Thursday, July 11, 2019

Hajimari no Mahoutsukai Volume 02 Chapter 03 Bahasa Indonesia



Chapter 03 – Warisan


Tombak, itulah senjata yang pas untuk berburu binatang buas. Gagang panjangnya membuatmu bisa menyerang sambil kabur.

Kapak, senjata yang pas untuk membunuh musuh. Bilah beratnya mampu memotong dan membelah zirah yang kukuh.

Namun, pilihan mereka bukanlah keduanya—



            Violet adalah seorang prajurit Elf yang namanya diambil dari bunga violet itu sendiri, dan memanfaatkan duri-durinya untuk bertarung. Kali pertama aku bersua dengannya adalah sebagai lawan tanding dari pihak pengawal Tetua. Namun, kini kami acap kali bertemu sebagai teman baik.

            "Gara-gara kamu, belakangan ini dia kurang kerjaan."

            "Aku?"

            Ultramarine angkat bicara seberpisahnya kami dengan Pea Green.

            "Manusia Kadal, Raksasa, selama seratus tahun terakhir ini mereka semua tidak memberontak. Padahal, sudah menjadi tugas Violet lah untuk membungkam mereka. Alhasil, kini dia kurang kerjaan."

            "Yah… damai lebih baik."

            Manusia Kadal dan Raksasa merupakan bangsa doyan perang, mereka akan menyerang tanpa sebab untuk memicu peperangan.

            Scarlet juga pernah diserang beberapa kali, tetapi aku dan Nina berhasil memukul mundur mereka, yang akhirnya berhasil diajak berunding lewat kesabaran dan kegigihan yang kuat.

            "Damai, ya… kamu ini masih saja membicarakan sesuatu yang tidak kamu pahami. Ah, itu Violet."

            Sebelum sempat menanyakan apa yang tidak kupahami itu, Ultramarine melambaikan tangannya.

            "Aku sudah mendengarnya. Kemarilah."

            Ujar Violet sambil memperlihatkan rumahnya. Dia pun memandu kami ke sebuah goa yang dibuat pada pohon besar. Elf bisa tahu apa yang terjadi di dalam hutan dengan mendengarkan desiran pepohonan. Jadi, dia sepertinya sudah tahu maksud kedatangan kami.

            "Kamu ingin diajari cara menggunakan pedang, benar begitu?"

            "Ya, benar…."

            Mengetahui Violet orangnya tanpa basa-basi dari Ultramarine sebelumnya, aku langsung mengutarakan saja apa yang ada dalam benakku.

            "Kalau Violet tidak keberatan, maukah kau sendiri datang ke desa kami?"

            "Aku….?"

            Violet mengedipkan matanya karena terkejut. Dia mungkin tidak menyangka akan mendapatkan tawaran begitu.

            "Benar. Dengan adanya kau dan Nina, kita pasti bisa mengajarkan ilmu berpedang dan sihir."

            Sekalipun kami mampu mengiris daging serapi Pea Green, aku tidak ada niatan untuk menjalankan peternakan semacam itu di Scarlet.

            Akan tetapi, mau bagaimana pun caranya tetap tidak akan mengubah fakta bahwa saat ini kami kekurangan orang terampil.

            Namun yang jelas, desa ini punya banyak anak-anak. Satu orang paling banyak harus mengajar puluhan anak-anak, sedangkan aku dan Nina saja mengajar ratusan anak-anak. Jadi jangankan untuk penelitian, kami bahkan tidak punya banyak waktu sekali pun sudah mengajar pada hari dan waktu terpisah.

            Aku sudah berunding dengan Nina untuk menambah jumlah pengajar, guna mengatasi jumlah anak-anak yang terus meningkat. Dan Violet lah kandidat terkuat.

            "… Aku memang tertarik dengan sekolahmu, Mentor."

            Jawab Violet usai sempat berpikir sejenak.

            "Tetapi, sebagai penjaga hutan ini, aku tidak bisa meninggalkannya."

            "Memang benar, tetapi bukannya kamu kalah dari si Monyet Beruang?"

            Ultramarine ikut nimbrung untuk menyadarkannya, tetapi Violet hanya mengangguk tanpa terpengaruh.

            "Aku bisa mendapatkan izin jikalau sekadar memperoleh kekuatan tersebut. Namun, beberapa abad sudah berlalu semenjak masa itu. Aku pun sadar akan jangkah hidup manusia yang pendek. Anak itu juga sudah mati, ‘kan?"

            "… Ya."

            Anggukku sambil menggenggam hiasan batu yang tergantung di leherku. Hingga sekarang pun, aku serasa ingin menangis tiap kali teringat masa-masa itu.

            "Padahal kamu ini tidak punya banyak kerjaan, ‘kan?"

            "Bukan itu masalahnya."

            Violet menggelengkan kepalanya terhadap pertanyaan Ultramarine.

            "Kamu bisa bawa Ultramarine saja."

            "Meski aku sama sekali tidak mau?"

            Walaupun Ultramarine mendesak Violet, dia sendiri langsung menolak begitu dirinya yang ditunjuk. Yah, memang gadis semacam itulah dia. Lagian, dia tidak terlihat pantas untuk menjadi guru… oh iya, aku bahkan belum pernah lihat Ultramarine menggunakan sihirnya, ‘kan?

            "Aku tidak keberatan mengajarimu cara menggunakan pedang bila kamu datang ke mari, sih."

            "Terima kasih. Akan kuterima tawaranmu jikalau nanti ada kesempatan."

            Aku bangkit dari kursi dan membungkuk padanya. Namun, aku sendiri bahkan tidak yakin apa memang memerlukannya. Bagiku, setidaknya lebih baik bertarung dengan menggunakan gigi dan cakar ketimbang mengandalkan pedang.

            "Aku sungguh tidak mengerti…."

            Begitu aku hendak pulang, Yuuki angkat bicara.

            "Kalau semisal aku lebih kuat darimu, Violet akan menjadi guru?"

            "… Aku tahu betul Mentor itu kuat. Aku mungkin bukanlah tandingan dia dalam wujud aslinya… akan tetapi."

            Violet memperlihatkan kemampuannya, dan duri-duri pun tumbuh dari tangannya, membentuk pedang.

            "Inilah kekuatanku bawaan sejak lahir. Naga bahkan jauh lebih kuat. Namun, bukan itulah yang kuinginkan. Pedang merupakan suatu keterampilan, sesuatu yang dilatih dan disempurnakan setelah terlahir. Itulah yang kukejar, Nak."

            Darg pun sama. Akan tetapi, dia bisa unggul dari Violet karena belajar sihir dariku. Dia akan kalah jikalau bertarung sebelum bertemu denganku.

            "Ya! Kalau begitu—"

            Yuuki menghunus pedang yang tersarung di pinggangnya. Apa yang tersarung dalam sarung kulit serigala-singa tersebut adalah bilah pedang yang terbuat dari kayu dengan batu sebagai tepiannya. Bukan tombak ataupun kapak, melainkan pedang. Kami memanggil keluarganya dengan sebutan Klan Pedang.

            "Kalau aku menang, kau akan ikut?"

            Violet memicingkan matanya terhadap ucapan Yuuki. Senyumannya tampak sirna, memandang Yuuki dari atas hingga bawah.

            Dalam perihal ketinggian, tinggi Yuuki hanya sedadanya Violet. Mengingat bahwa Yuuki masih anak-anak, Violet menoleh padaku seakan memastikan pikiranku.

            Apa Nina sudah menduga akan menjadi begini? Awalnya aku mau pergi seorang diri, tetapi dia menyuruhku untuk membawa Yuuki. Mungkin hanya inilah pilihan terakhirnya.

            "Sebisa mungkin jangan sampai terluka."

            Ujarku pada keduanya.

            "Yuuki ini kuat."

***

            Keduanya mengambil kuda-kuda dan saling berhadapan sambil menggenggam pedang masing-masing. Violet memegang perisai yang tersusun dari duri-duri serta tangkai yang kecil dan tajam berbentuk pedang. Sementara Yuuki, memegang pedang kayu satu-tangan yang disisipkan batu. Keduanya tampak mirip, sekali pun perawakan dan senjatanya jauh berbeda.




            "Nah, tarik kembalilah pedangmu begitu yakin pemenangnya telah diputuskan. Terutama kamu, Yuuki, mengerti?"

            "Ya!"

            Aku masih tetap cemas, sekali pun Yuuki mengangguk dengan penuh semangat. Namun, mana bisa aku menghentikan mereka sekarang karena sudah mengakui pertandingan ini.

            "Kalau begitu… mulai!"

            Violet lah yang pertama kali bergerak usai pertanda dariku. Dia melancarkan tusukkan secepat kilat sejauh rentangan tangannya. Memperkecil jarak dalam sekejap mata dari Yuuki yang merasa aman, dia pun mengincar tangan Yuuki.

            "Aku ini cepat!"

            Di saat-saat tersebut, tubuh Yuuki pun lenyap dan hanya meninggalkan suaranya saja. Namun, Violet langsung bisa menemukannya lagi selang sepersepuluh detik berikutnya. Elf takkan pernah kehilangan jejak musuh mereka di dalam hutannya sendiri.

            "Aku ini kukuh!”

            Yuuki menangkis serangan yang dilancarkan padanya dengan tangan kosong. Serangan yang bahkan bisa membuat lubang menganga pada pohon tebal pun, terdengar seperti terpental bongkahan batu pas ditangkis.

            "Aku ini kuat!"

            Lalu, tebasan kilat pun mengayun lurus ke tenggorokan Violet. Namun, berkat instingnya, Violet berhasil menangkisnya dengan mengangkat perisainya cepat-cepat. Bilah batu pun dengan gampangnya memotong separuh atas perisai durinya.

            "Kuh…!"

            Dia sepertinya sadar gadis kecil ini bukan lawan yang bisa diremehkan. Seolah merupakan bagian tubuhnya sendiri, zirah duri mulai melindungi seluruh tubuh Violet saat melompat mundur.

            Akan tetapi, itu langkah yang kurang tepat baginya.

            "Lambat!"

            Pergerakan lambat Violet terlihat jelas saat Yuuki berteriak begitu.

            "Kau lambat! Kau lemah!"

            Violet berusaha melancarkan serangan lain, tetapi kakinya lemas dan kuda-kudanya pun hancur.

            "Cahaya! Jadilah perenggut segalanya dan potonglah!"

            Bilah pedang Yuuki mulai diselimuti cahaya yang menyerupai kilatan petir.

            "Sudah cukup!"

            Begitu aku berteriak, bilah pedang Yuuki yang bersinar membelah dua pedang duri Violet dan terhenti begitu menembus helmnya.

            … Selalu saja bengis. Usai memperkuat dirinya dan melemahkan lawannya, dia pun memperkuat senjatanya supaya lawan tidak bisa menghindari ataupun menghalaunya. Daya serangannya sendiri sudah cukup untuk membunuh beruang berzirah dalam satu serangan. Memang terlihat sederhana, tetapi itu teknik kelas tinggi yang sulit untuk dilakukan oleh anak berusia sembilan tahun.

            "Itu… yang barusan itu, belajar dari siapa kamu?"

            Tanya Violet pada Yuuki dengan tampang terkejut.

            "Ayahku!"

            Violet tampak terkejut mendengar tanggapan Yuuki. Meski perawakan dan wajahnya jauh berbeda, rambut dan mata merahnya sama.

            "Ayah belajar dari kakek, dan kakek belajar dari kakek buyut. Kami senantiasa mengajarkan teknik berpedang!"

            Ahli pedang, itulah hadiah terakhirku untuk Darg. Sejauh yang kuketahui, inilah nama keluarga pertama di dunia.

            "Tetapi… gaya bertarungmu jauh berbeda dari miliknya."

            Suara Violet gemetar.

            Sesuai apa katanya, gaya bertarung Darg jauh lebih bergairah dan dinamis. Sekalipun sihir penguatan mereka sama, cara penggunaan pedang dan pergerakan tubuh mereka sama sekali berbeda.

            "Ya. Leluhur kami lah yang menciptakan sihir itu, tetapi cara kami menggunakan pedang berbeda."

            Tidak semua keturunan Darg mempunyai tubuh yang kuat seperti dirinya, sehingga Darg pun menghancurkan bilah pedang batu karangnya menjadi lebih kecil. Dan dia menemukan cara bertarung yang sesuai untuk pedang yang lebih kecil dan ringan.

            "Kami meniru teknik berpedang orang yang sangaaat kuat, yang dijumpainya di hutan."

            Dia membicarakan kisah yang diturun-temurunkan Klan Ahli Pedang, kisah petualangannya bersama naga, Elf, dan seorang gadis.

            "Jadi aku sangat senang sekali bisa bertarung denganmu, Violet!"

            Yuuki bicara riang dengan matanya yang dipenuhi kesenangan.

            "… Aku pengin lihat masa depan pedangku dan kekuatan anak ini kelak nanti."

            Menyeka sudut matanya dengan jarinya, sikap Violet berubah.

            "Artinya…."

            "Ya, izinkan diriku masuk ke sekolah Mentor… kalau Tetua mengizinkan."

            Tambahan kata-kata terakhirnya membuatku mengeluh. Lagian, dia juga tidak bisa memutuskannya sendiri, ya? Kurasa aku memang harus mendapatkan izin Tetua.

            "Baiklah."

            Melihat muka masamku, Violet tersenyum untuk menenangkanku.

            "Beliau pasti takkan menolakku—"

            Aku dan Yuuki memiringkan kepala melihat senyuman penuh maknanya.


⟵Back         Main          Next⟶

Related Posts

Hajimari no Mahoutsukai Volume 02 Chapter 03 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh