Thursday, June 14, 2018

Hajimari no Mahoutsukai - Volume 01 - Chapter 16 Bahasa Indonesia






Chapter 16 – Si Naga Pengecut


Sama halnya aku yang bisa melihat apa yang tak bisa kulihat,

ada juga hal-hal yang tidak bisa kuperbuat.



Apa yang akan diperbuatnya sekarang?

[Aku menyerah. Ini kekalahanku!]

Aku tak yakin mesti berbuat apa saat berdiri di hadapan Darg yang menjatuhkan kepalanya ke depan dan meletakkan kedua tangannya di tanah.

Aku harus membunuhnya sekarang juga jikalau aku ingin menyingkirkan kecemasanku agar tak terpedaya lagi di masa mendatang.

Tapi, memangnya aku sanggup membunuh orang? Rasanya aku tidak sanggup, deh.

Kalau memang bisa, aku akan melenyapkannya dengan serangan itu.

Sekalipun aku murka, pada akhirnya aku tetap saja memelesetkan serangannya.

Ai dan Nina juga tidak terluka, begitupun dengan Guy dan yang lainnya; biarpun mereka sedikit terluka, tapi tidak sampai mengancam nyawa mereka. Seandainya terjadi sesuatu pada mereka atau gadis-gadis lainnya, mungkin aku sudah menghabisinya dengan amarahku.

Akan tetapi, tak ada seorang pun yang mengalami luka fatal dan aku pun sudah tak mungkin melakukan sesuatu seperti itu karena sudah tenang begini.

Dan yang terpenting, aku sungguh tak ingin membunuh seseorang di hadapan Ai.

Ini bukanlah sesuatu yang bisa kulakukan, apalagi sebagai gurunya. Inilah yang sangat kuyakini.

[.... Baiklah. Itu sudah cukup.]

[Cukup.....?]

Ucap Darg dengan sangat berhati-hati saat mendongak padaku.

Kurasa dia tak tahu menahu arti dari sujud itu sendiri, tapi entah itu posturnya atau suasana hatiku saat ini sangat tidak baik.

[Selama kau tak berbuat seperti ini lagi, akan kuabaikan apa yang terjadi saat ini.]

Saat kuberkata begitu, Darg menatapku dengan bingung.

[Mengabaikan....? Apa maksudnya?]

[Jikalau kau tak macam-macam lagi, aku pun takkan berbuat apa pun lagi.]

[Kau takkan membunuhku, dan kau juga takkan mengambil wanitanya.]

[Betul.]

Nampaknya, itu cara berpikir yang sulit dipahami Darg.

Dia terus mengedipkan matanya dan memiringkan kepalanya bolak-balik.

[Aku tak paham. Memang apa untungnya kau melakukan itu?]

[Tidak ada. Aku hanya ingin percaya bahwa mengambil sesuatu dari orang lain adalah hal yang tak pantas untuk dilakukan.]

[Apa......]

Darg yang bingung dan keheranan pun bicara dengan tampang aneh di wajahnya.

[Apa kau tak sempat memikirkan kemungkinan kalau aku akan menyerang kalian lagi?]

[Kalau kau memang ingin mati, aku tak keberatan kok mengabulkan keinginanmu.]

[Tunggu! Bukan begitu maksudku!]

Saat kuambil langkah tegas dan berkata begitu, Darg pun menjabat tangannya selagi mundur dengan panik.

[Baguslah. Jikalau kau memang menyesali apa yang sudah kau perbuat dan melanggar janji ini, kau takkan punya kesempatan lain.]

Benar, aku ini mungkin naif.

Kuakui juga kalau aku ini pengecut.

Tapi ini juga karena Darg tak melanggar aturan akhirku.

[Dan kalau itu terjadi, akan kubuat kau menyesal karena terlahir di dunia ini.]

Aku tak sepenuhnya berniat begitu, tapi api pun keluar bersamaan dengan ucapanku.

Jikalau dia melawanku dan menyerang lagi, tak ada alasan bagiku untuk memaafkannya.

Malah, kalau dia melakukannya, aku takkan menahan diri sedikit pun.

Aku penasaran, apa dia memahami kata-kataku yang berbobot ini?

Darg tak berbuat apa pun selain menatap wajahku, membelalakkan matanya.

Dia pun tiba-tiba berdiri, dan perlahan mendekatiku.

Begitu aku mulai bertanya-tanya apa dia sebenarnya ingin lanjut bertarung, itu  pun terjadi.

[Abang!]

Ucap Darg yang tiba-tiba menggenggam tanganku.

[Boleh aku memanggilmu Abang?!]

[..... Hah?]

Kata dalam Bahasa Elf tersebut bukan menyatakan kerabat.

Dia memakai kata yang menyatakan rasa hormat secara pribadi, semacam panggilan khusus.

[Hingga kini, aku tak pernah menyangka akan ada orang yang lebih kuat dariku. Karena aku ini kuat, jadinya aku yakin siapa pun yang kuambil takkan masalah. Karena itulah sekarang aku kalah, sudah sewajarnya bagimu, yang lebih kuat dariku, untuk merenggut nyawaku.]

Matanya bersinar, Darg pun melanjutkan bicaranya dengan penuh semangat.

[Tapi.... kau ini berbeda. Meskipun kau benar-benar kuat, kau bahkan tidak mencuri. Bahkan tanpa melakukan itu pun, kau tetap hidup. Kau begitu percaya diri hingga tidak khawatir untuk membiarkan musuhmu bebas!]

[Ya-Yah.... begitu, ya....?]

Terus terang saja, kurasa itu adalah sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang bodoh pecinta damai, tapi dia juga tak sepenuhnya salah dengan pemahaman positifnya mengenai hal itu.

[Aku ingin jadi sekuat dirimu. Jadi, bolehkah aku memanggilmu Abang?]

[Uhh, panggil saja sesukamu.......]

Ucapku, tapi aku hanya menjawab begitu karena aku masih curiga, bisa saja ini adalah tipuannya supaya membuat keswaspadaanku terhadapnya menurun.

[Benarkah?! Terima kasih!]

Darg loncat dengan gembira, nampak seperti anak kecil.

Melihatnya yang begitu, aku pun tiba-tiba teringat sesuatu.

[Seseorang yang selalu berada di sisimu, namun tak bisa dilihat dengan kasat mata. Dengan duri-duri yang tak ada helaian mahkota bunga dan dengan taring-taring yang tak ada mulut, musuhku akan menjadi sekutuku. Maukah kau berjanji untuk menjadi orang tersebut.]

[Eng? Apa maksudmu?]

Tak mampu memahami maksud dari mantera yang kuucapkan dalam Bahasa Elf, Darg pun memiringkan kepalanya ke samping.

[Aku tanya apa kau mau bersumpah untuk tak melawan kami lagi.]

 [Oh, tentu saja. Aku takkan pernah melawan Abang lagi!]

Angguknya dengan sungguh-sungguh, namun tak ada perubahan apa pun yang terlihat.

.... Sial. Aku mengimprovisasikan mantera dan lupa untuk memasukkan sesuatu ke dalam mantera tersebut agar aku bisa memastikan apakah itu berhasil atau tidak.

[Coba pukul aku?]

[Eh? Kenapa?]

[Sudah, lakukan saja.]

Dia pun benar-benar kebingungan saat aku menyuruhnya untuk memukulku usai dia berkata tidak akan melawanku, jadi dia pun menatapku dengan ragu sembari mengayunkan tinjunya.

[Gah?!]

            "Guh!"

Bersamaan dengan benturan yang pelan, kami berdua pun mengerang kesakitan.

.... Rasanya jauh lebih menyakitkan dari yang kukira.

Kupikir dia takkan sanggup melukaiku tanpa pedangnya, tapi bukan itu masalahnya. Pipiku mulai berdenyut, rasa sakit datang dan pergi layaknya ayunan bandul.

[Apaan ini?! Tubuhku terasa sakit sekali!]

Nampaknya sihir itu berhasil.

Apa yang kubayangkan ini adalah penangkal rasa sakit untuk menyerang kami, sesuatu yang akan aktif tiap kali dia mencoba melakukannya.

[Kayaknya berhasil. Sihir tersebut akan menyakitimu seperti itu tiap kali kau menyerang kami, jadi berhati-hatilah.]

[Tidak masalah, sih.... tapi apa aku memang harus sampai memukulmu? Bahkan sebelum mengayunkan tinju pun rasanya sudah sakit.]

Dia masih tetap bisa memukulku meski terasa sakit? Sungguh tekad yang mengagumkan.

[Aku membuatmu merasa sakit untuk mengujinya, jadi kurasa aku juga pantas merasakannya.]

Saat kumenjawab begitu padanya, Darg pun tertawa terbahak-bahak.

[Haha, kita ini memang bukan musuh, ahahahaha.]

Itu adalah tawa tulus yang tak dinodai dengan ejekan.

***

            "Siap? Pegangan yang erat."

            "Baik."

Aku merasakan salah satu duri dipunggungku yang dipegang erat oleh Ai.

Aku tahu itu disentuh, tapi aku tak terlalu bisa merasakannya karena hampir serupa dengan rambut.

Aku merasa bersyukur sekaligus sedih akan kenyataan tersebut.

            "Apa lagi yang kau tunggu? Jangan banyak lama, ayo cepat pergi!"

            "Tunggu, aku ini tidak bisa bergerak selincah kau."

Aku melebarkan sayapku saat menanggapi Nina yang tengah terbang di langit di atasku.

Mengepakkan sayap-sayapku dengan segenap tenaga, tubuhku langsung terdorong ke langit dan terlontar melewati Nina dalam sekejap mata.

            "Eh? Ah, hei, tunggu!"

            "Jangan banyak lama, ayo cepat pergi!"

Memakai kata-katanya sendiri dengan nada bercanda, aku mengepakkan sayapku sekali  lagi dan memperlebar jarak yang teramat jauh di antara kami. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku terbang berdampingan dengan Nina.

            "Ai, apa kau baik-baik saja? Ini tidak terlalu menakutkan, ‘kan?"

            "Aku baik-baik saja."

—Ini juga kali pertamanya aku terbang dengan orang selain Nina di punggungku.

            "..... Maafkan aku karena membuatmu takut."

            "Eh? Tapi aku tidak takut?"

Kugelengkan kepalaku saat mendengar tanggapan Ai yang merasa bingung.

            "Bukan begitu. Karena kesalahanku, kau sampai harus mengalami kejadian yang mengerikan."

Aku memberitahukan segalanya.

Bahwa aku menuruti Darg dan mengikutinya ke desanya.

Bahwa aku mabuk karena minuman keras dan ketiduran.

Bahwa dia mengejekku karena sikapku yang lemah.

Masing-masing dari tindakan tersebut, semuanya adalah tanggung jawabku.

            "Tapi aku, aku tidak takut."

Ai mengulang kembali perkataannya sendiri dengan nada lembut.

            "Karena aku yakin Mentor akan datang untuk menyelamatkan kami."

            "Kau berpikir begitu usai mengetahui hasilnya....."

Biarpun pada akhirnya berjalan dengan baik, dia mungkin sudah mengalami sesuatu yang mengerikan jikalau aku membuat satu kesalahan saja.

Tepat saat itu, Ai terkikik-kikik.

            "Ai.....?"

            "Maaf, habisnya lucu."

Sembari menahan tawanya, dia melanjutkan.

            "Karena, Mentor. Bukankah sihir adalah sesuatu yang menciptakan hasil yang kau inginkan secara langsung?"

Kata-kata Ai mengejutkanku.

Memang tepat seperti yang dia katakan.

Jikalau gabungan api dengan oksigen yang menyebabkan panas dan cahaya adalah sains, maka sihir adalah sesuatu yang hanya menghasilkan panas dan cahaya yang serupa dari ketiadaan.

            "Itulah sebabnya hasil ini pasti akan terjadi."

Ai terus melanjutkan, berbicara dengan bangga.

            "Lagi pula, Mentorku adalah Ahli Sihir nomor wahid di dunia!"

.           ".... Kau terlalu melebih-lebihkanku. Aku tak sehebat itu."

            "Tidak!"

Ai membantahku dengan nada yang tak membuatku bisa membalasnya.

            "Tidak ada orang yang lebih kuat, baik, atau mengagumkan dari Mentor."

Ini adalah sesuatu yang membuatku gelisah.

            "Meski aku ini bukan orang, ya?"

Melakukan lelucon untuk menyembunyikan rasa maluku, Ai menempatkan segenap kekuatannya untuk memeluk duri pada punggungku.

            "Biarpun begitu, Mentor, lebih dari siapa pun, aku—"

Pada saat itu, angin tiba-tiba berhembus.

Suara udara yang bertiup melewati kami pun membenamkan suara Ai.

            "Maaf. Apa barusan kau bilang sesuatu?"

Tanyaku seperti itu.

            "..... Tidak."

Dan Ai pun menjawab begitu.

            "Bukan apa-apa."

Dia hanya menggelengkan kepalanya.

Ahh.....

—Aku ini beneran pengecut.

⟵Back         Main          Next⟶



Related Posts

Hajimari no Mahoutsukai - Volume 01 - Chapter 16 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh