Tuesday, June 19, 2018

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 23 Bahasa Indonesia


Chapter 23 – Ia yang Dihidupkan Kembali Dari Kematian ①




            "Kita masih belum sampai juga di lantai terakhir?"

Keluh Tamaki saat melumat Wight Lancer yang menghampirinya dengan menggunakan batu kerikil es-nya.

            "Berhenti mengeluh dan lanjutkan saja tugasmu, Tameng."

Karena itulah aku memutuskan untuk mendesaknya agar terus bekerja keras.

            "Jangan memanggilku begitu! Bisa-bisanya kau memperlakukanku begitu.... stamina-ku ini hanya tinggal tiga ratus lagi!"

            "Tidak apa-apa kok. Masih ada banyak hal yang bisa kau perbuat dalam tiga menit, ‘kan? Seperti mengalahkan monster kayak Light Giant itu."

            "Kau juga bisa menyuruhnya untuk menunggu selama tiga menit."

            "Shuri?! Bukannya aku bakalan mati kalau dia melakukannya?!"

            "Yui. Sudah aku bilang, lebih sopanlah sama Daichi."

Shuri dengan handalnya mengendalikan topik layaknya itu bukanlah apa-apa.

            "Tapi... Coba dipikir-pikir lagi deh, Shuri. Dia Katsuragi yang itu, lo? Si kikuk, gendut, licik, dan kutu buku. Aku terus-terusan mencoba mencari tahu apa yang tengah terjadi, tapi Shuri, kau pasti bisa menemukan seseorang yang—"

            "Yui."

Sela Shuri pada Tamaki yang nada suaranya lebih serius ketimbang biasanya. Nada suaranya jelas menyimpan kemarahan.

            "A-Apa?"

            "Kau itu tidak tahu apa-apa soal kebaikan, kekuatan, dan juga penderitaannya Katsuragi. Tidak ada satu pun dari kita, bahkan aku sendiri, yang tengah berusaha untuk lebih mengenal Katsuragi."

            "Itu...."

            "Sekalipun Katsuragi terlihat kembali ke diri dia yang biasanya, aku yakin perasaanku padanya ini tidak akan berubah. Bukan berarti aku ingin menebus apa pun. Ini perasaanku sesungguhnya. Aku mencintai Katsuragi."

Shuri menghampiriku dan menguncikan lengannya pada lenganku. Ekspresinya terlihat sangat senang. Karenanya, Tamaki pun tak sanggup membalas apa pun.

            "Makanya, aku takkan memaafkanmu kalau terus-terusan bica buruk soal dia."

Tatapan tajamnya Shuri menusuk Tamaki.

            "Aku sungguh tidak akan memaafkanmu."

Dia mengulang kembali perkataannya sendiri, namun kali ini lebih memaksa.

            "........."

Tamaki pun tetap terdiam dengan menutup mulutnya. Dia mungkin mulai menyadari seberapa kuatnya perasaan Shuri.

Dan itu lebih kuat ketimbang perasaan persahabatannya dengan Tamaki.

..... Maksudku, itu bahkan sampai membuatku merasa malu.

            "......"

Semuanya pun jadi terdiam dan suasananya mulai menjadi canggung. Akan bagus kalau ini tidak akan memengaruhi kerja sama tim kami dalam pertarungan melawan Fantra nantinya.

..... yah, kalau memang mendesak, aku tinggal menggunakan Absolute Command saja padanya.

            ".... Maaf, Shuri. Aku masih gagal paham."

Ucapnya, Tamaki pun langsung kembali membasmi monster-monster, dan memulai kembali penaklukan dungeon kami.

Untuk pertama kalinya semenjak datang ke sini, awan gelap nampak menggantung di atas kami.

.......

            "Sampe juga di lantai tujuh puluh."

Gumamku dengan perasaan yang campur aduk. Rigal Den berjumlah enam puluh lantai, jadi inilah pertama kalinya aku pergi sedalam ini.

Ruangan bertangga untuk lantai ini cukup mudah ditemukan.

Bagaimanapun juga, mana­-nya Fantra mengalir keluar dari ruangan bertangga tersebut. Mana miliknya amat kuat hingga tidak kalah dengan mana kristal.

Bisa dibilang bahwa kepadatan mana miliknya teramat hebat, dan Leadred pun terlihat setuju.

Dengan dipimpin olehnya, kami pun menemukan sepasang pintu dengan desain yang teramat beda dengan pintu-pintu yang sebelumnya. Pintu tersebut benar-benar terlihat seperti sepasang pintu modern.

Bahkan ada gagang pintunya.

Aku ingin tahu sebenarnya ada apa.

            ".... Hei, Leadred."

            "Ada apa?"

            "Si Fantra ini, kau bilang dia itu ahli siasat, ‘kan?"

            "Ya, benar."

            "Terus ada apa dengan pintu-pintu ini?"

Leadred pun duduk, menempatkan tangan pada kepalanya. Kelihatannya dia juga tak mengira hal ini.
Memberitahukan posisimu pada musuh biasanya bukanlah ide yang sangat bagus.

Aku bahkan mulai berpikir bahwa mungkin saja para iblis kalah perang karena strateginya Fantra.

            ".... Bisa kita cepat-cepat? Aku ingin kembali ke permukaan secepat mungkin?"

            ".... Bukannya kau ini seorang pahlawan?"

            "Aduh, ayolah. Mana mungkin aku bisa melakukan ini semua sekaligus. Selain itu, kau mungkin bisa mengalahkannya sendirian dengan kekuatanmu itu, ‘kan? Bahkan sekali pun kau mati, kau masih bisa hidup lagi."

            "Yui."

            "Maksudku, bukannya lebih baik untuk meminta Shuri untuk mengawasi semua yang kau lakukan juga, Katsuragi? Dengan begitu, kau bisa berbuat apa pun tanpa perlu mengkhawatirkannya."

            "Aku tak memintamu untuk ikut campur, Yui."

            "Shuri, aku hanya mempedulikan keselamatanmu. Membuatmu menyerah terhadap Katsuragi akan membuatku cukup senang hingga melompat-lompat kegirangan."

            "Aku ingin berada di samping Daichi selamanya. Aku takkan menyesali keputusanku sekali pun kelemahankulah yang menyebabkan kematianku."

            "Apa dia yang memaksmu berkata begitu? Shuri, tingkahmu ini bener-bener aneh, deh."

            "Aku tahu, tapi aku sudah tak peduli lagi. Takkan kubiarkan siapa pun menghentikanku. Aku akan melakukan apa yang kuinginkan. Selain itu, bukannya aku sudah memberitahumu?"

Shuri mengacungkan belatinya pada Tamaki.

            "Kalau aku takkan memaafkanmu jika kau menghina Daichi lagi."

Mereka saling menatap dengan perasaan yang saling bertentangan..... Ini gawat.

            "Shuri."

            "Sudah, biarkan saja."

Aku menyambar tangan Shuri, dan Leadred menempatkan ujung pedang perangnya ke tengkuknya Tamaki untuk meredam situasinya.

            "Sekarang bukan waktunya untuk bertengkar begini. Jangan pedulikan apa yang dia katakan soalku. Selain itu, aku tak ingin kau mengotori tanganmu karena hal yang sepele."

            "..... Baiklah."

Ucap Shuri, dan ia pun dengan enggan menarik diri.

Aku sudah tak tertarik lagi pada Tamaki. Seandainya ia mati saat bertarung, tak apa, dan kalaupun ia hidup juga tak apa.

Kalau aku bisa memanfaatkannya, itu juga bagus.

Aku menggunakan Absolute Command pada Tamaki untuk memaksnya diam, lalu aku pun memegang pegangan pintunya.

            "Tamaki, kau akan menjadi ujung tombak serangan kita. Kedengerannya bagus, ‘kan?"

            "......"

Dia menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan panik.

Ia pun menyiapkan Freezing Lance di tangan kanannya. Leadred tengah bersiaga di sebelah kirinya. Shuri dan aku akan melompat segera setelah ia membukakan pintunya, disusul oleh Tamaki yang meluncurkan Freezing Lance-nya. Begitulah rencananya.

            "Paling buruk, apa kalian siap mati?"

Mereka bertiga pun mengangguk. Melihat itu, aku pun mulai hitung mundur.

            "Tiga, dua, satu—ayo!"

Mendorong kedua pintu, mereka membukakan pintunya ke bagian dalam. Melihat itu, kami semua pun melompat masuk.

Namun di dalam, terdapat suatu masalah dengan lantainya.

Itu, tidak ada di sana.

            "Eh.....?"

            "Tidak mungkin....."

            "Ap.....?!"

            "——?!"

            """Uaaaaah?!"""

Tanpa tempat berpijak, kami semua pun berteriak sekencang yang kami bisa. Kami tak bisa melihat dasarnya karena sangat gelap.

            "Shining!"

Cahaya pun menerangi area tersebut, namun lubangnya tampak tiada ujungnya.

            "Semuanya, saling berpeganganlah!"

Kami semua pun saling meraih tangan siapa saja yang ada di sebelah kami hingga membentuk lingkaran agar tak terpencar.

Kami terus terjatuh hingga beberapa saat, namun akhirnya kami pun bisa melihat dasarnya.

—Tanah yang dipenuhi dengan jarum-jarum yang terbuat dari kristal yang serupa dengan yang kami lihat sejauh ini.

            "Ayolaaaaaaaaah?!"

Kami semua pasti akan pupus jikalau menghantam jarum-jarum kristal tersebut. Namun beruntungnya, jarum-jarum kristal tersebut terbuat dari es.

            "Leadred."

Melepaskan tanganku dan tangannya Shuri, ia pun menendang tembok untuk sedikit menjauh dari kami supaya apa yang akan dilakukannya takkan melukai kami.

Ia mulai melafalkan mantera sihir yang akan mengeluarkan kita dalam keadaan berbahaya.

            "Wahai kaisar api. Bakar habislah semua yang menghalangi jalanku. Jangan biarkan apa pun berdiri, pangkaslah semuanya jadi abu."

Cahaya merah berputar-putar di sekitar lengan kanannya Leadred sebelum berubah jadi lilitan api yang akan membakar segalanya.

            "Pillar of Prominence."

Kobaran api melahap es. Hanya dalam sesaat, semua jarum-jarum es pun lenyap.

            "Berserk Tempest!"

Aku menggunakan Berserk Tempest, sihir yang setingkat lebih tinggi dari yang Leadred gunakan, untuk memadamkan kobaran apinya.

Dengan bahaya yang sudah ditangani, Leadred pun mengangkat tangannya untuk berjungkir balik ke depan dan menahan hembusannya.

            "Tameng! Lunakkan jatuhnya Shuri!"

            "Baik!"

Aku meniru Leadred dan berhasil mendarat. Tamaki yang melakukan upaya terbaiknya untuk melindungi Shuri pun membuatnya tak terluka.

Pada akhirnya si Tameng juga mungkin senang karena bisa menolong Shuri.

            "Shu-Shuri. Kau tidak terluka? Kau baik-baik saja?"

            "Y-Ya. Kelihatannya begitu. Yui sendiri bagaimana?"

            "Aku menghentikan momentum kita dengan membuat lapisan-lapisan es di bawah kita sebelum menyentuh tanah, jadi aku baik-baik saja. Syukurlah kau tak terluka."

Tamaki tersenyum tulus.

Padahal, dia bohong. Dia tidak berhasil menghilangkan dampak jatuh dirinya dengan es. Aku melihatnya yang kesakitan saat dia mendarat.

Shuri juga seharusnya sudah menyadarinya.

Karena itulah dia mengulurkan tangannya ke Tamaki untuk membantunya berdiri.

Bahkan aku pun sadar kalau aku merasa iri melihat mereka yang seperti itu.

Mungkin aku harus mempertahankan Tamaki daripada membuangnya karena aku ingin melihat hubungan-hubungan yang seperti itu?

Aku ingin punya teman lelaki yang seperti itu suatu saat nanti. Meskipun sudah pasti bahwa Samejima atau teman-teman sekelasku tidak mungkin.

Leadread ya Leadred, tapi tetap saja dia itu wanita.

            "Baguslah kalau kau selamat. Nah, sekarang mari kita ungkap orang yang membuat perangkap ini."


⟵Back         Main          Next⟶



Related Posts

The Forsaken Hero - Volume 01 - Chapter 23 Bahasa Indonesia
4/ 5
Oleh

3 komentar

June 19, 2018 at 10:03 AM delete

Thanks for the chapter Uebu Novel :)
Sep yg ditunggu mncul jga, meski dah baca engnya (baru smpe chap 25 sih) ttep aja pngen Indo ver. nya ditungguin selalu ea updatenya nya termasuk neh novel apalagi Vol.1 di Eng Zirus Musings dah beres :3

Reply
avatar
June 20, 2018 at 4:57 PM delete

lanjutkan gan, TL-an disini mantap sangat, n sangkyu dah update

Reply
avatar