "Tu-Tunggu!" karena takut mengenai rekan mereka, rentetan sihir pun terhenti untuk sesaat.
            Kres.

            Tangan Veldaroth yang satunya menembus dada kesatria yang malang itu. Dengan berteriak kaget, seluruh kekuatan lenyap dari tubuh kesatria itu, yang kemudian dilemparkan ke samping. Veldaroth memelototi para kesatria lainnya. Mereka langsung melompat mundur untuk menjaga jarak. Kaki mereka yang diperkuat, membuat mereka bisa bergerak lebih cepat. Bagi manusia biasa mana pun, mereka akan terlihat menghilang, tapi Veldaroth dengan mudahnya mengejar para kesatria itu.

            "Kalian terlalu lamban!" seru Veldaroth sembari menyapukan kakinya di udara. Suara benturan keras bisa didengar saat kaki Iblis itu menghantam kepala kesatria lainnya. Tubuhnya terlempar ke udara, lemas layaknya boneka kain.

            Veldaroth nampak sama sekali tanpa luka meski sudah terkena retentan serangan yang baru saja dideritanya. Dia memamerkan giginya, lalu berteriak dalam gelak tawa, "Hei, aku baru mulai, nih!"

            "Eliza, lapisi senjata kami dengan Mana," suruh Oort dengan suara lirih. Dia takkan menyerah tanpa perlawanan. Dengan suara buk, kesatria lainnya pun mati, tubuhnya dilemparkan dengan anggota badannya terlentang.

            Eliza baru mulai merapal sewaktu dia mendengar jeritan.

            "EeeaaaaAAAAAAAAA!"

            "Hei, Wynn!"

            Wynn menyerang langsung Veldaroth.

            "Apa?!" si penyihir kekaisaran yang terkejut, mencoba menghentikan Wynn, tapi tak sempat.

            "Hei! Kau takkan bisa mengalahkannya dengan pedang biasa!" ‘Wahai pedang, penuhilah keinginanku: lapisilah pedang itu dengan kekuatanku!’ pedang Wynn pun memancarkan cahaya.

            "Oh, bukannya kau bocah kurang asem waktu itu! Jadi kau mau mati duluan, ya?" masih ada kepala lainnya lagi yang dilemparkan, dan Veldaroth berbalik untuk menghadapi bocah laki-laki itu.

            "Cih. Ini takkan bertahan lama tapi… ‘Wahai sihir, dengarlah perintahku! Mengalir lah ke dalam dirinya! Tunjukkanlah kekuatanmu!" dengan mendecakkan lidahnya lagi, si penyihir merapal mantra lainnya. Kecepatan Wynn menjadi lebih cepat. Dalam sekejap mata, dia sudah menjangkau dadanya Veldaroth. Wynn menebas secara diagonal. Menarik kembali pedangnya, Wynn menusuk Iblis itu. Veldaroth berputar ke samping, menghindari tusukkan itu.

            "Kemampuan yang bagus! Kau pasti bisa menjadi pendekar pedang hebat kalau tak bertemu denganku!" Veldaroth mengayunkan tinjunya ke bawah, tapi Wynn berhasil menghindarinya, yang nyaris membuatnya dihancurkan. Dia berjongkok, menebas kaki Iblis itu, lalu melompat mundur. Cahaya merah marun ditembakkan dari mulut Veldaroth ke arahnya. Wynn mundur dengan gerakkan zig-zag.

            "Sialan! Tidak ada celah untuk masuk…"

            "Tidak bisakah kau merapalkan sihir penguatan pada kami juga?"

            "Cih. Bisa sih, tapi takkan bertahan lama!"

            "Tapi, si bocah Wynn itu…"

            "Ya, aku juga kaget. Sihir yang diberikan padanya lebih efektif dari yang kuduga, tapi tetap saja takkan bertahan lama!" kelompok Oort sudah berlari menghampiri si penyihir, tapi hanya bisa mengeritkan gigi saja karena frustrasi tak bisa turun tangan. Wynn dan Veldaroth bertarung dalam kecepatan yang tinggi. Mereka saling berbenturan, memisahkan diri, lalu segera berbenturan lagi.

            "Aku takkan bisa menggunakan sihir serangan apa pun kalau seperti ini!" Eliza menghentikan rapalannya karena tak bisa memberikan bantuan dengan aman.

            "Diamlah, berengsek!" ucap Veldaroth dengan geram saat dia menembakkan bola cahaya satu per satu. Kecepatan serangannya semakin bertambah cepat. Kenyataan bahwa dia kesulitan dari yang dikiranya, membuatnya jengkel. Salah satu bola cahaya itu menghantam tanah di dekat kaki Wynn. Dia memanfaatkan dampaknya untuk mendorong dirinya ke atas. Kekuatan dari ledakan membuatnya bisa lompat lebih tinggi.

            "Cih! Ini gawat! Sekalipun dia berhasil menyerangnya, sihir yang kuberikan terlalu lemah!" sesal si penyihir yang mendecakkan lidahnya. Veldaroth mengangkat tangan kirinya yang diselimuti cahaya merah marun, dan menangkis serangan Wynn. Pedang Wynn tak mampu menjangkau tubuh Veldaroth. Dengan sekali ayunan tangan Iblis itu, Wynn dihempaskan ke udara. Dia mendarat di tanah dengan kakinya, tapi Veldaroth sudah berada di atasnya. Rentetan pukulan dan tendangan menghujani bocah itu. Wynn mati-matian menghindari tiap serangannya, tak bisa menemukan satu celah pun untuk menyerang. Tiap kali dia mencoba menjauh, Veldaroth terus mendekatinya.

            "Berakhir sudah… sihir penguatannya akan…" cahaya putih yang menyelimuti tubuh Wynn, perlahan mulai memudar. Ditambah lagi, serangan Veldaroth yang penuh dengan tipuan, mencoba membingungkan Wynn. Veldaroth menendang sisi kiri Wynn. Wynn memegang pedangnya secara vertikal, tangan kirinya menahan bilah rata pada pedangnya, mencoba bertahan dari kekuatan tendangan Veldaroth.

            "Tidak bisakah kau merapalkan mantra penguatan lagi?"

            "Cih! Hanya seseorang yang punya kekuatan sihir lebih kuat dariku saja yang bisa menimpa mantraku selama efeknya masih berlangsung!" si penyihir mendecakkan lidahnya lagi saat menjawab pertanyaan putus asa Oort.

            "Sial! Kita tak bisa berbuat apa-apa!" umpat Louis. Paul mengepalkan tangannya hingga berdarah.

            Tiba-tiba, mereka semua mendengar sebuah lagu yang terasa aneh, mengingat situasinya yang tegang. "Apaan ini?!" seru para petualang saat mereka berbalik.

            "Onii-chan tidak mungkin kalah!" suara tersebut ternyata berasal dari Leti. Aura di belakangnya menyinarkan beberapa lingkaran sihir. Cahaya yang menyilaukan terpancar dari tubuh Wynn.

***

            Saat memeluk Evelina, Laura menyadari sesuatu yang aneh dari gadis itu, Leti. Yang dilakukannya hanyalah menatap pertarungan antara Wynn dan Veldaroth. Sebelum Wynn memasuki pertarungan, dia ketakutan saat menyaksikan para kesatria bertarung di balik punggungnya Wynn. Sewaktu para kesatria dibunuh dengan kejam, Laura menutup mata Evelina saat Leti menutup matanya sendiri. Tapi kini, dia terus menyaksikan pertarungan dengan tatapan kosong.

            Apa dia sudah muak dengan rasa takutnya? Laura bertanya-tanya. Tak lama berselang, suara yang kurang jelas keluar dari bibir kecilnya Leti. Pikir Laura itu adalah suara kicauan burung, tapi saat mendengarkannya dengan saksama, dia bisa mendengarnya dengan jelas, nyanyian malaikat. Laura secara spontan mengulurkan tangannya untuk memeluk Leti juga.

            Wus, sebelum tangannya menjangkau gadis itu, hembusan angin menjauhkan tangan Laura. Diterpa oleh angin, Laura menyipitkan matanya, berusaha untuk tak kehilangan pandangannya dari Leti. Pola lingkaran rumit dari cahaya yang tak terhitung jumlahnya, terbentuk di sekitar Leti. Si penyihir mengenali itu sebagai lingkaran sihir.

            "… Tidak mungkin…" Leti berhenti bernyanyi untuk membisikkan sesuatu.

            "Huh?" Laura tak bisa mendengarnya dengan jelas karena kencangnya angin.

            "Onii-chan tidak mungkin kalah!" kali ini, dia mendengarnya dengan jelas. Rasa takut Leti sudah hilang. Bunyi suaranya yang keras melintasi dataran terbuka itu, dan suaranya nampak seolah bisa menjangkau Wynn yang tengah bertarung di kejauhan. Di saat yang sama, tubuh Wynn bersinar lebih terang.

            "Sihirku ditimpanya?!" ucap si penyihir dengan termegap-megap karena terkejut…

            "Gadis sialan itu, ya?!" Veldaroth juga menyadarinya. Satu per satu lingkaran sihir muncul di sekitarnya. Dengan sebuah gelombang dari tangannya, bola-bola cahaya ditembakkan ke arah Leti. Saat perhatiannya tertuju pada Leti, dia berteriak, "Kalahkan dia!"

            Sinar pedang Wynn lebih terang dari sebelumnya. Dengan kecepatan luar biasa, dia mendekat dan mengayunkan pedangnya, memotong tangan Veldaroth yang tanpa pertahanan.

            "AAAAAAAAAAAARGH!!!" Iblis itu meraung. Pedang kesatria terasa seperti tusuk gigi tipis dibandingkan dengan pedang Wynn saat ini. tangannya yang dipotong hancur menjadi debu.

            "GrrrrrrrRRR!" geram Veldaroth saat menatap Wynn, matanya dipenuhi amarah dan kebencian.

            "ROAAAAR!!!" dikuasai amarah, Veldaroth melepaskan laser cahaya, tapi Wynn lenyap dari pandangannya. Bahkan para petualang yang menyaksikan pun, nyaris tak bisa mengikuti pergerakannya. Mereka tertegun dengan betapa cepatnya Wynn mampu menyesuaikan kemampuan fisiknya yang sangat meningkat. Luput dari sasarannya, laser cahaya itu meledakkan bukit di dekatnya, hingga menembus ke dalam hutan. Tak lama berselang, terdengar suara gemuruh yang menggelegar.

            Pandangan semua orang pun tertuju pada awan jamur raksaksa itu, tak mau membayangkan apa yang akan terjadi kalau laser itu menghantam ibu kota. Berbeda dengan rentetan bola api sebelumnya, laser itu mampu menghancurkan seisi kota. Veldaroth mulai menunjukkan kekuatan sejatinya.

            Waspada terhadap kekuatan penghancur seperti itu, Wynn bergerak mendekat. Dia menebaskan pedangnya secara horizontal, lalu mengayunkannya dari atas. Veldaroth tak berusaha untuk menangkis tebasannya secara langsung kali ini. Cahaya dari Mana Leti sudah mempertajam tepi pedang Wynn, dan bisa menebas Iblis itu dengan mudah.

Veldaroth menyelimuti tangan kanannya yang masih tersisa dengan cahaya merah marun, dan meninju pedang Wynn yang bersinar. Sewaktu cahaya merah marun bentrokan dengan cahaya putih itu, pedangnya terhenti. Aura yang saling bentrokan itu, meniadakan dampak dari bentrokan. Veldaroth berusaha mengambil jarak, bergerak dengan kecepatan yang melebihi manusia. Begitulah seharusnya. Namun, Wynn berhasil mengikutinya.

            Kilatan cahaya merah marun dan putih menerangi langit malam saat mereka terus bertarung. Kebuntuan berlanjut seakan-akan terasa berlangsung selamanya. Tiba-tiba, Veldaroth berjongkok, berusaha menyapu kaki Wynn. Bocah itu pun melompat mundur untuk menghindar. Melihat Iblis itu masih berjongkok, Wynn segera melompat maju untuk menikamnya. Di saat itu jugalah Veldaroth membukakan mulutnya, cahaya merah marun terkumpul di dalamnya.

            Itu jebakan! Pikir para petualang, si penyihir, dan satu-satunya kesatria yang masih hidup. Veldaroth berjongkok seolah membuat celah pada kepalanya, tapi itu hanya untuk memancing Wynn. Tak peduli seberapa kuat tubuh Wynn, tidak mungkin dia bisa menghindar selagi berada di udara.

Kilatan binatang buas bersinar dalam mata Veldaroth. Tanpa pikir panjang, pedangnya Wynn terlebih dahulu menjangkaunya. Saat cahaya putih itu menghantam cahaya merah marun, itu meledak. Wynn jelas tak mampu menghindari ledakan dari jarak sejauh itu. Namun, dia muncul dari ledakan tanpa cedera, terlindungi oleh bebuluan halus yang nampak terbuat dari cahaya.

            Leti mengalihkan pandangannya dari Wynn pada Evelina. Gadis Avian itu tengah berdiri, dengan membentangkan sayap putih murninya lebar-lebar, mata merahnya berkilau. Rambutnya terkibar angin saat tangan kanannya menunjuk ke arah Wynn.

Avian adalah ras yang dianggap hampir mendekati dewa, diberkahi dengan perlindungan dari roh. Evelina merapalkan mantra untuk memberikan perlindungan yang serupa. Leti tak tahu betul apa yang sudah terjadi. Yang dia tahu hanyalah Evelina sudah berbuat sesuatu. Untuk pertama kalinya semenjak mereka bertemu, Leti sekilas tersenyum pada gadis yang seumuran dengannya sebelum berbalik lagi pada Wynn.

            Di mata Leti tak ada yang lebih kuat, mulia, serta bisa sangat diandalkan. Gadis itu menyaksikan saat bocah itu mengambil pedang yang sudah terlempar oleh ledakan.

            Kepala Veldaroth sudah meledak dalam ledakan itu, tapi tubuhnya yang tersisa masih tetap berdiri. Pedang Wynn bergerak melintasi lebarnya tubuh itu.


⟵Back         Main          Next⟶





Related Posts

Yuusha-sama no Oshishou-sama Chapter 55 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh

3 komentar